Iran Hancurkan Jet Tempur dalam Serangan Besar ke Yordania
Iran Hancurkan Jet Tempur – Krisis di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran Hancurkan Jet Tempur milik Amerika Serikat dalam operasi militer yang dilancarkan pada hari Sabtu pagi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) resmi mengumumkan keberhasilan mereka dalam menghancurkan minimal dua unit pesawat tempur AS menggunakan kombinasi rudal dan drone. Serangan ini menargetkan Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania dan menjadi bagian dari Operasi Nasr 2 yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Pengumuman dari IRGC datang tepat setelah gelombang serangan ke-20 diluncurkan sebagai respons atas aksi militer Amerika Serikat yang diklaim terjadi pada malam sebelumnya. Dalam pernyataannya, IRGC menjelaskan bahwa serangan ini bukan hanya bertujuan menghancurkan aset militer, tetapi juga memberikan pesan tegas kepada Washington mengenai kemampuan pertahanan Iran.
“Pasukan udara IRGC, untuk membalas kejahatan musuh Amerika tadi malam, telah melaksanakan gelombang ke-20 Operasi Nasr 2 dan melancarkan serangan dengan rudal dan drone terhadap hangar jet tempur dan area parkir Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania. Setidaknya dua pesawat jet tempur dan tiga pesawat AS lainnya hancur lebur,” kata IRGC dalam pernyataannya dikutip pada Sabtu (18/7/2026).
Operasi Militer Serentak di Tiga Negara
Yang menarik dari operasi ini adalah Iran tidak hanya fokus pada satu target. Selain menghancurkan jet tempur di Yordania, IRGC juga mengklaim telah menghantam fasilitas pendukung Angkatan Laut Amerika Serikat di Kuwait. Serangan ke dermaga bahan bakar di Pelabuhan Al Ahmadi dilakukan dalam gelombang ke-19 Operasi Nasr 2, menunjukkan koordinasi yang baik antara berbagai unit militer Iran.
Selain itu, serangan juga dilancarkan ke Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Dengan menargetkan tiga negara sekaligus, Iran menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan operasi militer multi-lokasi secara simultan. Strategi ini bertujuan untuk memaksimalkan dampak serangan sekaligus mempersulit respons dari pihak Amerika Serikat.
“Dalam gelombang ke-19 Operasi Nasr 2, dron dan rudal menghantam dermaga pendukung bahan bakar Angkatan Laut AS di Pelabuhan Al Ahmadi,” kata IRGC.
Latar Belakang Eskalasi Konflik
Eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat bermula sejak tanggal 8 Juli 2026 ketika militer AS melancarkan serangkaian serangan terhadap wilayah Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini merupakan arteri perdagangan global yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan Amerika.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa Iran tidak ragu untuk membalas tindakan Amerika Serikat di manapun mereka berada. Situasi semakin memanas setelah pada tanggal 9 Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran sudah tidak lagi berlaku.
Klaim bahwa Iran Hancurkan Jet Tempur ini masih memerlukan konfirmasi dari pihak independen. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat yang mengonfirmasi ataupun membantah klaim tersebut. Perkembangan lebih lanjut dari situasi ini akan terus dipantau oleh komunitas internasional, mengingat potensi dampak geopolitik yang signifikan dari konflik ini.
