Apa Iya Fase Terburuk IHSG Sudah Berakhir?
Key Strategy – Dengan peningkatan beberapa indikator ekonomi dan kondisi valuasi saham yang tergolong murah, sejumlah pakar menilai fase terparah dari pasar modal Indonesia mungkin telah berlalu. Menurut tim riset dari Samuel Sekuritas Indonesia, ada tanda-tanda bahwa tekanan terbesar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai berkurang. Faktor-faktor ini memberikan ruang bagi investor untuk kembali bergerak aktif dalam membangun portofolio saham. Perubahan ini dianggap sebagai titik balik dalam perjalanan IHSG yang mengalami penurunan signifikan sepanjang beberapa bulan terakhir.
Stabilitas Rupiah Jadi Penyumbang Utama
Penguatan nilai tukar rupiah menjadi salah satu elemen kunci dalam pemulihan pasar saham. Sejarah menunjukkan bahwa pergerakan mata uang ini sering kali menjadi indikator awal perbaikan IHSG. Prasetya Gunadi, kepala riset equity dari Samuel Sekuritas, menjelaskan bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjadi pendorong utama perbaikan rupiah. Dalam satu bulan terakhir, BI telah melakukan kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif mencapai 75 basis poin (bps), termasuk 25 bps yang diterapkan pada 9 Juni 2026, sehingga BI-Rate mencapai 5,5%.
“Penguatan rupiah didorong oleh respons kebijakan yang makin tegas dari BI,” tulis Prasetya dan tim dalam laporan yang dikutip Minggu (14/6/2026).
Analisis menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga ini berpotensi memperkuat daya beli rupiah, terutama jika kebijakan tata kelola ekspor komoditas utama seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy berhasil mengurangi praktik under-invoicing. Perbaikan dalam pelaporan nilai ekspor yang lebih akurat diharapkan mampu meningkatkan aliran dana asing ke Indonesia, sekaligus menopang kestabilan nilai tukar. Selain itu, pengeluaran pemerintah yang lebih efisien untuk program makan bergizi gratis (MBG) serta pengurangan anggaran koperasi desa juga dinilai berkontribusi pada penyeimbangan neraca fiskal.
Aliran Dana Asing Mulai Mengalir Kembali
Perkembangan terbaru menunjukkan adanya aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar saham domestik. Pada 12 Juni 2026, IHSG mencatat inflow bersih sebesar Rp 287 miliar atau sekitar US$ 16 juta. Angka ini menjadi pertama sejak 20 Mei 2026, mengisyaratkan kepercayaan investor terhadap potensi kenaikan harga saham. Prasetya Gunadi mengungkapkan bahwa kondisi ini bisa menambah kepercayaan terhadap rupiah dan memberi sentimen positif bagi pasar modal.
“Kondisi tersebut berpotensi memberikan tambahan sentimen positif terhadap rupiah,” tulisnya.
Kenaikan IHSG sebesar 7,6% pada 9 Juni 2026, dianggap sebagai bukti bahwa pasar sedang membaik. Saat itu, valuasi saham berada pada rasio price to earnings (P/E) satu tahun ke depan sebesar 8,8 kali. Tingkat ini jauh di bawah batas minus dua standar deviasi historis, sekitar 11% lebih rendah, serta 36% berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa saham Indonesia terbilang lebih murah dibandingkan masa sebelumnya, sehingga menjadi momen yang menarik untuk pembelian.
Perbandingan dengan Krisis Masa Lalu
IHSG sempat mengalami penurunan hingga 41% dari level tertinggi, yang merupakan koreksi terbesar dalam kurun waktu sekitar 4,6 bulan. Penurunan ini bahkan lebih dalam dibandingkan beberapa periode krisis sebelumnya. Misalnya, pada 2013 IHSG turun 23,9%, 2015 melemah 25,4%, dan selama pandemi Covid-19 terkoreksi 37,7%. Nilai terendah pernah terjadi pada krisis keuangan global 2008, yaitu sebesar 60,7%.
“Menurut pandangan kami, pasar telah mencerminkan skenario yang setara dengan kondisi krisis besar, padahal kondisi fundamental saat ini tidak seburuk itu,” tulis Prasetya.
Dari sisi sektor keuangan, tanda-tanda positif mulai terlihat. Selain stabilitas rupiah, kenaikan harga saham yang signifikan dalam sepekan terakhir menunjukkan bahwa investor mulai aktif. Meski demikian, Prasetya menekankan bahwa penurunan IHSG hingga 41% adalah angka yang memperlihatkan sejumlah risiko yang sudah terakomodasi oleh pasar. Dengan memperhitungkan berbagai faktor, seperti peningkatan P/E ratio dan aliran dana asing, analis yakin bahwa momentum pemulihan mulai terbentuk.
Dengan peningkatan indikator ekonomi, kebijakan fiskal yang lebih terarah, dan kembalinya investor asing, penulis menilai bahwa IHSG mulai memasuki fase yang lebih stabil. Meski ada kemungkinan fluktuasi, kondisi pasar saat ini dianggap lebih baik dibandingkan sebelumnya. Investor kini memiliki peluang untuk memanfaatkan valuasi yang relatif murah. Kenaikan harga saham dalam beberapa hari terakhir juga memperkuat keyakinan bahwa penurunan terbesar sudah berakhir.
Konteks Ekonomi Global dan Dampaknya
Kenaikan IHSG tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang mulai membaik. Penguatan nilai tukar rupiah dan aliran dana asing merupakan dua aspek yang sangat krusial dalam mendukung stabilitas pasar. Namun, perlu dipahami bahwa pemulihan ini bukan terjadi secara instan. Kenaikan 7,6% pada 9 Juni 2026 menunjukkan kekuatan permintaan pasar, tetapi tingkat P/E ratio yang terbilang rendah juga mengisyaratkan potensi pertumbuhan di masa depan.
Dengan memperhitungkan kebijakan BI, efisiensi anggaran pemerintah, serta peningkatan kepercayaan investor, analis menyimpulkan bahwa IHSG berada di tahap awal pemulihan. Faktor-faktor ini membantu menciptakan suasana yang lebih positif untuk pasar modal. Meski tetap perlu pantauan lanjutan, ada indikasi kuat bahwa fase terburuk telah berlalu. Investor sekarang bisa memanfaatkan peluang ini untuk melakukan akumulasi saham dengan strategi yang lebih optimal.
Kebijakan tata kelola ekspor dan pengurangan under-invoicing diharapkan menjadi faktor pendukung terus-menerus bagi kestabilan ekonomi. Dengan aliran dana asing yang kembali, serta indikator seperti P/E ratio yang relatif rendah, pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Selain itu, kebijakan fiskal yang lebih rasional juga membantu menjaga kestabilan ekonomi makro, yang pada gilirannya mendukung kondisi pasar yang lebih baik.
Artikel Terkait
Simak berita terkait lainnya di berbagai platform media: – Mia Khal
