Program Terbaru: Biofuel: jawaban bagi rapuhnya energi fosil nasional

Biofuel: Jawaban untuk Ketidakstabilan Energi Fosil Nasional

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) secara global menegaskan kembali ketergantungan dunia pada sumber energi fosil. Kondisi ini memicu kerentanan ekonomi dan gejolak politik internasional. Konflik di Timur Tengah menjadi bukti nyata bagaimana gangguan rantai pasok energi global bisa menimbulkan krisis ekonomi, inflasi, serta tekanan pada anggaran negara.

Indonesia tidak terlepas dari dampak tersebut. Meski konsumsi BBM terus meningkat, produksi minyak dalam negeri belum mampu menutupi kebutuhan. Pada 2025, diperkirakan konsumsi BBM akan melampaui 80 juta kiloliter, sementara produksi domestik terus menurun, berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kesenjangan ini memaksa negara mengandalkan impor, yang menjadi sumber risiko baru.

Dalam konteks ini, pemerintah menggagas program biodiesel dan bioethanol sebagai solusi. Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa kebijakan ini penting untuk mengurangi ketergantungan energi. Keberhasilan program biodiesel menjadi contoh nyata transformasi menuju energi lokal. Penyaluran campuran biodiesel telah berkembang dari B20 ke B35, bahkan B40, dengan proyeksi mencapai 13,5 juta kiloliter pada 2025.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa program biodiesel mampu menghemat devisa, hingga lebih dari Rp140 triliun per tahun, dalam beberapa tahun terakhir.

Kebijakan ini tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga menekan pengeluaran fiskal. Dalam jangka menengah, pemerintah menargetkan penghentian impor solar, seiring peningkatan bauran biodiesel hingga B50. Target ini berdasarkan kapasitas produksi dan pasokan bahan baku yang dimiliki Indonesia.

Indonesia memiliki keunggulan struktural berupa produksi minyak kelapa sawit terbesar dunia, lebih dari 50 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun. Konversi sebagian CPO menjadi biodiesel menggeser peran sawit dari sekadar komoditas ekspor menjadi pilar ketahanan energi nasional. Efek berganda dari kebijakan ini juga terasa, dengan lebih dari 16 juta tenaga kerja bergantung pada sektor sawit, baik langsung maupun tidak langsung.

Peningkatan penggunaan biodiesel juga membantu menjaga stabilitas harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Dengan demikian, biodiesel bukan hanya kebijakan energi, tetapi juga alat untuk mendorong pemerataan ekonomi dalam negeri.