Ekonomi

Topics Covered: Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp 17.862 Per Dolar AS Kamis Pagi

erus Melemah ke Rp 17.862 per Dolar AS di Pagi Kamis Topics Covered – Pada hari Kamis pagi, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami

Desk Ekonomi
Published Juni 18, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Topics Covered: Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.862 per Dolar AS di Pagi Kamis

Topics Covered – Pada hari Kamis pagi, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan, mencapai Rp 17.862 per dolar AS. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa mata uang lokal mengalami penurunan 100 poin atau 0,56% pada pukul 09.22 WIB. Perubahan ini mencerminkan dinamika pasar yang terus bergerak di tengah tekanan ekonomi global dan faktor domestik.

Kondisi Pasar dan Penurunan Rupiah

Kenaikan kurs dolar AS terjadi di tengah atmosfer pasar yang cenderung konservatif, dengan investor terus memantau kebijakan moneter dari berbagai pihak. Meski penurunan rupiah terjadi, pergerakan mata uang utama di kawasan Asia tetap beragam, dengan beberapa pasangan mengalami fluktuasi kecil. Sehari sebelumnya, pada Rabu (17/6/2026), rupiah juga melemah 0,21% atau 37 poin, mencapai level Rp 17.762 per dolar AS.

Kontribusi Kebijakan Bank Indonesia

Kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan rupiah. Dalam rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni 2026, BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Topics Covered menyebutkan bahwa keputusan ini bertujuan untuk menekan inflasi yang terus meningkat, meski segera memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.

“Pergerakan pasar saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi dalam negeri, keputusan BI menjadi fokus utama, terutama setelah penyesuaian BI rate yang dilakukan beberapa hari lalu,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas. Ia menambahkan, volatilitas rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi internasional, termasuk kebijakan moneter Bank Sentral AS dan dinamika harga komoditas global.

Topics Covered menyoroti bahwa kenaikan BI rate tidak hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga memengaruhi kepercayaan investor. Kebijakan ini diharapkan mampu memberikan stabilitas harga dan meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik. Namun, ekspektasi peningkatan suku bunga global yang meningkat membuat rupiah terus terkena tekanan.

Kondisi eksternal seperti kebijakan FED dan pergerakan dolar AS juga berkontribusi pada volatilitas kurs. BI melakukan penyesuaian BI rate sebagai respons terhadap inflasi yang meningkat, namun keputusan ini perlu diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Investor mulai mencari peluang di pasar keuangan internasional, terutama di negara-negara dengan kurs yang lebih stabil.

Mata uang utama di Asia bergerak berbeda. Yen Jepang menguat 0,01%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, dolar Singapura naik 0,05%, dan dolar Taiwan menguat 0,05%. Di sisi lain, won Korea Selatan turun 0,61%, peso Filipina 0,27%, serta rupe India naik 0,79%. Yuan China dan ringgit Malaysia juga mengalami pergerakan terbatas, dengan yuan melemah 0,05% dan ringgit turun 0,57%.

Menurut Ibrahim Assuaibi, penurunan rupiah terjadi karena faktor geopolitik dan tekanan inflasi yang berkelanjutan. Topics Covered menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga BI bertujuan untuk mengurangi permintaan uang beredar, yang menjadi salah satu penyebab melemahnya rupiah. Kondisi ini juga memengaruhi daya beli masyarakat dan kemampuan ekspor.

Analisis Topics Covered menunjukkan bahwa momentum pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut jika inflasi tidak segera menunjukkan penurunan signifikan. Meski kebijakan BI membuka peluang untuk kenaikan suku bunga lebih besar, kinerja ekonomi dalam negeri tetap menjadi faktor pendukung utama. Indikator makroekonomi seperti pertumbuhan ekonomi dan defisit anggaran juga menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Leave a Comment