Gagal Ikut Pesparawi Manokwari, Video Paduan Suara Asal Kepri Viral
Key Strategy – Sebuah video yang menampilkan rombongan peserta paduan suara wanita dari Kepulauan Riau (Kepri) bernyanyi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, beredar luas di platform media sosial. Momen ini memperlihatkan 27 perempuan yang terlantar di kawasan bandara setelah diduga mengalami kendala dalam penerbangan ke Manokwari. Kejadian tersebut menimbulkan rasa simpati publik, khususnya karena mereka berusaha menampilkan keahlian musiknya meski harus menghadapi situasi tidak terduga.
Menurut narasi yang diunggah oleh akun Instagram @chorister.id dan @venhuk_, rombongan yang seharusnya tampil di acara Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) di Manokwari terjebak di Bandara Soetta. Mereka berangkat dari Batam, dengan jadwal keberangkatan pada Rabu (24/6/2026), dan rencananya melanjutkan perjalanan ke Manokwari dari Jakarta. Namun, saat memasuki proses check-in, tiket penerbangan mereka tidak terdeteksi oleh sistem maskapai. Masalah ini mengakibatkan mereka terlantar, meski berusaha memperbaiki situasi dengan membawakan lagu-lagu bersama di area bandara.
“Hak kami dirampas, mereka tidak berteriak. Mereka bernyanyi. Kisah pilu 27 perempuan kontingen Paduan Suara Wanita Kepri yang gagal total ke Pesparawi Manokwari akibat kelalaian fatal panitia yang tidak membayar tiket penerbangan,” tulis akun @chorister.id, seperti dikutip Minggu (28/6/2026).
Kontingen yang terdiri dari anggota dari Kota Tanjungpinang mengalami kesulitan karena pihak travel diklaim tidak melunasi pembayaran tiket. Padahal, mereka sudah mengirimkan permintaan ke panitia agar diberangkatkan lebih awal. Agen perjalanan awalnya berjanji untuk mengatur keberangkatan pada hari berikutnya, namun hingga menjelang penerbangan dari Jakarta ke Manokwari, peserta belum mendapatkan konfirmasi pasti terkait tiket lanjutan.
Setiba di Bandara Soetta, rombongan sempat berpindah terminal setelah memperoleh informasi bahwa maskapai telah berubah. Meski demikian, saat proses check-in dilakukan, petugas menyatakan bahwa waktu pembukaan bagasi sudah ditutup. Setelah pemeriksaan tambahan, ditemukan bahwa kode booking yang diterima peserta belum dibayarkan oleh pihak travel, sehingga tiket tidak dapat digunakan. Kondisi ini memaksa mereka berada di bandara sejak pagi hari, sambil menunggu solusi dari pihak terkait.
Sebagai respons, Asisten Deputy Communication and Legal Bandara Soetta, Yudistiawan, memberikan pernyataan bahwa lokasi dalam video berada di dalam kawasan bandara tersebut. “Kalau lihat lokasinya, sepertinya benar (dalam kawasan Bandara Soekarno-Hatta) ini,” kata Yudistiawan dikonfirmasi Beritasatu.com, Minggu (28/6/2026). Meski begitu, hingga berita ini ditulis, pihak penyelenggara Pesparawi Manokwari serta travel yang disebutkan belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab gagalnya keberangkatan kontingen paduan suara tersebut.
Detail Pembaruan Jadwal dan Konflik yang Terjadi
Kontingen yang berangkat dari Kepri menghadapi hambatan saat mengubah rencana perjalanan. Mereka awalnya terdaftar untuk menggunakan jadwal penerbangan Rabu (24/6/2026), tetapi karena tiket belum terbayar, terpaksa menunda keberangkatan hingga keesokan harinya. Meski terlantar, para anggota tetap berusaha memanfaatkan waktu yang ada dengan tampil di bandara, menampilkan lagu-lagu yang merupakan bagian dari latihan mereka. Kegiatan ini direkam oleh netizen dan diunggah ke media sosial, menjadi trending dalam waktu singkat.
Kelalaian panitia menjadi sorotan utama dalam kejadian ini. Diklaim bahwa pihak yang bertugas mengelola keberangkatan tidak menyediakan dana untuk membeli tiket peserta. Akibatnya, peserta tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Manokwari. Meski telah meminta bantuan untuk keberangkatan, tidak ada tindakan konkret yang dilakukan. Rombongan ini memang dianggap tidak bersalah, karena masalahnya berasal dari kekurangan pembayaran pihak pihak ketiga.
Sebagai bagian dari upaya memperbaiki situasi, agen perjalanan menjanjikan keberangkatan pada hari kedua, tetapi tetap belum ada kepastian. Di sisi lain, keluarga para peserta meminta kejelasan terkait nasib mereka, sementara warga netizen membagikan video tersebut dengan tagar #ViralPaduanSuara dan #KepriGagalManokwari. Komentar publik terutama menyayangkan kondisi para anggota kontingen yang terpaksa menunda acara utama dan menampilkan diri di lokasi yang tidak terencana.
Konteks Pesparawi dan Dampak atas Gagalnya Keberangkatan
Pesparawi Manokwari adalah ajang tahunan yang dihadiri peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kepri. Event ini menggabungkan pertunjukan paduan suara dengan kegiatan religius dan budaya. Sebagai bagian dari kontingen, kehadiran 27 perempuan ini diharapkan mampu memperkuat prestasi Kepri dalam bidang seni musik. Namun, gagalnya mereka berangkat menyebabkan kekecewaan terhadap pihak penyelenggara dan pihak travel.
Video yang beredar menunjukkan emosi para anggota yang terus berusaha menyelesaikan situasi. Mereka mengenakan seragam khas paduan suara, sambil menghibur diri sendiri dengan bernyanyi di area bandara. Tampilannya terlihat sangat menawan, meski suasana yang terjadi di luar rencana. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengenalkan budaya dan seni Kepri kepada publik, meski dengan cara yang tidak terduga.
Kelalaian fatal panitia terkait pembayaran tiket menjadi titik kontroversi. Jika pembayaran tidak dilakukan tepat waktu, peserta tidak bisa mengikuti acara yang dijadwalkan. Dalam konteks ini, penjelasan yang belum muncul dari pihak terkait membuat publik menyoroti kegagalan tersebut. Beberapa warganet menilai bahwa ini adalah contoh dari kelalaian manajemen dalam penyelenggaraan acara besar.
Sebagai bagian dari upaya mengatasi situasi, pihak bandara menyatakan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait masalah tiket. Namun, hingga saat ini, belum ada penjelasan jelas dari panitia penyelenggara maupun travel yang terlibat. Situasi ini memperlihatkan bahwa kegagalan keberangkatan tidak hanya memengaruhi peserta, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang lebih luas. Momen viral tersebut menjadi
