Industri Galangan Kapal Harapkan Bantuan BBM Subsidi dalam Menghadapi Tekanan Biaya
Key Discussion – Dalam kondisi pasar yang semakin sulit, industri galangan kapal nasional menghadapi tantangan serius akibat peningkatan biaya produksi yang terus berlangsung. Berdasarkan laporan dari Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan harga energi, serta ketergantungan pada bahan baku impor menjadi faktor utama yang membebani sektor ini. Sebagai respon, para pelaku industri mulai meminta bantuan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dari pemerintah untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan sektor maritim nasional.
Kondisi Ekonomi Global Memperburuk Tekanan pada Industri
Ketua Umum Iperindo, Anita Puji Utami, menjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi telah memberi tekanan signifikan pada industri galangan kapal. “Kita berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui BBM subsidi, terutama bagi pemakaian bahan bakar industri di galangan,” ujar Anita saat diwawancarai pada Senin (8/6/2026). Menurutnya, fluktuasi kurs mata uang asing, terutama pelemahan rupiah, membuat sektor ini rentan terhadap perubahan harga bahan baku dan peralatan produksi yang berasal dari luar negeri.
“Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri,” tambah Anita.
Kondisi ekonomi global yang tidak menentu, seperti konflik geopolitik di Timur Tengah, juga memperparah situasi. Penegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah memicu kenaikan harga energi dan komoditas, yang berdampak langsung pada biaya operasional industri galangan kapal. Konflik ini mengganggu jalur perdagangan internasional, termasuk Selat Hormuz, sehingga meningkatkan harga bahan baku impor. Dampaknya, perusahaan galangan kapal harus menghadapi kenaikan biaya yang lebih besar dari sebelumnya, meski kontrak sudah ditandatangani saat rupiah masih stabil.
Kenaikan Harga Bahan Baku Mendorong Kebutuhan Subsidi BBM
Data yang dirilis Iperindo menunjukkan bahwa harga solar B40 meningkat hingga 89,19% dibandingkan periode sebelumnya. Situasi ini diperparah oleh kenaikan harga LPG 12 kilogram sebesar 16,16% dan LPG 50 kilogram hingga 26,51%. Selain itu, harga pelat baja—yang menjadi bahan utama pembangunan kapal—naik antara 7% hingga 12,60%, sedangkan harga cat kapal meningkat sekitar 21%. Kenaikan juga terjadi pada zinc anode dan aluminium anode, masing-masing mencapai 12,87% dan 13,61%. Biaya oli untuk mesin serta peralatan galangan mengalami kenaikan antara 15% hingga 40%, sementara bahan plastik naik hingga 50%.
Anita menegaskan bahwa sekitar 45% kebutuhan material dan peralatan industri galangan kapal nasional berasal dari luar negeri. Ketergantungan ini membuat perusahaan sangat rentan terhadap perubahan kurs mata uang. Banyak kontrak pembangunan kapal yang ditandatangani saat rupiah masih kuat, namun saat proses pengadaan bahan baku dan pembayaran dimulai, biaya produksi justru melonjak. “Karena rupiah mengalami pelemahan, pelaku usaha harus menanggung biaya yang jauh lebih tinggi,” jelasnya.
Pengaruh Kenaikan Biaya pada Tarif Jasa dan Proyek Pembangunan
Sebagai upaya mengatasi kenaikan biaya, beberapa galangan kapal mulai menyesuaikan tarif jasa reparasi. Kenaikan tarif ini diperkirakan mencapai sekitar 20% untuk menutupi peningkatan biaya produksi. Sementara itu, proyek pembangunan kapal baru yang sedang berjalan juga mengalami gangguan. Pelaku industri saat ini sedang berdiskusi dengan pemilik kapal terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya agar proyek tetap bisa diteruskan.
Kenaikan harga bahan baku tidak hanya memengaruhi biaya produksi tetapi juga mengurangi daya saing industri nasional. “Dengan dukungan BBM subsidi, industri galangan kapal bisa mengurangi beban operasional dan mempertahankan kestabilan harga jasa,” kata Anita. Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah untuk mengendalikan inflasi energi serta mengatur harga bahan baku impor sangat penting agar sektor maritim tidak hanyut dalam tekanan ekonomi global.
Upaya Meminimalkan Dampak Negatif dengan Dukungan Pemerintah
Anita menyampaikan bahwa industri galangan kapal perlu dukungan pemerintah untuk tetap bertahan di tengah tekanan eksternal. Ia menyoroti bahwa lonjakan harga bahan baku impor, seperti pelat baja dan cat kapal, berdampak signifikan terhadap kemampuan perusahaan untuk beroperasi. “Kami berharap ada kebijakan yang mampu menjaga daya saing industri di tengah kenaikan harga global,” ujarnya.
Menurut analisis, industri galangan kapal nasional merupakan tulang punggung sektor maritim Indonesia. Namun, dengan biaya produksi yang terus meningkat, risiko kemunduran atau penutupan usaha semakin tinggi. Kenaikan harga bahan bakar dan material utama menyebabkan pengurangan margin keuntungan, terutama di tengah persaingan yang ketat dari produsen asing. Dukungan BBM subsidi, menurut Anita, menjadi solusi yang mungkin mampu meringankan beban pelaku usaha.
Kenaikan biaya operasional ini juga mengganggu ketenangan pasar. Perusahaan yang mengandalkan impor untuk bahan baku perlu memperkirakan risiko kurs yang tidak stabil. Dalam beberapa
