Ekonomi

New Policy: Fesyar Kawasan Timur Indonesia 2026 Bidik Transaksi Rp 12,5 Miliar

New Policy: Fesyar KTI 2026 Targetkan Transaksi Rp 12,5 Miliar New Policy - Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat kembali menjadi pusat perhatian dalam dunia

Desk Ekonomi
Published Juli 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy: Fesyar KTI 2026 Targetkan Transaksi Rp 12,5 Miliar

New Policy – Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat kembali menjadi pusat perhatian dalam dunia ekonomi syariah nasional. Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (Fesyar KTI) 2026 resmi dibuka di Lombok Epicentrum Mall pada hari Jumat, 10 Juli 2026. Acara bergengsi ini diselenggarakan dengan visi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di wilayah timur Indonesia. Bank Indonesia sebagai penyelenggara utama telah menetapkan target ambisius terkait nilai transaksi yang akan dicapai selama festival berlangsung.

Sebagai bagian dari New Policy yang diterapkan, panitia menargetkan total transaksi mencapai Rp 12,5 miliar. Angka ini terdiri dari dua komponen utama, yakni investasi melalui business matching senilai Rp 11 miliar dan penjualan produk UMKM sebesar Rp 1,5 miliar. Strategi ini dirancang untuk memastikan festival tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga menghasilkan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal. Melalui pendekatan ini, diharapkan terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas perdagangan syariah di kawasan timur.

Partisipasi Masif dari Seluruh Wilayah

Hario K Pamungkas, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, menjelaskan bahwa Fesyar KTI 2026 melibatkan partisipasi aktif dari 22 provinsi di Indonesia. Seluruh kegiatan dikoordinasikan oleh 19 kantor perwakilan Bank Indonesia yang tersebar di wilayah Kawasan Timur Indonesia. Sinergi antar lembaga ini menciptakan ekosistem yang solid untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah. Belasan booth pembiayaan perbankan syariah dan ratusan UMKM unggulan hadir untuk memikat pengunjung dan mendorong transaksi langsung.

“Kami tidak hanya menggelar seremonial, tetapi menyuntikkan target omzet riil untuk menguji ketangguhan pasar lokal,” ujar Hario K Pamungkas dalam sambutannya yang penuh semangat.

Festival tahun ini menghadirkan skala partisipasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari data yang tercatat, terdapat 19 booth tenant UMKM yang berpartisipasi aktif dalam pameran. Selain itu, 111 produk unggulan dipamerkan dalam Halal Mart, sementara 34 booth kuliner khas Kawasan Timur Indonesia juga hadir untuk memikat pengunjung. Tidak ketinggalan, 11 booth perbankan syariah, enam lembaga wakaf, serta empat halal center juga menjadi bagian integral dari festival ini. Semua elemen ini bekerja sinergis untuk menciptakan dampak ekonomi yang maksimal.

Ekspansi Konsep Halal Value Chain

Menurut Hario, pengembangan ekonomi syariah saat ini telah melampaui batas sektor makanan dan minuman halal saja. Konsep halal value chain telah berkembang ke berbagai sektor industri lainnya secara signifikan. Hal ini mencakup aksesori, modifikasi kendaraan, hingga layanan pembiayaan syariah yang semakin beragam. Perkembangan ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah semakin meluas dan tidak hanya berfokus pada produk konsumsi tradisional. New Policy ini sejalan dengan visi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah global.

Selain pameran UMKM, kegiatan ini juga diisi berbagai seminar dan forum ekonomi syariah yang menarik perhatian para peserta. Beberapa kegiatan yang diselenggarakan antara lain wakaf goes to campus, syariah financing forum, talkshow branding halal, halallifestyle, modest fashion, hingga flagship economic forum. Semua kegiatan ini dirancang untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Kawasan Timur Indonesia. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berjejaring dengan para ahli di bidangnya.

Pelaksanaan festival ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan. Dengan adanya target transaksi yang jelas dan partisipasi luas dari berbagai pihak, Fesyar KTI 2026 menjadi momentum penting untuk mendorong kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi syariah. Para pelaku usaha dan konsumen diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas jaringan bisnis dan mendapatkan produk-produk berkualitas sesuai prinsip syariah. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini.

Keberhasilan penyelenggaraan festival ini juga akan menjadi indikator ketangguhan pasar lokal dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Dengan dukungan penuh dari Bank Indonesia dan berbagai stakeholder, kawasan timur Indonesia diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi syariah yang signifikan di masa depan. Implementasi New Policy ini membuka peluang baru bagi pengembangan industri halal di seluruh nusantara.

Leave a Comment