Tapir Jantan Berbobot 300 Kg Ditemukan Mati di Jalur Koridor Hutan PT RAPP
Latest Program – Kuantan Singingi, Beritasatu.com – Sebuah kejadian mengejutkan terjadi di wilayah Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, ketika seekor tapir jantan dewasa dengan berat sekitar 300 kg ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di jalan koridor areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Baserah. Satwa yang dilindungi ini diduga menjadi korban tabrakan dengan kendaraan yang melintas di lokasi tersebut.
Lokasi Penemuan
Menurut Ujang Holisudin, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, kejadian ini terjadi pada Selasa (16/6/2026). Lokasi penemuan, yang terletak di jalur koridor kawasan hutan tanaman industri, diketahui sebagai salah satu jalur alami yang sering digunakan tapir untuk berpindah menuju habitatnya. “Wilayah tersebut merupakan jalur lintasan tapir yang sering terpantau bergerak dari dan menuju tempat tinggal alaminya,” jelas Ujang, Sabtu (20/6/2026).
“Kawasan itu dipandang sebagai jalur perlintasan alami tapir yang kerap digunakan satwa ini untuk berpindah ke habitatnya,” tambah Ujang.
Menurut Ujang, kejadian ini menunjukkan adanya risiko konflik antara satwa liar dan aktivitas transportasi di area hutan tanaman. BBKSDA Riau berharap kejadian semacam ini dapat menjadi peringatan bagi seluruh pihak yang berada di sekitar jalur tersebut.
Pemeriksaan Lapangan
Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan di lokasi, tapir jantan tersebut mengalami luka serius di beberapa bagian tubuh. Tim menemukan kerusakan pada pinggul atau paha kiri serta perut sebelah kanan. Selain itu, terdapat tanda-tanda perdarahan dari hidung, yang mengindikasikan adanya trauma akibat benturan keras. “Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa kematian satwa diduga terjadi karena tabrakan dengan kendaraan yang melintas di jalur tersebut,” kata Ujang.
Tidak ditemukan bukti perburuan seperti luka tembak atau goresan dari senjata tajam. Hal ini memperkuat dugaan bahwa tapir tersebut meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. BBKSDA Riau memastikan bahwa tidak ada indikasi penggunaan senjata atau kegiatan lain yang menyebabkan kematian satwa tersebut.
Upaya Pencegahan Penyebaran Penyakit
Setelah ditemukan, bangkai tapir langsung ditangani oleh tim BBKSDA Riau sesuai dengan prosedur penanganan satwa liar. Bangkai tersebut dikuburkan di sekitar lokasi penemuan untuk mencegah penyebaran penyakit maupun risiko zoonosis. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya mengurangi paparan virus atau bakteri yang mungkin terbawa oleh bangkai hewan yang mati.
Ujang menegaskan bahwa prosedur ini penting guna memastikan lingkungan sekitar tetap aman bagi manusia dan satwa lainnya. “Penanganan yang tepat dilakukan untuk meminimalkan potensi penyebaran penyakit yang bisa mengancam kesehatan masyarakat dan ekosistem sekitarnya,” tutur Ujang.
Peringatan untuk Perusahaan dan Masyarakat
BBKSDA Riau mengingatkan seluruh pihak, terutama perusahaan yang beroperasi di sekitar jalur tersebut, untuk meningkatkan kewaspadaan. Ujang menyoroti bahwa area ini merupakan jalur kritis bagi tapir dan satwa lainnya yang sering berpindah. “Upaya ini penting dilakukan agar konflik antara manusia dan satwa liar dapat diminimalkan,” ujarnya.
Dengan adanya kejadian ini, BBKSDA Riau mengajak seluruh pihak untuk lebih sadar dalam mengelola lingkungan hutan. Ujang juga mengharapkan kesadaran masyarakat agar menghindari perlambatan atau penyebaran habitat hewan-hewan dilindungi di wilayah tersebut.
Konteks Lintasan Alami Tapir
Jalur koridor PBPH PT RAPP Estate Baserah menjadi titik perlintasan penting bagi tapir. Wilayah ini terletak di antara habitat alami tapir yang terpisah oleh aktivitas manusia, seperti pabrik dan jalan raya. Ujang menjelaskan bahwa tapir sering menggunakan jalur ini untuk berpindah antar hutan, terutama saat musim migrasi atau mencari makanan.
Dengan keberadaan jalur ini, BBKSDA Riau meminta perusahaan untuk memperhatikan keberlanjutan ekosistem. “Peningkatan pengawasan di jalur tersebut diperlukan untuk melindungi keberadaan satwa-satwa yang dilindungi,” pungkas Ujang. Penemuan tapir ini menjadi momentum untuk merefleksikan pentingnya konservasi hutan dan satwa yang tinggal di dalamnya.
Langkah Selanjutnya dan Harapan
Dalam upaya penanganan, BBKSDA Riau mengatakan bahwa semua temuan terkait kejadian ini telah dihimpun dan dianalisis secara rinci. Tim konservasi terus memantau situasi sekitar lokasi untuk mengetahui apakah ada korban lain atau kondisi yang memperburuk risiko kecelakaan serupa. Ujang juga mengimbau masyarakat sekitar untuk mengambil langkah preventif, seperti memasang papan pengumuman atau mengurangi kecepatan kendaraan saat melintas di jalur tapir.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi seluruh pihak bahwa hutan tanaman industri tidak sepenuhnya aman bagi satwa liar. Ujang menekankan bahwa BBKSDA Riau akan terus berkoordinasi dengan perusahaan dan masyarakat guna menciptakan lingkungan yang harmonis. “Kita perlu mencari solusi jangka panjang agar tapir dan satwa lainnya dapat bertahan di wilayah ini,” katanya.
Informasi Tambahan
Selain kejadian tabrakan tapir, terdapat sejumlah berita lain yang terkait lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pemerintah setempat sedang berupaya memperkuat kawasan konservasi dengan meningkatkan pengawasan di area hutan. Di sisi lain, beberapa warga mengeluhkan kesulitan akses ke layanan kesehatan setelah kejadian bencana alam di daerah lain. Sementara itu, seminar khusus tentang perubahan iklim dan inovasi di bidang
