Suhu Panas Capai 40 Derajat Celcius, Jepang Catat ‘Kokushobi’ Pertama

4 jam ago  ·  3 min read
By Dewi Santoso - amalzakat.com
khrisna-gen-1784746373-04111a29bb

Jepang Catat ‘Kokushobi’ Pertama Saat Suhu Panas Capai 40 Derajat Celcius

Amalzakat.com – Tokyo, Beritasatu.com – Jepang akhirnya mencatatkan momen bersejarah dalam dunia meteorologinya. Untuk pertama kalinya sejak istilah tersebut diperkenalkan oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA) pada April 2026, negara tersebut mengalami hari yang sangat panas atau yang dikenal dengan sebutan kokushobi. Istilah resmi baru ini dirancang khusus untuk menandai kondisi ketika suhu udara menyentuh atau bahkan melampaui ambang batas 40 derajat celsius. Dengan adanya klasifikasi ini, masyarakat Jepang kini mendapat peringatan lebih jelas mengenai meningkatnya risiko cuaca panas ekstrem yang dapat mengancam kesehatan.

Tiga Kota Mencapai Suhu Rekor Tertinggi

Ketika hari Selasa tanggal 21 Juli 2026 tiba, fenomena suhu tinggi ini benar-benar terasa di berbagai wilayah Jepang. Tiga kota utama berhasil menembus angka 40 derajat celsius, yaitu Gujo dan Tajimi yang terletak di Prefektur Gifu, serta Toyota yang berada di Prefektur Aichi. Masing-masing kota ini mencatatkan suhu yang sama-sama mencapai 40 derajat celsius atau bahkan lebih dari itu.

Yang lebih menarik, Gujo dan Toyota berhasil mencetak rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah di stasiun cuaca masing-masing. Gujo berhasil mencatatkan suhu tepat pada 40 derajat celsius, sementara Toyota melampaui angka tersebut dengan mencapai 40,1 derajat celsius. Informasi ini dikutip dari The Guardian pada Rabu, 22 Juli 2026. Selain ketiga kota tersebut, data menunjukkan bahwa dari total 914 stasiun cuaca yang tersebar di seluruh Jepang, sebanyak 278 stasiun berhasil mencatat suhu di atas 35 derajat celsius. Angka ini menunjukkan bahwa fenomena panas ekstrem ini bukan hanya terjadi di satu wilayah tertentu, melainkan meluas ke berbagai daerah.

“Klasifikasi kokushobi memberikan gambaran yang lebih akurat tentang intensitas panas ekstrem yang dialami masyarakat Jepang,” ujar seorang pakar meteorologi dari JMA.

Evolusi Klasifikasi Cuaca Panas di Jepang

Sebelum istilah kokushobi resmi diperkenalkan, suhu-suhu setinggi ini sebenarnya sudah dikategorikan sebagai moshobi atau hari yang sangat panas. Klasifikasi moshobi ini sebelumnya merupakan tingkat peringatan tertinggi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Jepang. Dengan adanya penambahan kategori kokushobi, sistem peringatan cuaca panas di Jepang kini menjadi lebih granular dan akurat dalam menggambarkan intensitas panas yang terjadi.

Dampak Nyata terhadap Kehidupan Masyarakat

Gelombang panas yang melanda Jepang tidak hanya sekadar fenomena meteorologis, tetapi juga telah menelan korban jiwa. Pada Senin, 20 Juli 2026, seorang pria berusia 40-an ditemukan meninggal dunia di sebuah jalan di Kota Sanjo, Prefektur Niigata. Pada hari yang sama, seorang pria berusia 70-an di Prefektur Kanagawa, yang terletak di sebelah barat daya Tokyo, juga dilaporkan meninggal dunia. Kedua korban ini diduga tewas akibat paparan suhu panas ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari.

Data dari Badan Manajemen Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jepang menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Jumlah kematian akibat serangan panas untuk pertama kalinya melampaui 2.000 kasus pada tahun 2024. Sementara itu, lebih dari 100.000 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat dampak panas selama periode awal Mei hingga akhir September 2025. Angka-angka ini menunjukkan bahwa gelombang panas bukan hanya masalah sementara, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Jepang.

Adaptasi Sektor Pertanian

Kenaikan suhu yang terus terjadi juga memberikan dampak signifikan pada berbagai sektor kehidupan di Jepang, termasuk sektor pertanian. Produksi dan kualitas beras sebagai makanan pokok utama masyarakat Jepang mengalami tekanan akibat cuaca yang semakin panas. Sebagai langkah adaptasi, para petani mulai memperluas penanaman varietas padi yang lebih tahan terhadap suhu tinggi. Sebagian lainnya beralih membudidayakan tanaman seperti alpukat, yang sebelumnya tidak banyak ditanam di Jepang. Perubahan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang berusaha beradaptasi dengan perubahan iklim yang semakin nyata.

MORE FROM THIS CATEGORY