Ekonomi

Special Plan: Harga Pertamax Naik, Driver Ojol Fokus Jaga Orderan Harian

Harga Pertamax Naik, Driver Ojol Fokus Jaga Orderan Harian Special Plan - Jakarta, Beritasatu.com – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi

Desk Ekonomi
Published Juni 16, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Harga Pertamax Naik, Driver Ojol Fokus Jaga Orderan Harian

Special Plan – Jakarta, Beritasatu.com – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang diumumkan sejak 10 Juni 2026 telah memicu perhatian para pengemudi ojek online (ojol). Meski kenaikan tersebut memperhatikan dampak pada biaya operasional, sebagian besar mitra pengemudi masih mengandalkan Pertalite untuk kebutuhan harian. Namun, mereka menyadari bahwa perubahan harga Pertamax mungkin memengaruhi situasi finansial mereka di masa depan.

Perubahan Harga BBM dan Dampaknya

Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026. Pertamax (RON 92) meningkat dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini memicu kekhawatiran di kalangan pengemudi karena biaya bahan bakar menjadi salah satu pengeluaran utama dalam operasional bisnis mereka.

Banyak driver mengaku belum merasakan dampak signifikan karena masih menggunakan Pertalite untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, mereka menyebut bahwa harga Pertamax yang lebih tinggi mungkin akan mulai berdampak jika penggunaan bahan bakar berubah secara drastis. Untuk saat ini, fokus utama para mitra pengemudi tetap pada pengelolaan pesanan agar pendapatan tetap stabil.

Strategi Pengemudi untuk Mengatasi Kenaikan Harga

Abdulloh, seorang driver ojol berusia 40 tahun dari Depok, mengungkapkan bahwa perubahan harga Pertamax memang akan berdampak pada biaya operasional. Namun, ia menekankan bahwa jumlah pesanan yang diterima setiap hari menjadi faktor utama yang memengaruhi pendapatan. “Saya masih memilih Pertalite untuk pengoperasian sehari-hari. Namun, saya memprediksi bahwa dampaknya akan terasa secara bertahap ke depan,” katanya dalam wawancara Senin (16/6/2026).

“Saya masih menggunakan Pertalite. Tetapi ke depannya akan ada dampaknya juga lama kelamaan,” kata Abdulloh.

Abdulloh menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini tidak hanya berasal dari harga BBM, tetapi juga persaingan yang semakin ketat untuk memperoleh pesanan. Ia mengatakan bahwa keberhasilan bisnis ojol bergantung pada konsistensi jumlah order. “Kalau misalkan tidak sampai 10 orderan, itu sangat disayangkan. Jadi, sangat penting untuk mempertahankan jumlah pesanan,” tegasnya.

Dalam praktiknya, Abdulloh lebih sering menggunakan Pertalite untuk operasional harian. Namun, ia sesekali beralih ke Pertamax agar performa sepeda motornya tetap optimal. Meski harga Pertamax lebih mahal, ia menganggap perubahan ini masih bisa dikelola dengan baik selama jumlah pesanan tetap terjaga.

Kondisi Ekonomi Mitra Pengemudi

Abdulloh menilai kondisi pendapatan pengemudi ojol saat ini tidak lagi sebaik beberapa tahun lalu. Selain biaya BBM, kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan, transportasi, dan pengeluaran pribadi semakin menekan kondisi finansial mereka. “Belakangan ini saya juga merasakan semakin sulit mendapatkan pesanan, sehingga penurunan jumlah order memberikan dampak yang cukup besar terhadap pendapatan harian,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax bisa menjadi tekanan tambahan, tetapi prioritas utama tetaplah menjaga keberlangsungan bisnis. “Saat ini, kami harus terus berusaha menjaga performa agar tetap dapat memperoleh pesanan,” katanya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya konsistensi orderan dalam menjaga kestabilan penghasilan para pengemudi.

Keluhan Driver Lain: Dampak pada Jumlah Pesanan

Aziz, driver ojol lainnya yang bergabung dengan Gojek sejak 2017, juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap kenaikan harga Pertamax. Ia mengatakan bahwa perubahan ini membuatnya harus lebih berhati-hati dalam mengatur biaya. “Setelah harga Pertamax meningkat, saya merasa tidak lagi sanggup menggunakannya secara rutin, sehingga lebih memilih mengantre Pertalite meskipun antrean panjang,” katanya.

“Setelah harga Pertamax meningkat, saya merasa tidak lagi sanggup menggunakannya secara rutin, sehingga lebih memilih mengantre Pertalite meskipun antrean panjang. Kondisi ini juga berdampak pada performa kendaraan yang saya rasakan tidak sebaik sebelumnya,” katanya.

Aziz menambahkan bahwa ada indikasi penurunan orderan sejak harga Pertamax naik. “Beberapa pelanggan yang sebelumnya cukup loyal mulai mencari alternatif lain, sehingga frekuensi pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” katanya. Ia menegaskan bahwa menjaga jumlah pesanan tetap tinggi menjadi kunci utama bagi keberlangsungan ekonomi keluarga para mitra pengemudi.

Selain itu, kenaikan harga BBM juga memaksa para driver mempertimbangkan penggunaan bahan bakar secara lebih efisien. Beberapa di antara mereka mulai mengoptimalkan rute dan pengaturan jadwal untuk mengurangi pengeluaran. Meski demikian, kenaikan biaya tetap menjadi beban tambahan yang bisa berdampak signifikan pada pendapatan bulanan.

Kebutuhan untuk Adaptasi

Aziz mengatakan bahwa mereka harus beradaptasi dengan perubahan harga bahan bakar tanpa mengorbankan kualitas pelayanan. “Dalam situasi seperti sekarang, kami harus terus menjaga performa agar tetap dapat memperoleh pesanan,” katanya. Hal ini menunjukkan betapa kritisnya jumlah orderan dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.

Dengan kenaikan harga Pertamax, banyak mitra pengemudi mulai merasa tekanan lebih besar. Namun, mereka berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi mitra pengemudi, terutama saat menyusun kebijakan yang berkaitan dengan harga BBM. “Kalau pemerintah lebih memperhatikan, kami bisa lebih siap menghadapi perubahan ini,” ujarnya.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga memicu perubahan dalam pola konsumsi bahan bakar. Banyak pengemudi memilih Pertalite karena harganya lebih terjangkau, meski kinerjanya tidak sebaik Pertamax. Namun, dengan persaingan yang semakin ketat, jumlah orderan tetap menjadi faktor penentu utama. Selain itu, perubahan ini memaksa driver untuk mencari solusi yang lebih ekonomis tanpa mengorbankan kualitas pengoperasian kendaraan.

Dalam rangka menghadapi tantangan ini, beberapa mitra pengemudi mulai berdiskusi tentang strategi penghematan biaya. Mereka mencoba membagi penggunaan bahan bakar secara lebih bijak, seperti mengurangi jadwal kerja atau memperbaiki efisiensi pengemudi. Namun, kenaikan harga Pertamax tetap menjadi penghalang utama bagi pengurangan biaya operasional. “Jadi, sangat penting untuk menjaga orderan agar pendapatan tetap terjaga,” kata Aziz.

Kenaikan harga Pertamax menunjukkan bahwa perubahan ekonomi yang terjadi bisa berdampak langsung pada sektor transportasi. Dengan adanya penyesuaian harga, pengemudi ojol diwajibkan untuk beradaptasi dengan cepat agar tetap mampu bertahan dalam persa

Leave a Comment