Nasional

Main Agenda: Profil Ibnu Sutowo, Bos PT Indobuildco yang Kelola Hotel Sultan

Kelola Hotel Sultan Main Agenda - Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) menjadi sorotan kembali akhir pekan ini setelah pengosongan Blok 15, yang sebelumnya

Desk Nasional
Published Juni 18, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Profil Ibnu Sutowo, Bos PT Indobuildco yang Kelola Hotel Sultan

Main Agenda – Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) menjadi sorotan kembali akhir pekan ini setelah pengosongan Blok 15, yang sebelumnya dikuasai Hotel Sultan, dilakukan oleh pengadilan. Tindakan ini menandai babak terakhir dari sengketa berkepanjangan yang melibatkan PT Indobuildco, perusahaan yang selama beberapa dekade mengelola hotel tersebut. Dengan keputusan pengadilan, lahan negara di Senayan kembali dalam penguasaan pemerintah, mengakhiri perjalanan yang dipicu oleh upaya perusahaan milik keluarga Ibnu Sutowo untuk memperpanjang hak guna bangunan (HGB).

Sejarah dan Peran PT Indobuildco

PT Indobuildco, yang diakui sebagai pengelola Hotel Sultan sejak lama, menjadi pusat perhatian dalam konflik ini. Perusahaan ini memegang peran krusial dalam mengelola properti yang dulu dianggap sebagai aset strategis di Jakarta. Pertarungan hukum antara pihak swasta dan pemerintah berlangsung sejak 2002, ketika Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) DKI Jakarta menerbitkan surat keputusan perpanjangan HGB. Keputusan tersebut memberikan hak penggunaan lahan selama 20 tahun, berlaku sejak 4 Maret 2003, tetapi dinilai tidak sah karena tidak disertai rekomendasi dari Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK).

Keberlanjutan sengketa ini menunjukkan ketegangan antara sektor swasta dan pemerintah dalam mengatur penggunaan lahan negara. Kebijakan penguasaan tanah di GBK, yang menjadi tempat berbagai fasilitas penting, memicu perdebatan yang berlangsung lebih dari dua dekade. Sementara itu, PT Indobuildco, yang dijalankan oleh keluarga Ibnu Sutowo, terus mengklaim hak atas hotel tersebut. Perusahaan ini pun memainkan peran penting dalam sejarah pengelolaan seni dan budaya di kawasan tersebut.

Biografi Ibnu Sutowo: Figur Multitugas di Era Orde Baru

Ibnu Sutowo, tokoh yang lahir di Cepu, Hindia Belanda, pada 23 September 1914, dikenal sebagai sosok yang memiliki kiprah luas dalam berbagai bidang. Ia memulai kariernya sebagai dokter sebelum beralih ke dunia militer dan bisnis. Kehadirannya di era Orde Baru membuatnya menjadi salah satu figur yang berpengaruh dalam kebijakan nasional.

Sebagai keturunan dari keluarga priyayi feodal yang terpandang, Ibnu Sutowo memperoleh akses pendidikan yang istimewa. Ia menempuh pendidikan dasar di Europesche Lagere School (ELS), lalu melanjutkan studi menengah di Yogyakarta sebelum memasuki Nederlands Indische Artsen School (NIAS) untuk mengenyam dunia kedokteran.

Kelahiran di masa kolonial Belanda memberi dasar sosial yang kuat bagi Ibnu. Ayahnya, yang menjabat sebagai Wedana Grobogan di Jawa Tengah, memberikan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kariernya. Meski berasal dari keluarga elit, ia memilih menekuni bidang yang membutuhkan kontribusi nyata, seperti kesehatan dan militer. Dedikasinya dalam pelayanan masyarakat membuatnya mendapat kepercayaan yang besar.

Ibnu Sutowo memulai karier medisnya di Batavia pada 1940, saat ia bertugas sebagai dokter dalam upaya pemberantasan malaria. Setelah itu, ia dipindahkan ke Palembang untuk menjabat kepala Rumah Sakit Umum Palembang pada 1945. Kinerjanya yang profesional mengantarkan namanya ke tingkat nasional, terutama setelah ia diangkat menjadi direktur utama PT Permina pada 1957. Perusahaan minyak nasional ini menjadi pintu masuknya ke sektor energi, di mana ia terus meraih prestasi hingga ditunjuk sebagai direktur utama Pertamina pada 1968.

Jabatan dan Pengaruh dalam Pemerintahan Soeharto

Dalam era Soeharto, Ibnu Sutowo mencapai puncak karier di bidang minyak dan gas bumi. Ia menjadi Menteri Urusan Minyak dan Gas Bumi pada 1966, lalu Menteri Migas pada 1967. Perannya dalam pengembangan industri migas Indonesia sangat signifikan, terutama melalui kepemimpinan di Pertamina. Posisi ini tidak hanya mengukir namanya dalam sejarah energi nasional, tetapi juga menegaskan kontribusinya sebagai pengusaha yang berpengaruh.

Sementara itu, kiprahnya di dunia militer pun tidak terlewatkan. Ibnu Sutowo pernah menjabat sebagai kepala Jawatan Kesehatan Tentara di Sumatera Selatan, serta panglima tentara teritorium II/Sriwijaya dengan pangkat kolonel pada 1955–1956. Peran ini memperlihatkan kemampuannya dalam mengelola tugas operasional dan strategis, serta keseimbangan antara bidang kesehatan dan militer.

Warisan dan Dampak Sengketa Hotel Sultan

Pengosongan Hotel Sultan yang diputuskan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 18 Juni 2026 menandai akhir dari dominasi keluarga Sutowo di kawasan GBK. Meski sempat menegangkan, konflik ini juga memicu refleksi terhadap sistem pengelolaan lahan negara. Kebijakan Dwifungsi ABRI yang diterapkan pada 1957 menjadi awal dari transisi politik dan ekonomi Indonesia, di mana Ibnu Sutowo turut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan negara.

Perusahaan milik Pontjo Sutowo, putra Ibnu, terus berusaha mengklaim hak atas lahan tersebut. Namun, keputusan pengadilan akhirnya memberikan kembali pengelolaan ke pemerintah. Kebijakan ini menegaskan bahwa penggunaan lahan negara harus diawasi secara ketat, terutama ketika terlibat dalam proyek strategis. Ibnu Sutowo, yang meninggal pada 12 Januari 2001, meninggalkan warisan yang mencakup berbagai sektor, dari kesehatan hingga industri energi.

Kehadiran Ibnu Sutowo di berbagai bidang tidak hanya mencerminkan kecerdasannya, tetapi juga pengaruh keluarga feodalnya yang memegang kekuasaan sosial sejak masa kolonial. K

Leave a Comment