Rating Indonesia Dipertahankan S&P: Prospek SUN Tetap Positif Seusai
amalzakat.com – Prospek SUN Tetap Positif Seusai S&P Global Ratings memutuskan untuk mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Keputusan ini memberikan sinyal optimisme bagi pasar surat utang negara atau yang dikenal dengan SUN di Indonesia. Proyeksi kinerja positif diproyeksikan hingga akhir tahun 2026, meskipun dampaknya lebih bersifat sebagai penopang kepercayaan investor daripada pemicu arus masuk modal asing yang masif.
Analisis Ekonom Core Indonesia
Yusuf Rendi Manilet, ekonom dari Core Indonesia, menjelaskan bahwa langkah S&P ini merupakan indikasi positif yang signifikan. Hal ini mengingat Indonesia berhasil mempertahankan status investment grade di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, masih adanya outlook negatif dari beberapa lembaga pemeringkat lain membuat keputusan S&P menjadi semakin penting bagi stabilitas pasar keuangan domestik.
“Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil lebih berfungsi sebagai penopang kepercayaan investor daripada menjadi pemicu masuknya arus modal asing dalam jumlah besar. Di tengah outlook negatif dari lembaga pemeringkat lain, keputusan ini penting karena menjaga status investment grade Indonesia, sehingga risiko penurunan peringkat dalam jangka pendek berkurang,” kata Yusuf pada hari Minggu, 19 Februari 2026.
Menurut Yusuf, keputusan para investor asing dalam mengalokasikan dana mereka tetap akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental pasar keuangan. Faktor-faktor tersebut meliputi arah pergerakan nilai tukar rupiah, tingkat imbal hasil obligasi, serta prospek suku bunga global. Karena alasan inilah, ruang penurunan yield SUN dinilai masih memiliki batas yang cukup terbatas di tengah ketidakpastian eksternal.
Pengaruh Kebijakan The Fed dan Bank Indonesia
Afirmasi positif dari S&P memang berpotensi untuk menekan premi risiko Indonesia. Namun, faktor eksternal masih menjadi penentu utama dalam mengarahkan pasar obligasi domestik. Yusuf menekankan bahwa kebijakan The Fed merupakan faktor yang lebih dominan. Selama suku bunga Amerika Serikat masih diperkirakan bertahan pada level tinggi, maka tekanan terhadap yield obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia, belum akan hilang sepenuhnya.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia juga masih mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan kondisi tersebut, penurunan yield SUN diperkirakan akan berlangsung secara bertahap, bukan secara tajam. Meski demikian, Yusuf tetap optimistis terhadap prospek pasar SUN hingga akhir tahun. Fundamental fiskal Indonesia dinilai masih terjaga dengan baik, sementara permintaan dari investor domestik terus memberikan dukungan kuat terhadap pasar obligasi pemerintah.
“Hal ini juga membuat saya optimistis target lelang SUN sebesar Rp 32 triliun dapat tercapai, apalagi lelang sebelumnya menunjukkan permintaan yang konsisten melampaui target pemerintah. Yang perlu diperhatikan justru biaya yang harus dibayar pemerintah dalam bentuk tingkat imbal hasil, bukan semata besarnya dana yang berhasil dihimpun,” katanya.
Rekomendasi Investasi dan Proyeksi Yield
Dari perspektif strategi investasi, Yusuf menilai SUN dengan tenor menengah masih menjadi pilihan paling menarik di tengah ketidakpastian global. Bagi investor, tenor tiga hingga lima tahun masih menjadi pilihan yang paling menarik karena memberikan keseimbangan antara imbal hasil dan risiko perubahan harga di tengah ketidakpastian suku bunga global.
Ia menambahkan, risiko utama yang perlu dicermati investor tetap berasal dari arah kebijakan Federal Reserve, pergerakan nilai tukar rupiah, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah. Selama ketiga faktor tersebut tetap terkendali, yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak pada kisaran 6,5% hingga 7% hingga akhir 2026. Prospek SUN Tetap Positif Seusai keputusan S&P ini memberikan kepastian bagi para pelaku pasar untuk merencanakan strategi investasi jangka menengah.

