Menteri Ekraf Akan Aktifkan Desa Kreatif untuk Dorong Ekonomi
New Policy – Dalam upaya memperkuat sektor ekonomi kreatif, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menyatakan rencana untuk menggali potensi desa-desa kreatif di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta mengembangkan ekosistem kreatif yang lebih kuat. Riefky menekankan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional yang dirancang dalam rangka memperkuat bidang ekraf sebagai salah satu pilar penting pembangunan ekonomi.
Tiga Prioritas Utama Kementerian Ekraf
Presiden Prabowo Subianto telah memberikan tiga tugas utama kepada Kementerian Ekraf, salah satunya adalah mengaktivasi desa kreatif. Menurut Riefky, tugas ini memiliki peran sentral dalam mempercepat pengembangan sektor ekonomi kreatif. Dua program lainnya yang menjadi fokus adalah aktivasi creative hub serta penguatan branding Creative by Indonesia. “Kita tidak hanya membangun kawasan baru, tetapi juga memperkuat potensi yang sudah ada,” jelas Riefky.
“Aktivasi desa kreatif ini bukan berarti membangun desa baru, karena pemda tentu sudah membina dan memetakan di mana adanya desa kreatif, nah ini bagaimana kita mengaktivasi itu,” kata Riefky di Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).
Dalam konteks ini, pemerintah fokus pada penguatan ekosistem lokal yang sudah ada. Hal ini mencakup peningkatan kualitas SDM, peningkatan akses pasar, serta penyaluran pembiayaan yang lebih luas. Tujuannya adalah memastikan desa-desa kreatif dapat menjadi penggerak utama perekonomian setempat, sekaligus mendorong keterlibatan lebih dalam masyarakat dalam inisiatif ekraf. “Dengan cara ini, kita mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan,” tambah Riefky.
Pengembangan Creative Hub dan Kolaborasi Lokal
Selain desa kreatif, Riefky juga menyebutkan rencana mengaktifkan kembali berbagai creative hub yang sudah dibangun oleh pemerintah daerah, institusi pendidikan, atau komunitas kreatif. Pemulihan kawasan-kawasan ini diharapkan dapat memperkaya ekosistem ekonomi kreatif, serta menciptakan peluang kerja di tingkat daerah. “Creative hub menjadi wadah kolaborasi yang bisa menyerap berbagai ide dan inisiatif lokal,” terangnya.
Menurut Riefky, keberhasilan aktivasi desa kreatif dan creative hub bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menyoroti peran kepala daerah dalam membina pelaku ekonomi kreatif sejak awal. “Terima kasih kepada kepala daerah dan jajaran yang terus membina para pegiat ekonomi kreatif di berbagai daerah,” ujar Riefky, menegaskan apresiasinya terhadap upaya yang telah dilakukan.
Menguatkan Branding Nasional
Program ketiga yang menjadi perhatian Kementerian Ekraf adalah penguatan branding “Creative by Indonesia” sebagai identitas produk kreatif nasional. Riefky menjelaskan bahwa upaya ini bertujuan mengangkat karya dan merek lokal sehingga mampu bersaing di pasar dalam maupun luar negeri. “Creative by Indonesia adalah contoh dari IP (intellectual property) atau brand yang hari ini bagaimana kita tingkatkan masuk ke pasar nasional dan nantinya ke pasar global,” katanya.
Dalam konteks perekonomian, branding nasional ini dianggap sebagai kunci untuk memperkuat daya saing produk kreatif. Riefky menjelaskan bahwa selain mengenalkan karya-karya lokal, penguatan branding juga melibatkan pengembangan strategi pemasaran yang lebih efektif. “Dengan identitas yang kuat, kita bisa membangun kepercayaan konsumen di tingkat internasional,” tambahnya.
Tujuan dan Manfaat Strategi Ini
Menurut Riefky, tiga program ini akan digencarkan pada semester kedua tahun 2026 dan berlangsung hingga 2029. Langkah-langkah ini diharapkan mampu mendorong perubahan struktural dalam ekonomi kreatif, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor lain. “Dengan mengoptimalkan potensi lokal, kita bisa menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas,” kata Riefky.
Aksi ini juga bertujuan mengurangi kesenjangan antara daerah penghasil dan daerah pengolah, serta memastikan keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas ekonomi kreatif. Dengan mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta, Riefky yakin akan tercipta sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Kami ingin semua pihak terlibat dalam mengembangkan ekonomi kreatif,” jelasnya.
Langkah-Langkah untuk Mengaktifkan Potensi
Riefky menambahkan bahwa aktivasi desa kreatif memerlukan pendekatan holistik. Hal ini mencakup pendidikan, pelatihan, serta pengakuan terhadap usaha kreatif yang berpotensi. “Pemerintah akan berupaya memberikan dukungan maksimal untuk meningkatkan kualitas dan akses,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa penguatan ekonomi kreatif akan dimulai secara bertahap, dengan fokus pada pengembangan infrastruktur dan keterampilan.
Program ini diharapkan dapat mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor ekraf. “Kami ingin menciptakan lingkungan yang lebih menarik bagi pemuda untuk berkarya,” kata Riefky. Dengan adanya pengakuan terhadap kekhasan daerah, ia yakin akan tercipta momentum baru dalam perekonomian Indonesia.
Kolaborasi Erat dengan Daerah
Dalam penyusunan strategi ini, Kementerian Ekraf sangat menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah. Menurut Riefky, desa-desa kreatif dan creative hub tidak bisa berkembang sendiri tanpa dukungan lokal. “Kita harus bergerak bersama, karena peran daerah sangat vital,” jelasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa ada beberapa wilayah yang sudah menunjukkan keberhasilan dalam penerapan konsep ini.
Langkah-langkah ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Riefky menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi untuk mengurangi angka pengangguran, terutama di daerah-daerah yang memiliki sumber daya lokal. “Dengan pengembangan ekraf, kita bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih bermakna,” katanya.
Perbandingan dengan Strategi Lain
Riefky menyoroti kesamaan konsep antara aktivasi desa kreatif dengan strategi pembangunan sebelumnya, seperti “Wonderful Indonesia” dalam sektor pariwisata. “Dengan branding yang kuat, kita bisa membangun identitas nasional yang unik dan menarik,” terangnya. Ia berharap “Creative by Indonesia” bisa menjadi simbol baru yang mendorong ekspor produk kreatif ke pasar internasional.
Dengan adanya tiga program ini, Kementerian Ekraf berharap Indonesia dapat menjadi salah satu negara dengan ekonomi kreatif yang paling maju di Asia. Riefky menyatakan bahwa kompetensi ini akan membutuhkan waktu,
