Irak dan Amerika Serikat Kembangkan Infrastruktur Pipa Minyak Strategis
Lupakan Selat Hormuz AS dan Irak – Jakarta — Langkah signifikan telah diambil oleh Irak dalam diversifikasi jalur ekspor minyaknya. Lupakan Selat Hormuz AS dan Irak kini fokus pada pembangunan jalur pipa baru yang dirancang khusus untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur laut vital ini. Sejumlah perusahaan energi asal Amerika Serikat resmi menandatangani serangkaian kesepakatan dan kemitraan strategis dengan pemerintah Irak. Nilai total dari perjanjian-perjanjian tersebut mencapai sekitar US$ 60 miliar. Jalur laut ini beberapa kali menjadi pusat ketegangan geopolitik akibat konflik antara Iran dan AS.
Berdasarkan laporan Associated Press, upacara penandatanganan kerja sama berlangsung di Kamar Dagang Amerika Serikat pada hari Jumat, tanggal 17 Juli 2026. Kesepakatan yang ditandatangani mencakup berbagai sektor ekonomi, mulai dari kesehatan, telekomunikasi, infrastruktur, hingga energi. Namun, proyek pembangunan jaringan pipa minyak menjadi sorotan utama karena dinilai dapat mengurangi dampak gangguan pasokan energi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Peran Chevron dalam Proyek Infrastruktur
Perusahaan energi Chevron menandatangani tiga perjanjian terpisah dengan pemerintah Irak. Dua di antaranya bertujuan meningkatkan produksi minyak, sedangkan satu kesepakatan lainnya berfokus pada pembangunan jalur pipa ekspor baru dari Irak. Duta Besar AS untuk Turki, Thomas Barrack, mengatakan proyek tersebut akan mengurangi ketergantungan logistik energi dunia terhadap Selat Hormuz.
Kesepakatan itu menyusul pertemuan Perdana Menteri Irak Ali Falah al-Zaidi dengan jajaran eksekutif Chevron di Houston, Amerika Serikat. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Irak mendorong Chevron memperluas sekaligus mempercepat investasinya pada sektor energi. Menurut Al-Zaidi, Irak saat ini membutuhkan mitra investasi jangka panjang, bukan sekadar kontraktor.
Rehabilitasi Jalur Pipa Irak-Suriah
Departemen Luar Negeri AS juga menyambut kesepakatan antara Irak dan Suriah untuk merehabilitasi serta membangun kembali jaringan pipa minyak Irak-Suriah. Proyek tersebut akan dikelola oleh konsorsium internasional yang dipimpin perusahaan-perusahaan AS, baik dari sisi teknis maupun pembiayaan. Jalur pipa dirancang menghubungkan Basra di Irak selatan menuju Haditha. Kemudian diteruskan ke Pelabuhan Ceyhan di Turki dan Baniyas di Suriah, dengan kapasitas sekitar 2 juta barel minyak per hari.
Analisis dari Goldman Sachs memperkirakan tujuh proyek jaringan pipa yang saat ini dikembangkan di kawasan Timur Tengah berpotensi mengalihkan sekitar 60% volume minyak yang sebelumnya melewati Selat Hormuz pada 2028, atau sekitar 14 juta barel per hari. Meski demikian, Goldman Sachs mengingatkan pembangunan jaringan pipa membutuhkan waktu sedikitnya dua setengah tahun sehingga alternatif terhadap Selat Hormuz belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat.
Selama gangguan pelayaran di Selat Hormuz, sebagian minyak Irak telah dikirim melalui jalur darat menuju Suriah sebelum diekspor ke pasar Eropa melalui Pelabuhan Baniyas. Jalur tersebut dinilai lebih mahal, tetapi menjadi solusi sementara hingga proyek pipa baru selesai dibangun.
“Irak saat ini membutuhkan mitra investasi jangka panjang, bukan sekadar kontraktor,” ujar Perdana Menteri Irak Ali Falah al-Zaidi dalam pertemuan dengan Chevron di Houston.
Proyek infrastruktur ini tidak hanya penting bagi Irak, tetapi juga bagi stabilitas energi global. Dengan adanya jalur pipa alternatif, dunia dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak akibat konflik di Selat Hormuz. Chevron dan perusahaan-perusahaan AS lainnya diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek ini agar Irak dapat memanfaatkan jalur ekspor baru secara optimal dalam beberapa tahun mendatang.
