Program Terbaru: Kiat menuju detoks digital dari penggunaan ponsel berlebih
Langkah-Langkah Menuju Detoks Digital dari Kebiasaan Penggunaan Ponsel Berlebih
Jakarta – Penyebab ketidaknyamanan dalam kehidupan modern sering kali berasal dari penggunaan ponsel yang berlebihan. Kebiasaan ini tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memperburuk kondisi mental. Menurut Naomi Dambreville, seorang asisten profesor psikiatri di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, kecanduan bermain ponsel tergolong masalah serius yang memicu gejala seperti kecemasan atau kesedihan.
Menjelaskan Bahaya Doomscrolling
Dambreville menyoroti bahwa terlalu lama mengakses berita negatif melalui ponsel—dikenal sebagai doomscrolling—bisa menjadi kebiasaan tak sadar yang merusak kesehatan. Aktivitas ini dimulai dengan keinginan untuk tetap terinformasi, tetapi akhirnya memperparah emosi negatif. “Menggunakan ponsel terus-menerus menyebabkan kita kehilangan kendali dan terus-menerus merasa lebih buruk,” katanya, seperti dikutip dari New York Post, Rabu (8/4).
“Kecanduan ponsel ditandai oleh penggunaan yang kompulsif dan merasa gelisah saat tidak menyentuh layarnya. Jika Anda merasa seperti ‘sakau’ ketika tidak terhubung dengan internet atau takut ketinggalan informasi, itu bisa jadi tanda adanya masalah,” tambah Dambreville.
Dalam studi terbaru 2024, sekitar 50% populasi Amerika mengalami kecanduan ponsel. Rata-rata, mereka memeriksa layar setiap lima menit, menciptakan total 186 interaksi per hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecanduan tidak hanya berupa kebutuhan fisik, tetapi juga terkait perilaku dan kebiasaan psikologis.
Gejala Penyakit Digital
Dambreville mengungkapkan enam indikator yang menunjukkan ketergantungan berlebih pada ponsel. Contohnya, ketika kegiatan sehari-hari seperti berbelanja atau bersosialisasi bergantung pada layar, serta penggunaan aplikasi media sosial yang terus-menerus. Gejala fisik yang muncul mencakup sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, dan rasa sakit pada jempol atau tangan akibat aktivitas berulang.
Salah satu efek psikologis yang umum adalah FOMO (Fear Of Missing Out), yaitu rasa cemas ketika tidak terhubung. Dambreville menjelaskan bahwa kebosanan adalah konsekuensi terbesar dari detoks digital, yang sering kali sulit diatasi.
Strategi untuk Mengatasi Ketergantungan
Untuk melawan kebiasaan ini, Naomi merekomendasikan langkah-langkah praktis. Pertama, pantau waktu yang dihabiskan di perangkat dan aplikasi, sehingga memudahkan pengenalan pola perilaku. Kedua, buat rencana spesifik untuk mengurangi penggunaan, seperti menetapkan batas waktu penggunaan media sosial.
Contoh sederhana: jika ingin mengurangi waktu di Instagram, buat timer dan tutup aplikasi setelah 30 menit. Lakukan ini dua kali sehari selama satu minggu. Selain itu, tambahkan kegiatan alternatif, seperti membaca, untuk menggantikan kebiasaan scroll. “Otak kita menyukai kestabilan, jadi perubahan bisa menyebabkan reaksi awal yang sulit diatasi,” ujarnya.
Detoks digital bisa dilakukan dalam berbagai cara, mulai dari menghindari layar selama beberapa jam hingga mengurangi penggunaan media sosial secara bertahap. Kuncinya adalah kesadaran akan dampak negatif dan konsistensi dalam mengubah kebiasaan.


