Komando Pusat AS Memberikan Penjelasan Terkait Serangan Udara Terhadap Iran yang Dilakukan Beruntun
Special Plan – Beritasatu.com, Jakarta – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyampaikan penjelasan mengenai alasan serangan udara terhadap Iran yang terjadi dalam dua hari berturut-turut. Operasi militer ini dianggap sebagai respons langsung atas tindakan Iran yang menghantam kapal dagang di Selat Hormuz, sebuah jalur laut strategis yang diklaim melanggar kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara. Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa perjanjian yang ditandatangani pada 17 Juni 2026—yang dikenal sebagai Memorandum of Understanding (MoU)—berada di ambang kegagalan. Kedua pihak saling menuduh satu sama lain telah melanggar ketentuan dalam perjanjian tersebut.
Target Serangan dan Dampak yang Terjadi
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyatakan bahwa serangan udara tersebut dilakukan atas instruksi Presiden Amerika Serikat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. “Pasukan CENTCOM meluncurkan serangan hari ini sebagai bentuk reaksi terhadap agresi Iran yang terus-menerus terhadap pelayaran komersial,” tulis lembaga tersebut, seperti yang dilaporkan Aljazeera pada hari Minggu (28/6/2026). Serangan tersebut menargetkan berbagai infrastruktur militer Iran, termasuk sistem pengawasan, komunikasi, pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebaran ranjau.
Tidak lama setelah operasi dimulai, ledakan dilaporkan terjadi di wilayah selatan Iran, khususnya di sekitar Desa Tahrui dekat Pelabuhan Sirik. Media pemerintah Iran juga mengungkapkan bahwa Pulau Qeshm menjadi salah satu sasaran serangan. Selain itu, konflik ini menimbulkan kecemasan terkait kelanjutan stabilitas jalur perdagangan internasional, yang merupakan pintu masuk utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak, gas alam, serta barang penting lainnya.
Perbedaan Interpretasi dalam Perjanjian Gencatan Senjata
Menurut data dari MarineTraffic, kapal tanker Panama Kiku yang menjadi korban serangan sebelumnya berangkat dari ladang minyak Al Shaheen dan direncanakan tiba di Fujairah, Uni Emirat Arab. Kapal tersebut dihantam oleh drone serang satu arah saat mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah. Tidak ada laporan mengenai korban atau kebocoran bahan bakar akibat insiden tersebut.
Satu hari sebelumnya, kapal kontainer berbendera Singapura Ever Lovely juga menjadi sasaran serangan drone saat melintasi Selat Hormuz. Kedua insiden ini dianggap sebagai dasar bagi operasi militer AS pada Jumat (26/6/2026). CENTCOM menegaskan bahwa Iran telah diberi kesempatan untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata setelah serangan terhadap Ever Lovely, tetapi pihak AS menyatakan bahwa Iran kembali melakukan aksi serupa terhadap kapal dagang.
Perbedaan tafsir antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sumber utama ketegangan. Dalam MoU yang ditandatangani 17 Juni 2026, Iran berkomitmen memberikan akses aman kepada kapal dagang selama 60 hari. Namun, pihak AS menegaskan bahwa kapal yang melintasi perairan Oman tidak perlu mendapatkan izin dari Iran. Sebaliknya, Iran berpendapat bahwa semua kapal yang melewati perairan mereka atau negara tetangga harus berkoordinasi dengan otoritas Teheran. Perbedaan ini memicu saling tuduh antara kedua negara.
Peringatan dan Dampak Potensial dari Serangan AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan resmi bahwa operasi militer terhadap Iran bisa menjadi awal dari tindakan yang lebih besar. “Sangat mungkin mereka tidak akan pernah belajar,” ujarnya melalui platform Truth Social. Trump juga memperingatkan bahwa Washington siap meningkatkan eskalasi militer jika konflik berlanjut. “Jika situasi ini tidak membaik, kita mungkin terpaksa menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi,” lanjutnya.
Menurut sumber militer AS, serangan udara terbaru menunjukkan keputusan untuk memastikan lalu lintas perdagangan internasional tetap aman. “Pasukan AS tetap waspada, mematikan, dan siap untuk menangani ancaman di Selat Hormuz,” tambahnya. Aksi ini menimbulkan risiko kenaikan harga minyak global, terutama karena jalur tersebut menjadi pintu masuk utama bagi sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Komentar Ahli dan Dampak Politik
Profesor Universitas Teheran, Hassan Ahmadian, mengatakan bahwa tindakan Iran mengawasi kapal di Selat Hormuz adalah langkah defensif untuk memastikan jalur laut tersebut tidak dimanfaatkan bagi kepentingan militer. Sementara itu, pensiunan perwira Angkatan Laut AS, Harlan Ullman, memperingatkan bahwa perang saling balas dapat berkembang menjadi konflik lebih besar. “Perjanjian-perjanjian itu sangat rapuh, dan aksi saling balas ini bisa berujung pada ketegangan di luar kendali,” kata Ullman.
Dalam konteks geopolitik, kekhawatiran tentang kegagalan MoU antara AS dan Iran semakin meningkat. Sementara Iran menekankan keharusan koordinasi dengan otoritas mereka, AS menganggap kebijakan itu terlalu ketat dan mengancam kebebasan perdagangan. Konflik ini juga memperlihatkan ketegangan yang terus berlanjut antara dua pihak, yang sebelumnya sempat mencapai kesepakatan untuk menjaga perdamaian di wilayah strategis tersebut.
Proses Pemulihan dan Prospek Masa Depan
Sebagai langkah pencegahan, komando militer AS memastikan bahwa operasi terhadap infrastruktur Iran akan terus dilakukan jika pihak lawan tidak mematuhi kesepakatan. “Kita akan terus memantau aktivitas Iran dan siap bertindak jika ada indikasi pelanggaran,” tambah pihak AS. Sementara itu, Iran berharap bahwa tindakan AS bisa menjadi titik balik untuk memulai dialog kembali. Meski begitu, hubungan antara kedua negara tampak semakin tegang, dengan potensi untuk mengakibatkan dampak besar pada stabilitas kawasan Timur Tengah.
Konflik di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi hubungan AS-Iran, tetapi juga mengancam perdagangan global. Dengan peningkatan serangan terhadap kapal dagang, risiko gangguan pasokan energi meningkat, yang berpotensi mem
