Nasional

Special Plan: Momen Kapolri Berdoa dan Tabur Bunga di Makam Soeharto-Ibu Tien

Momen Kapolri Berdoa dan Tabur Bunga di Makam Soeharto-Ibu Tien Special Plan - Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Desk Nasional
Published Juni 21, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Momen Kapolri Berdoa dan Tabur Bunga di Makam Soeharto-Ibu Tien

Special Plan – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah dan doa bersama di makam Presiden ke-2 Republik Indonesia HM Soeharto serta Ibu Tien di kompleks Astana Giribangun, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada hari Sabtu, 20 Juni 2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara peringatan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi seluruh personel kepolisian untuk merefleksikan semangat kepemimpinan, loyalitas, disiplin, serta dedikasi yang ditinggalkan para tokoh bangsa dalam menjaga keutuhan NKRI.

Kunjungan Kapolri ke Astana Giribangun

Kapolri tiba di lokasi bersama sejumlah pejabat utama dari institusi kepolisian, termasuk Kabaintelkam Polri Komjen Pol Yuda Gustawan, Dankorbrimob Polri Komjen Pol Ramdani Hidayat, Ketua STIK Lemdiklat Polri Irjen Pol Eko Rudi Sudarto, serta tokoh daerah seperti Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ribut Hari Wibowo. Rombongan juga diterima oleh Wakil Bupati Karanganyar Ade Eliana yang mewakili Bupati, Dandim 0727/Karanganyar Letkol Kav Dhanang Prasetyo, Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti, dan jajaran Forkopimcam Matesih. Kehadiran Kapolri di sana mendapat sambutan hangat dari seluruh pihak yang terlibat, sekaligus menjadi penanda kehormatan yang diberikan kepada dua tokoh nasional yang berperan besar dalam sejarah Indonesia.

Penghormatan yang Diberikan

Saat memasuki Cungkup Argo Sari, tempat pemakaman kedua tokoh tersebut, suasana terasa begitu berkesan. Prosesi ziarah diiringi oleh keheningan yang menggambarkan rasa hormat dan kebanggaan terhadap perjalanan sejarah yang mereka tulis. Selama upacara, Kapolri dan rombongan mengambil kesempatan untuk berdoa bersama, yang dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengabdian Soeharto serta Ibu Tien. Doa tersebut juga menjadi sarana permohonan agar bangsa Indonesia terus mendapat kedamaian, persatuan, kemajuan, dan keberkahan dalam setiap langkah ke depan.

“Kami menyampaikan terima kasih dan penghormatan atas kehadiran Bapak Kapolri beserta rombongan. Semoga seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan hari ini mendapatkan rida Allah Swt dan menjadi momentum untuk mempererat semangat pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujar Kepala Harian Astana Giribangun Sukirno.

Setelah doa, Kapolri bersama para peserta mengakhiri rangkaian upacara dengan menaburkan bunga di pusara dua tokoh tersebut. Tindakan ini dilakukan sebagai simbol penghargaan atas sumbangan mereka yang mengubah wajah bangsa. Soeharto dan Ibu Tien dikenang sebagai peran penting dalam membangun Indonesia, baik secara politik maupun sosial, dengan menjaga stabilitas nasional selama masa pemerintahan mereka.

Insight dari Kabid Humas Polda Jawa Tengah

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto memberikan penjelasan bahwa ziarah ini memperkuat komitmen Polri dalam menghormati para pendahulu bangsa. “Melalui ziarah ini, seluruh anggota Polri diajak untuk meneladani nilai-nilai kepemimpinan, disiplin, loyalitas, serta semangat pengabdian yang diwariskan para tokoh nasional,” kata Artanto. Ia juga menegaskan bahwa perayaan Hari Bhayangkara ke-80 memberikan kesempatan untuk merefleksikan pengabdian yang diharapkan terus ditingkatkan.

Dalam kesempatan tersebut, Artanto menambahkan bahwa kegiatan ziarah memiliki makna besar sebagai bagian dari tradisi institusi kepolisian. “Semangat yang diwariskan para tokoh bangsa harus menjadi inspirasi bagi seluruh insan Bhayangkara dalam menjalankan tugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat,” tuturnya. Ia juga menyebut bahwa peringatan ke-80 ini menjadi titik penting bagi transformasi Polri menjadi institusi yang lebih profesional, modern, humanis, dan terpercaya.

“Di usia ke-80 ini, Polri berkomitmen untuk terus bertransformasi menjadi institusi yang profesional, modern, humanis, dan semakin dipercaya masyarakat,” pungkas Artanto.

Prosesi ziarah di Astana Giribangun menunjukkan upaya Polri untuk menghubungkan sejarah dengan masa kini. Soeharto dan Ibu Tien, meski sering dikritik, tetap menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Dengan memperingati peran mereka, Kapolri memberikan kesempatan bagi seluruh anggota untuk memperkuat nilai-nilai yang dipegang oleh institusi tersebut. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Gubernur dan Kapolda Jawa Tengah menunjukkan koordinasi antarlembaga dalam merayakan hari yang istimewa ini.

Hari Bhayangkara ke-80 bukan hanya tentang upacara, tetapi juga tentang introspeksi dan pembaruan. Polri berupaya memastikan bahwa semangat para pendahulu tetap relevan dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Kegiatan ini juga memperkuat identitas nasional dengan mengingat kembali kontribusi tokoh-tokoh yang telah membangun pondasi Republik Indonesia. Dengan tabur bunga dan doa, Polri menunjukkan bahwa pengabdian dan dedikasi terhadap bangsa adalah nilai yang tidak pernah usang.

Pemakaman Astana Giribangun, yang merupakan pusat peringatan bagi keluarga besar Soeharto, telah menjadi simbol kebangsaan bagi banyak orang. Kehadiran Kapolri di sini menegaskan bahwa institusi kepolisian tetap memperhatikan warisan sejarah dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, kunjungan tersebut juga memperkuat hubungan antara Polri dengan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara. Dengan mengajak seluruh insan Bhayangkara untuk merefleksikan nilai-nilai kepemimpinan, Kapolri menegaskan bahwa peran kepolisian tidak hanya terbatas pada keamanan, tetapi juga pada penjagaan persatuan dan keharmonisan bangsa.

Pengembangan Makna Peringatan

Dalam pandangan Kabid Humas Polda Jawa Tengah, kegiatan ini membawa makna baru bagi masyarakat. “Ziarah ke makam para pendahulu tidak hanya

Leave a Comment