Pertamax Naik, Risiko Serius Penggunaan Pertalite pada Mesin RON Tinggi
Key Discussion – Jakarta, Beritasatu.com – Peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada Rabu, 10 Juni 2026, memicu perubahan signifikan dalam pengelolaan anggaran pengendara. Pertamax, yang memiliki RON 92, mengalami kenaikan harga hingga Rp 16.250 per liter, naik sekitar 32% dari sebelumnya Rp 12.300. Sementara Pertamax Green 95 juga mencatat peningkatan, dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Berbeda dengan kedua BBM tersebut, Pertalite (RON 90) tetap berada di harga yang sama karena mengikuti skema kebijakan pemerintah berbeda.
Perbedaan Spesifikasi Bahan Bakar
Sebelum memahami risiko teknis, penting untuk membandingkan karakteristik Pertamax dan Pertalite. Pertalite dirancang untuk mesin dengan rasio kompresi rendah, sehingga cocok untuk kendaraan konvensional. Sementara Pertamax memiliki RON 92, yang lebih tinggi, menjadikannya bahan bakar yang optimal untuk mesin modern dengan kompresi tinggi. Angka oktan yang lebih besar membuat Pertamax lebih stabil dalam kondisi suhu dan tekanan tinggi di ruang bakar, mengurangi potensi masalah teknis.
RON (Research Octane Number) mengukur kemampuan bahan bakar menahan pembakaran dini. Kondisi ini terjadi ketika campuran bahan bakar dan udara terbakar lebih awal dari percikan api busi, menghasilkan suara ketukan halus yang disebut ngelitik. Menurut American Automobile Association (AAA), penggunaan bahan bakar dengan oktan di bawah rekomendasi pabrikan bisa meningkatkan risiko fenomena ini, terutama pada mesin dengan kompresi tinggi.
“Penggunaan bahan bakar dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi dapat menyebabkan knocking atau detonasi dini, yang mengganggu efisiensi pembakaran,” kata AAA dalam penjelasan mereka.
Risiko Teknis pada Mesin RON Tinggi
Kendaraan yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar RON tinggi seperti Pertamax, secara teknis akan mengalami gangguan jika bahan bakar lebih rendah, seperti Pertalite, digunakan terus-menerus. Mesin dengan kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar yang mampu menahan tekanan panas, dan Pertalite yang RON-nya 90 tidak cukup memenuhi standar tersebut. Ini bisa memicu kerusakan mesin dalam jangka panjang, seperti erosi piston atau kerusakan pada kompresor.
Menurut laporan Federal Trade Commission (FTC), bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi juga berdampak pada performa kendaraan. Proses pembakaran yang tidak optimal menyebabkan tenaga mesin berkurang, respons akselerasi terhambat, dan konsumsi bahan bakar meningkat. Meskipun sistem elektronik pada kendaraan modern, seperti Electronic Control Unit (ECU), bisa melakukan penyesuaian, kemampuan adaptasinya terbatas. Jika terus-menerus diisi Pertalite, mesin mungkin perlu lebih banyak bahan bakar untuk mencapai tenaga yang sama, yang berujung pada biaya operasional lebih tinggi.
Kenaikan Harga BBM dan Pilihan Pengguna
Peningkatan harga Pertamax dan Pertamax Green membuat sebagian pengemudi mempertimbangkan pertukaran ke Pertalite untuk menghemat pengeluaran. Namun, keputusan ini tidak selalu bijak untuk mesin RON tinggi. Selisih harga antara Pertamax dan Pertalite mencapai Rp 3.950 per liter, yang bisa terasa signifikan jika digunakan secara rutin.
Pada mesin dengan kompresi tinggi, angka oktan yang tidak sesuai berpotensi mengurangi efisiensi pembakaran. Hal ini menyebabkan emisi lebih tinggi, suara mesin yang tidak nyaman, dan bahkan kerusakan pada komponen mesin. Kondisi ini terjadi karena bahan bakar dengan RON rendah tidak mampu menahan percikan api secara tepat, sehingga proses pembakaran tidak stabil.
Sebagian pengemudi mungkin tidak langsung merasakan dampaknya karena perubahan terjadi secara bertahap. Namun, jika terus berlangsung, risiko kerusakan akan meningkat. Misalnya, mesin yang dirancang untuk Pertamax bisa mengalami penurunan daya mesin hingga 10-15% jika menggunakan Pertalite. Selain itu, konsumsi bahan bakar bisa meningkat 10-15% karena mesin harus bekerja lebih keras untuk mencapai tenaga yang sama.
Untuk mengatasi masalah ini, produsen kendaraan mengintegrasikan teknologi ECU yang bisa menyesuaikan campuran bahan bakar. Namun, teknologi tersebut tidak bisa menghilangkan semua risiko. Jika bahan bakar yang digunakan terlalu rendah, ECU hanya bisa meminimalkan dampaknya, bukan menghindari. Hal ini berarti penggunaan Pertalite pada mesin RON tinggi tetap berpotensi mengurangi umur mesin.
Kendaraan berbasis mesin RON tinggi, seperti mobil sport atau mobil bertransmisi otomatis modern, sangat rentan terhadap efek knocking. Dalam kondisi ekstrem, masalah ini bisa menyebabkan kegagalan mesin atau kerusakan pada komponen kritis, seperti silinder atau katup. Dengan adanya kenaikan harga Pertamax, pengguna yang tidak menyadari perbedaan spesifikasi mungkin terjebak dalam kebiasaan menggunakan Pertalite, yang berisiko mengorbankan kinerja dan keandalan kendaraan.
Sebagai solusi, produsen bahan bakar dan pemerintah perlu memberikan informasi lebih jelas mengenai rekomendasi penggunaan BBM berdasarkan jenis mesin. Pengemudi juga harus memperhatikan label RON pada bahan bakar dan memilih sesuai kebutuhan kendaraan. Meskipun Pertalite lebih murah, penggunaannya pada mesin RON tinggi bisa menjadi pilihan yang salah jika tidak diimbangi dengan perhitungan penghematan yang tepat.
Penyesuaian Harga dan Efisiensi Energi
Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi energi. Dengan Pertalite tetap berada di harga sebelumnya, pengemudi mungkin menganggap ini sebagai solusi sementara. Namun, efisiensi mesin tidak hanya bergantung pada harga, tetapi juga pada kualitas bahan bakar. Pertalite, meskipun murah, bisa memicu peningkatan konsumsi bahan bakar sebesar 5-10% dibanding Pertamax, terutama pada kendaraan yang dirancang untuk RON 92.
Sebagai contoh, mobil dengan mesin berkompresi tinggi membutuhkan bahan bakar yang mampu menahan suhu tinggi. Jika menggunakan Pertalite, mesin bisa mengalami overheating yang mempercepat keausan komponen. Selain itu, penggunaan bahan bakar RON rendah memengaruhi efisiensi emisi, yang bisa menyebabkan peningkatan polusi udara. Ini memperlihatkan bahwa penghematan finansial tidak selalu sesuai dengan efisiensi teknis.
Dengan memahami risiko ini, pengemudi bisa mengambil keputusan lebih bijak. Meskipun Pertalite tetap menarik secara harga, penggunaannya pada mesin RON tinggi bisa memberikan dampak jangka panjang yang tidak terduga. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti rekomendasi pabrikan dan memilih bahan bakar yang sesuai spesifikasi kendaraan, agar proses pembakaran berlangsung optimal dan mesin tetap terjaga kinerjanya.
