Noor Azizah, Aktivis Rohingya, Tutup Akun Instagram Usai Kritik Kondisi Pengungsi di Indonesia dan Malaysia
Special Plan – Dari Jakarta, Beritasatu.com -Aktivis kelompok Rohingya, Noor Azizah, mendapat perhatian luas setelah pidatonya yang disampaikan di Australia menyebar secara viral di platform media sosial. Dalam wawancara tersebut, ia menyampaikan berbagai penjelasan tentang situasi pengungsi Rohingya di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Pernyataannya memicu reaksi beragam dari warganet yang terus membanjiri komentar di media sosial. Video pidato Noor Azizah, yang diunggah ulang oleh akun Instagram @HMetromy, viral pada Selasa (16/6/2026), mengundang perdebatan terkait perlakuan yang dialami komunitas Rohingya di berbagai wilayah.
Kritik terhadap Kondisi Pengungsi di Malaysia dan Thailand
Dalam pidatonya, Noor Azizah menyoroti kondisi pengungsi Rohingya di Malaysia dan Thailand, menyebutkan bahwa negara-negara tersebut sering kali menjadi tempat perlindungan bagi keluarga yang terlantar. Ia menunjukkan keluhan mengenai perlakuan yang dianggap tidak manusiawi terhadap anak-anak Rohingya di Malaysia. “Malaysia memiliki sekitar 2.000 anak Rohingya yang berada di pusat imigrasi, tumbuh di balik jeruji besi dengan alasan mereka berada di kelas,” kata Noor Azizah dalam penjelasannya. Ia juga mengungkap praktik perdagangan manusia yang terjadi di Thailand, menyebut bahwa sebagian besar pengungsi Rohingya mengalami tekanan besar, termasuk laki-laki yang dipaksa bekerja dan perempuan yang hilang tanpa kejelasan.
“Anda mungkin mengetahui bahwa Malaysia dan Thailand merupakan destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh keluarga. Namun, di sana mereka tidak bisa bebas seperti yang seharusnya,” ujar Noor Azizah.
Lebih lanjut, Noor Azizah menyoroti keadaan di Indonesia. Menurutnya, pengungsi Rohingya masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan misinformasi di media sosial. “Di Indonesia sendiri, ujaran kebencian dan disinformasi terus membanjiri platform digital. Masyarakat mengklaim kita sebagai ‘hewan berkulit gelap’, ‘m*ny*t’, hingga ‘sampah laut’,” kata aktivis tersebut.
Kontroversi dan Reaksi Publik
Reaksi terhadap pidato Noor Azizah bervariasi. Sejumlah warganet mengkritik pernyataannya, merasa ia tidak mengucapkan rasa terima kasih kepada negara-negara yang telah membantu pengungsi Rohingya. “Ibarat melepaskan anjing yang terjepit,” tulis seorang netizen. “Mengapa dia tidak menyalahkan negaranya sendiri,” komentar lainnya. Beberapa juga menilai ucapan Noor Azizah terlalu keras dan tidak menggambarkan rasa syukur terhadap bantuan yang diberikan.
“Di Indonesia, orang-orang terus menyebar kebencian dan informasi yang salah. Mereka menilai kita tidak layak diterima sebagai bagian dari masyarakat,” tambah Noor Azizah.
Menurut analisis, pidato tersebut memicu perbedaan pandangan mengenai tanggung jawab negara-negara penerima pengungsi. Beberapa pihak berargumen bahwa keadaan pengungsi Rohingya di Asia Tenggara memang memprihatinkan, sementara yang lain merasa Noor Azizah terlalu menyederhanakan masalah dengan mengkritik Indonesia dan Malaysia secara langsung.
Akun Instagram Noor Azizah Berubah Status
Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, akun Instagram milik Noor Azizah, @noor.azizah.rohingya, kini tidak dapat diakses secara publik atau berada dalam mode privat setelah video pidatonya viral dan menuai kontroversi. Perubahan ini menunjukkan tindakan terhadap akun yang sebelumnya menjadi media penyampaian aspirasi komunitas Rohingya. Sejumlah pengguna media sosial menduga bahwa perubahan mode privat berlangsung sebagai respons terhadap kritik yang muncul di berbagai komentar.
Konteks dan Dampak Pidato di Media Sosial
Konteks pidato Noor Azizah terjadi dalam suasana krisis pengungsi Rohingya yang berlangsung di berbagai negara. Sejak 2017, peristiwa kekerasan terhadap komunitas Rohingya di Myanmar memaksa jutaan orang mengungsi ke negara-negara tetangga. Di Indonesia, sekitar 30.000 pengungsi Rohingya tinggal di berbagai provinsi, terutama di Kalimantan dan Jawa. Malaysia menjadi tujuan utama, dengan populasi pengungsi mencapai 110.000 orang, sedangkan Thailand menerima sekitar 40.000 orang.
Dalam pidatonya, Noor Azizah memfokuskan pada masalah utama yang dihadapi oleh anak-anak Rohingya di Malaysia. Ia menyebut bahwa mereka tidak hanya mengalami ketidakadilan di sistem imigrasi, tetapi juga merasa terasingkan dari masyarakat lokal. “Anak-anak Rohingya tidak hanya terkurung, tetapi juga dihina dengan berbagai label yang memperparah kesedihan mereka,” katanya.
“Pemerintah Malaysia harus lebih sensitif terhadap kebutuhan pengungsi. Jangan hanya menganggap mereka sebagai masalah ekonomi,” tambah Noor Azizah.
Di sisi lain, Noor Azizah juga menyoroti perlakuan di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa meskipun negara ini menampung pengungsi Rohingya, kondisi mereka masih tidak stabil. “Di Indonesia, ujaran kebencian terus mengalir, dan kita terus dianggap sebagai ancaman,” ujarnya. Pernyataan ini menimbulkan perdebatan antara pihak yang menganggap keadaan pengungsi Rohingya memang buruk dan pihak yang merasa keadaan di Indonesia tidak seterrible seperti yang dinyatakan.
Kontroversi yang terjadi menunjukkan peran media sosial dalam mempercepat berita dan mengubah persepsi publik. Dengan cepat, pidato Noor Azizah menjadi topik hangat di berbagai platform. Reaksi publik mencerminkan ketegangan antara kepedulian terhadap isu pengungsi Rohingya dan kecemburuan atas penyebaran informasi yang dianggap tidak adil. Beberapa pihak menilai bahwa keadaan di Malaysia dan Indonesia memang memprihatinkan, sementara yang lain menganggap Noor Azizah kurang mengapresiasi bantuan yang diberikan.
Kedalaman Penjelasan dan Perkembangan Terkini
Beritasatu.com mencatat bahwa hingga berita ini ditulis, Noor Azizah belum memberikan pernyataan lanjutan terkait kritik yang muncul. Namun, banyak yang berharap ia akan menjelaskan lebih lanjut mengenai konteks pidato tersebut. Perubahan status akun Instagramnya menjadi sorotan, dengan beberapa pengguna menilai bahwa ia memutus koneksi dengan publik sebagai bentuk pemberhentian sementara dari kegiatan sosialnya.
Kritik terhadap Noor Azizah juga mencakup isu identitas dan keberhasilan dalam menyebarluaskan pesan. Sejumlah warganet menilai bahwa ia memanfaatkan momentum viral untuk menyoroti permasalahan, tetapi tidak menjelaskan latar belakang kebijakan negara-negara penerima. “Menyampaikan kritik adalah satu hal, tetapi menjelaskan alasan di baliknya adalah hal lain,” tulis seorang pengguna. Namun, Noor Azizah tetap dianggap sebagai suara penting dalam isu pengungsi Rohingya.
Kontroversi ini menunjukkan bagaimana isu migrasi dan pengungsi bisa menimbulkan perdebatan intensif di media sosial. Dengan pidato yang viral, Noor Azizah tidak hanya memperkuat perhatian terhadap nasib pengungsi Rohingya, tetapi juga memicu dialog yang lebih luas mengenai keterlibatan negara-negara penerima dalam mengatasi krisis tersebut. Meski status akunnya berubah, pernyataan dan penjelasannya tetap menjadi referensi untuk diskusi mengenai kebijakan imigrasi dan perlindungan pengungsi di Asia Tenggara.
