Nasional

Special Plan: Buka Pameran Mata Hati Soekarno, Megawati Kenang Masa Kecil

Buka Pameran “Mata Hati Soekarno”, Megawati Soroti Dampak Seni pada Kesehatan dan Kepribadian Special Plan - Di Yogyakarta, Megawati Soekarnoputri, Presiden

Desk Nasional
Published Juni 7, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Buka Pameran “Mata Hati Soekarno”, Megawati Soroti Dampak Seni pada Kesehatan dan Kepribadian

Special Plan – Di Yogyakarta, Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima Republik Indonesia dan Ketua Umum PDIP, menghadiri peresmian pameran seni bertajuk “Mata Hati Soekarno” di Le Gareca Space, Kapanewon Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari Sabtu, 6 Juni 2026. Acara ini dirayakan dalam rangka memperingati 125 tahun kelahiran Bung Karno, tokoh nasional yang dikenang sebagai pendiri bangsa. Megawati menegaskan dalam pidatonya bahwa seni menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga besar Soekarno, meski hal ini jarang diperhatikan oleh masyarakat luas.

Masa Kecil yang Terbentuk di Istana

Megawati menjelaskan bahwa dirinya dikenalkan pada dunia seni sejak kecil, terutama melalui kegiatan tari yang dijalani bersama kedua orang tuanya. “Kami dididik di Istana itu, bapak ibu saya itu sebetulnya seorang seniman, tetapi tidak tertonjolkan selama ini,” katanya, mengutip pernyataan dari Antara. Menurut Megawati, seni tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga membentuk kepribadian dan kesehatannya sejak dini.

“Baru setelah saya diperiksa seorang profesor ortopedi tulang, beliau itu nanya umur ibu sebenarnya berapa tahun?”

Pernyataan tersebut memicu kisah tentang pengalaman Megawati saat diperiksa oleh seorang dokter ortopedi. Dokter tersebut menemukan bahwa pertumbuhan tulang Megawati masih terlihat baik, yang ia kaitkan dengan latihan tari yang rutin dilakukan sejak usia lima tahun. “Makanya kalau nanti ibu-ibu yang punya anak, cepat-cepatlah untuk bisa menari, dari umur 5 tahun itu kan mulai membangun pertumbuhan badan, ya, tulang dan lain sebagainya,” tambah Megawati, menyoroti manfaat fisik dan psikologis dari berkesenian.

Karya Seni yang Memantulkan Jiwa Bung Karno

Pameran “Mata Hati Soekarno” menampilkan karya-karya dari 47 seniman yang mencoba menggambarkan kepribadian dan semangat Bung Karno melalui seni. Antara lain, karya Nasirun berjudul “Sang Flamboyan”, Ronald Manurung dengan “Happy Birthday Mr President; Surabaya June 06 1901-2026”, Ireanto Lentho yang mempersembahkan “Sang Dirigen Republik”, serta Agus Noor dengan “Kuantar ke Seberang”. Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan bahwa tema ini menantang para seniman untuk menyajikan sudut pandang yang beragam.

“Mengolah dan mewujudkan tema ini sesungguhnya tidak mudah karena para perupa atau para seniman ini sebagian besar dari generasi 1990-an,”

Kata Suwarno menunjukkan bahwa generasi muda kini harus memahami warisan Bung Karno dengan cara yang kreatif. Ia menegaskan bahwa sosok Bung Karno tetap menjadi sumber inspirasi yang tak pernah habis. “Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api yang menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan dari waktu ke waktu sampai hari ini,” ujarnya.

Warisan Kepribadian yang Diabadikan dalam Seni

Pameran ini juga diharapkan menjadi wadah untuk mengeksplorasi nilai-nilai Bung Karno yang masih relevan hingga saat ini. Butet Kartaredjasa, penggagas pameran, menyatakan bahwa seni bisa menjadi sarana untuk menyatukan keragaman etnis dan memperkuat semangat nasionalisme. “Hanya seorang Bung Karno yang bisa menyatukan keragaman etnis,” katanya, meminta para seniman untuk menanamkan semangat abadi dalam karya.

Menurut Butet, pameran ini bukan sekadar perayaan ulang tahun Bung Karno, tetapi juga tentang menggali makna sejarah melalui bentuk seni yang inovatif. Pengunjung bisa menyaksikan karya yang menggambarkan sisi manusiawi dan kekuatan Bung Karno, seperti kegigihannya dalam membangun bangsa dan mengembangkan kebudayaan.

Kehadiran Tokoh Penting dalam Pembukaan

Pembukaan pameran dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan lokal, termasuk Permaisuri Keraton Yogyakarta GKR Hemas, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menko Polhukam Mahfud MD, serta mantan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Hadir pula Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, dan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih.

Nilai-nilai Kekaruan dalam Seni

Kurasi pameran dirancang untuk menggambarkan perjalanan perjuangan Bung Karno selama hidupnya, dari masa pergerakan kemerdekaan hingga era modern. “Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan, ini perayaan yang tepat,” kata Suwarno Wisetrotomo, menekankan bahwa seni adalah cara efektif untuk mengakrabkan generasi muda dengan sejarah.

Megawati sendiri mengungkapkan bahwa pengalaman masa kecilnya di Istana membentuk fondasi kreativitas yang ia bawa hingga kini. Ia mengatakan ayahnya, Soekarno, sering mengundang seniman dan pelukis untuk berinteraksi di lingkungan Istana, yang membuatnya lebih dekat dengan para seniman senior. “Karena itu, saya merasa bahwa seni bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana untuk memahami kehidupan dan perjuangan orang tua,” imbuh Megawati.

Penekanan pada Relevansi Pemikiran Bung Karno

Dalam pidatonya, Megawati mengingatkan bahwa nilai-nilai Bung Karno, seperti keadilan, persatuan, dan kemajemukan, tetap relevan dalam konteks sosial dan politik saat ini. “Bung Karno adalah figur yang terus menginspirasi, baik dalam bentuk tulisan maupun tindakan,” katanya, menyoroti keharmonisan antara seni dan filosofi hidup Bung Karno.

Suwarno Wisetrotomo menambahkan bahwa pameran ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan Bung Karno kepada generasi muda dengan sudut pandang yang lebih menarik. “Kami berharap melalui karya-karya ini, masyarakat bisa merasakan relevansi pemikiran dan semangat Bung Karno dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Pameran “Mata Hati Soekarno” akan berlangsung selama satu bulan, dengan pembukaan pada 6 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun Bung Karno yang juga melibatkan berbagai acara sejarah dan budaya. Pameran diharapkan mampu menggali sisi-sisi baru dari kehidupan Soekarno, sekaligus menginspirasi seniman muda untuk menggabungkan karya mereka dengan semangat nasionalisme.

Menurut Suwarno, seni bisa menjadi jembatan untuk menghubungkan masa lalu dan masa kini. “Kami ingin menunjukkan bahwa Bung Karno tidak hanya sebagai pendiri negara, tetapi juga sebagai pelaku perubahan yang terus berkembang,” katanya. Ia menambahkan bahwa pameran ini juga membuka ruang dialog publik mengenai bagaimana pemikiran Bung Karno dapat diaplikasikan dalam dunia modern.

Kontekstualisasi dalam Dunia Kreatif

Dengan 47 karya yang ditampilkan, pameran ini mencerminkan keragaman perspektif seniman dalam menyampaikan makna Bung Karno. “Para peserta pameran terdiri dari seniman muda hingga senior, yang semuanya memiliki pendekatan berbeda untuk mengeksplorasi tema ini,” kata Suwarno. Karya-karya tersebut diharapkan mampu membangkitkan perasaan kebanggaan dan kesadaran

Leave a Comment