Danau Urmia Menyusut 90 Persen, Krisis Air Iran Kian Mencekam
Special Plan – Iran kini menghadapi krisis air yang semakin parah, dengan konflik yang berlangsung sejak awal 2026 memperparah kondisi paling kritis. Bagi jutaan penduduk, ancaman utama bukan hanya perang, tetapi kekeringan yang telah menguras sumber daya air seperti danau, waduk, sungai, dan cadangan air tanah selama bertahun-tahun. Perubahan lingkungan ini terlihat jelas melalui citra satelit terbaru, yang menunjukkan transformasi drastis di berbagai wilayah. Danau Urmia, salah satu simbol kekeringan, yang sempat menyimpan luas hampir 6.000 kilometer persegi pada era 1990-an, kini hanya tersisa sekitar 581 kilometer persegi. Angka ini menandakan bahwa luas danau tersebut telah menyusut hingga kurang dari 10% dari ukuran aslinya.
Krisis Air dan Dampak pada Ekosistem
Danau Urmia, yang sebelumnya dikenal sebagai danau asin terbesar di kawasan Timur Tengah, kini berubah menjadi hamparan garam tandus. Perubahan ini menunjukkan kerusakan ekologis yang semakin parah. Dalam beberapa dekade terakhir, daerah sekitar danau mengalami penurunan fungsi ekologisnya. Faktor penyebab utama termasuk pembangunan lebih dari 60 bendungan di sepanjang sungai yang menjadi sumber pasokan air. Pembangunan bendungan tersebut secara bertahap membatasi aliran air ke danau, sementara kebutuhan irigasi pertanian meningkat, mengakibatkan lebih banyak air dialihkan ke lahan pertanian.
Kerusakan ekosistem juga didorong oleh eksploitasi air tanah yang berlangsung selama puluhan tahun. Cadangan akuifer di bawah wilayah danau terus berkurang, mempercepat penyusutan air. Perubahan iklim memperburuk situasi dengan suhu yang meningkat dan curah hujan yang menurun dari tahun ke tahun. Penguapan yang lebih cepat dan persediaan air yang semakin langka menciptakan siklus krisis yang sulit teratasi.
Konsumsi Air dan Kebutuhan Pertanian
Krisis air Iran tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga penggunaan sumber daya yang melebihi kemampuan alam untuk memulihkan. Institute Sumber Daya Dunia (WRI) mengklasifikasikan negara ini sebagai wilayah dengan tekanan air sangat tinggi. Status tersebut diberikan kepada negara yang menghabiskan lebih dari 80% air terbarukan yang tersedia setiap tahun. Pada 2025, sekitar 92 juta penduduk mengonsumsi sekitar 100 miliar meter kubik air, sementara sumber daya terbarukan hanya mampu menyediakan 87 miliar meter kubik. Dengan kata lain, Iran setiap tahun mengambil 13 miliar meter kubik air di luar kapasitas alaminya.
Sebagian besar konsumsi air di negara ini dialokasikan untuk pertanian. Hingga 91% dari total penggunaan air nasional digunakan dalam sektor pertanian, dibandingkan 7% untuk kebutuhan rumah tangga dan 2% untuk industri. Masalah utama lainnya adalah efisiensi sistem irigasi yang rendah. Infrastruktur yang sudah usang menyebabkan sebagian besar air hilang sebelum mencapai tanaman. Hal ini memperparah konsumsi air tanpa hasil yang proporsional.
Krisis Sosial dan Dampak Masyarakat
Krisis air tidak lagi terbatas pada lingkungan. Dampaknya kini berujung pada masalah sosial dan kemanusiaan, dengan jutaan orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal. Data dari Wakil Presiden Iran untuk Pembangunan Pedesaan dan Daerah Tertinggal, Abdolkarim Hosseinzadeh, menunjukkan bahwa dari 69.000 desa yang ada, hanya 38.000 yang masih berpenghuni. Artinya, sekitar 31.000 desa telah ditinggalkan penduduknya. Angka ini belum mencakup desa-desa yang bertahan namun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Dari sekitar 69.000 desa di Iran, hanya 38.000 yang masih memiliki penduduk. Sebanyak 31.000 desa telah ditinggalkan, dan jumlah ini belum termasuk desa yang terus beroperasi tetapi menghadapi kesulitan pasokan air,” ujar Hosseinzadeh.
Menurut Perusahaan Air dan Sanitasi milik negara, sekitar 27.000 desa yang berpenghuni saat ini mengalami kekurangan air bersih. Penduduk di desa-desa ini terpaksa mencari sumber air alternatif, seperti sungai yang kering atau waduk yang hampir kosong. Situasi ini meningkatkan risiko kesehatan, keterbatasan akses makanan, dan penurunan kualitas hidup di daerah pedesaan.
Krisis air juga memengaruhi kehidupan ekonomi. Produksi pertanian terganggu karena kekeringan, mengakibatkan ketidakpastian pangan bagi masyarakat. Sementara itu, biaya pengiriman air ke daerah-daerah terpencil meningkat, membebani anggaran pemerintah. Selain itu, penurunan air mengakibatkan kesulitan memenuhi kebutuhan industri, yang bergantung pada pasokan air yang stabil.
Perluasan konflik bersenjata memperburuk situasi dengan merusak infrastruktur air sipil. Jaringan distribusi dan fasilitas pengolahan air menjadi rentan, mempercepat krisis. Selain itu, ancaman kekeringan meningkatkan tekanan pada sistem air yang sudah rapuh, sehingga jutaan warga terancam kehabisan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan menggabungkan dampak perubahan iklim, penggunaan air yang berlebihan, dan konflik, Iran terus menghadapi tantangan besar. Kondisi ini mengingatkan bahwa krisis air bukan hanya masalah teknis, tetapi juga politik dan sosial yang memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari. Solusi jangka panjang diperlukan untuk memulihkan ekosistem dan memastikan akses air yang adil bagi seluruh penduduk.
