Trump Menuding Kanada Gagal Mengelola Hutan, Ancam Tarif Baru
amalzakat.com – Presiden Donald Trump kembali menyoroti masalah lingkungan yang berdampak langsung pada Amerika Serikat. Dalam pernyataannya yang terbaru, Trump secara tegas menuding pemerintah Kanada bertanggung jawab atas kondisi asap tebal yang menyelimuti wilayah AS. Ia menilai Ottawa tidak mengelola kawasan hutannya secara optimal, sehingga asap dari kebakaran hutan dan lahan terus meluas hingga ke wilayah Amerika Serikat.
Ketegangan ini semakin memanas ketika Trump mengancam akan memasukkan biaya penanganan polusi ke dalam tarif impor barang-barang yang berasal dari Kanada. Ancaman ini disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social, di mana Trump secara eksplisit menyatakan bahwa Amerika Serikat diselimuti udara kotor dan tidak sehat akibat kelalaian Kanada dalam mengelola sumber daya alamnya.
“Kami meminta Kanada bertanggung jawab karena mereka tidak mengelola hutan dengan baik sehingga Amerika Serikat diselimuti udara yang kotor, tercemar, dan tidak sehat,” tulis Trump dalam pernyataannya.
Menurut Trump, kondisi ini bukanlah hal baru. Ia menyebutnya sebagai bentuk kelalaian yang terus berulang setiap tahun dan telah menyebabkan kerugian miliaran dolar AS. Langkah yang akan diambil adalah menambahkan biaya penanganan polusi tersebut ke tarif yang saat ini sudah dikenakan terhadap produk-produk Kanada. Dengan demikian, Trump berharap Kanada dapat meningkatkan upaya pengelolaan hutannya.
Asap Menyelimuti Wilayah AS dari Midwest hingga Timur Laut
Asap tebal dari ratusan titik kebakaran hutan di Kanada mulai menyelimuti wilayah Amerika Serikat pada Kamis, 16 Juli 2026, dan berlanjut hingga Jumat, 17 Juli 2026. Wilayah yang terdampak mencakup kawasan Midwest hingga Timur Laut. Otoritas setempat telah mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah karena kualitas udara yang memburuk secara signifikan. Banyak sekolah dan tempat kerja yang menyesuaikan jadwal mereka untuk mengurangi paparan asap.
Sejumlah pakar iklim juga memberikan penjelasan mengenai fenomena ini. Mereka menyebut bahwa meningkatnya suhu global membuat kondisi hutan di Kanada semakin kering, sehingga risiko kebakaran terus meningkat. Profesor kebakaran hutan dari Thompson Rivers University di British Columbia, Mike Flannigan, menjelaskan bahwa perubahan iklim menyebabkan cuaca ekstrem semakin sering terjadi dan meningkatkan potensi kebakaran hutan. Kondisi ini diperparah oleh musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Respons Pemerintah Kanada dan Hubungan Trump-Carney
Menteri Manajemen Darurat dan Ketahanan Masyarakat Kanada, Eleanor Olszewski, menyatakan bahwa pemerintah telah menginvestasikan C$ 12 miliar atau sekitar US$ 8,56 miliar sejak tahun 2020. Investasi ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan hutan serta mencegah kebakaran. Ia juga menegaskan bahwa Kanada dan AS memiliki sejarah panjang bekerja sama dalam memadamkan kebakaran hutan di kedua negara. Kolaborasi ini melibatkan tenaga pemadam kebakaran dari kedua negara yang bekerja bersama-sama.
“Saat ini prioritas utama kami adalah melindungi warga Kanada dan menjaga keselamatan masyarakat,” ujar Olszewski.
Hubungan antara Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney memang kerap diwarnai ketegangan. Tidak lama setelah kembali menjabat pada tahun 2025, Trump memberlakukan tarif terhadap sejumlah produk utama asal Kanada. Trump juga mengatakan akan menghubungi Carney untuk meminta penjelasan mengenai langkah pemerintah Kanada dalam mengatasi situasi yang disebutnya “sama sekali tidak dapat diterima” tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa isu asap karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga politik perdagangan.
Kantor Perdana Menteri Kanada belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump. Namun, sehari sebelumnya, Carney justru mengatakan bahwa AS dapat berbuat lebih banyak untuk mengatasi perubahan iklim yang memicu kekeringan berkepanjangan dan kenaikan suhu global. Ia menekankan bahwa masalah ini memerlukan solusi bersama dari kedua negara.
Skala Kebakaran dan Evakuasi Warga
Sebagian besar kebakaran tahun ini terjadi di Provinsi Ontario, terutama di wilayah barat laut yang terpencil dan hanya dapat dijangkau melalui jalur udara. Hingga pertengahan Juli 2026, sekitar 650.000 acre atau sekitar 2.630 kilometer persegi lahan telah terbakar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 600.000 acre. Kondisi ini telah memaksa ribuan warga untuk dievakuasi dari wilayah mereka.
Pemerintah Kanada terus berupaya menangani situasi darurat ini sambil menunggu respons lebih lanjut dari pemerintah Amerika Serikat terkait ancaman tarif baru yang disampaikan oleh Trump. Jika Trump benar-benar menerapkan tarif tambahan, hal ini dapat berdampak signifikan pada ekonomi Kanada dan hubungan bilateral kedua negara. Masyarakat internasional kini menantikan perkembangan lebih lanjut dari situasi yang semakin kompleks ini.

