Sport

New Policy: 450 Atlet Panahan Tradisional Jateng Berebut Tiket ke Kejurnas

450 Atlet Panahan Tradisional Jateng Berebut Tiket ke Kejurnas New Policy - Minggu (21/6/2026), Magelang menjadi salah satu lokasi penting bagi para atlet

Desk Sport
Published Juni 21, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

450 Atlet Panahan Tradisional Jateng Berebut Tiket ke Kejurnas

New Policy – Minggu (21/6/2026), Magelang menjadi salah satu lokasi penting bagi para atlet panahan tradisional Jawa Tengah. Sebanyak 450 peserta, berasal dari 25 kabupaten dan kota di seluruh provinsi tersebut, berlomba dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) yang diadakan di Stadion Amerta. Acara ini memiliki makna strategis, karena menjadi langkah awal untuk memilih atlet terbaik yang akan mewakili Jateng dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Jawa Timur bulan Agustus mendatang.

Dalam dunia olahraga panahan tradisional, Kejurda ini tidak hanya menjadi ajang menguji kemampuan atlet, tetapi juga sarana untuk mengembangkan bakat secara terus-menerus. Junaidi, Ketua Pengurus Daerah Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (Fespati) Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa event ini dirancang agar para peserta bisa menunjukkan potensi terbaiknya. “Maksud dari Kejurda ini bukan sekadar menentukan juara. Kami juga ingin melihat bagaimana para atlet mampu berkembang sesuai usia dan kemampuan mereka,” jelas Junaidi, saat diwawancara di lokasi pertandingan.

Kejuaraan ini menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Setiap kategori memiliki jarak tembak yang berbeda, sehingga kompetisi tetap seimbang dan sesuai dengan level pengalaman peserta. Dalam Kejurda kali ini, atlet U-9 bertanding dari jarak 5 meter, sedangkan U-12 dijadwalkan pada jarak 10 meter. Kategori U-15 dan U-18 masing-masing menggunakan 15 meter dan 20 meter. Untuk peserta dewasa, jarak tembak dinaikkan hingga 30 meter. Junaidi menjelaskan bahwa penyesuaian jarak ini bertujuan memastikan bahwa setiap atlet bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya secara proporsional.

“Kontingen Jawa Tengah butuh atlet yang mampu menunjukkan fokus dan konsistensi di level nasional. Kejurda menjadi sarana untuk mengidentifikasi mereka,” ujar Junaidi.

Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Vioni Amaza Humairo, atlet asal Kabupaten Magelang yang mulai menekuni panahan sejak duduk di bangku SD. Ia mengakui bahwa persiapan jauh lebih intens dibandingkan kejuaraan sebelumnya. “Saya selalu berlatih rutin dan memastikan kondisi fisik tetap prima. Selain itu, mental juga harus stabil agar tidak terganggu saat bertanding,” kata Vioni, yang sudah tiga kali mengikuti lomba panahan nasional.

Vioni menegaskan bahwa keberhasilan dalam pertandingan bergantung pada beberapa faktor. Selain teknik menembak yang akurat, kemampuan untuk menjaga ketenangan di bawah tekanan menjadi kunci utama. “Saya percaya bahwa fokus dan ketenangan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sebelum lomba, istirahat yang cukup serta latihan konsisten sangat penting,” tambahnya. Dalam Kejurda tahun ini, Vioni berharap bisa memperkuat posisi Jawa Tengah di Kejurnas yang akan dihelat di Jawa Timur.

Ketua Fespati Jateng menambahkan bahwa Kejurda ini juga menjadi bagian dari strategi regenerasi atlet panahan tradisional. “Dengan melibatkan atlet dari berbagai usia, kami ingin menjaga kualitas prestasi Jawa Tengah di masa depan,” kata Junaidi. Selain itu, event ini juga bertujuan menggalang antusiasme masyarakat terhadap olahraga tradisional, yang dianggap sebagai warisan budaya lokal.

Kejuaraan ini menyajikan suasana yang penuh semangat. Para peserta dari berbagai daerah memperlihatkan kompetisi yang sengit, meski tetap menjunjung nilai sportifitas. Junaidi menegaskan bahwa selain menguji kemampuan teknis, ajang ini juga memperkuat kebersamaan dan semangat juang para atlet. “Kontingen Jateng membutuhkan kekompakan dan semangat yang sama. Kejurda ini menjadi media untuk menjaga hubungan baik antar-atlet dan pelatih,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga panahan tradisional semakin mendapat perhatian di Jawa Tengah. Banyak daerah yang aktif mengembangkan cabang olahraga ini, bahkan membangun pusat pelatihan khusus. Junaidi menyebutkan bahwa sejumlah besar atlet muda yang berminat menekuni panahan datang dari latar belakang beragam, termasuk dari luar kota besar. “Kami melihat potensi mereka dan berusaha memberikan fasilitas yang memadai untuk meningkatkan keterampilan,” kata Junaidi.

Kejurda tahun ini diharapkan bisa menjadi pintu masuk bagi atlet-atlet muda untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional. Junaidi juga menyoroti peran penting pelatih dan pembina dalam menyiapkan atlet. “Tanpa dukungan dari pelatih, banyak atlet tidak akan mampu mencapai level seperti saat ini. Kami bersyukur karena banyak pihak yang aktif membantu pengembangan olahraga ini,” tuturnya.

Bagi Vioni, Kejurda merupakan bagian dari perjalanan panjang menuju prestasi yang lebih tinggi. Ia berharap bisa terus memperbaiki teknik dan mentalnya, agar bisa bersaing dengan atlet lain di Kejurnas nanti. “Saya ingin menjadi contoh bagi atlet muda lainnya. Kalau bisa, saya ingin membawa nama Jawa Tengah ke tingkat nasional,” harap Vioni, yang menilai bahwa kejuaraan ini sangat berharga untuk mengasah kemampuan.

Kejuaraan ini juga menjadi wadah untuk mengukur kemajuan olahraga panahan tradisional di Jawa Tengah. Dengan adanya 450 peserta, kompetisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang tertarik mengikuti cabang olahraga ini. Junaidi menambahkan bahwa setiap tahun, partisipasi peserta meningkat, sehingga memperkuat eksistensi olahraga tradisional di tengah persaing

Leave a Comment