Nusantara

Meeting Results: Karhutla Bukit Sempana Hanguskan 282 Hektare, Pendakian Ditutup

Karhutla Bukit Sempana Menghanguskan 282 Hektare, Pendakian Dibatasi Sementara Meeting Results - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menggerogoti

Desk Nusantara
Published Juni 12, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Karhutla Bukit Sempana Menghanguskan 282 Hektare, Pendakian Dibatasi Sementara

Meeting Results – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menggerogoti kawasan Padang Savana Bukit Sempana, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berdampak signifikan pada lingkungan alam setempat. Berdasarkan laporan terkini, area yang terkena api mencapai sekitar 282 hektare, sehingga memaksa pihak pengelola untuk menghentikan sementara aktivitas pendakian selama dua minggu. Tindakan ini diambil demi menjaga keamanan wisatawan serta mencegah penyebaran api ke wilayah lain.

Kebakaran tersebut merambat melalui hamparan savana yang meluas dari bagian utara pegunungan hingga lereng selatan bukit. Luasnya area yang terbakar membuat tim pemadam harus bekerja dengan intensif selama dua hari dan satu malam. Kombinasi dari kekuatan angin dan kekeringan vegetasi menyulitkan upaya pengendalian, sehingga membutuhkan kerja sama lintas sektor untuk memadamkan kobaran api.

Pendakian ke Bukit Sempana dibatasi sebagai langkah antisipasi setelah kondisi api di area utama terbaca reda. Namun, petugas masih terus memantau sekitar untuk menghindari kemungkinan titik api baru muncul. “Alhamdulillah, apinya sudah mati semua dan tidak merembet ke tempat lain. Kami masih menunggu laporan lengkap dari tim di lapangan untuk mengetahui kondisi kawasan secara menyeluruh,” kata Sifawarman, pengelola wisata Bukit Sempana, Kamis (11/6/2026).

“Baik dari pengelola maupun tim gabungan, dari Polhut, TNI, kepolisian, termasuk tim pemadam, alhamdulillah sudah bekerja selama 2 hari 1 malam untuk pemadaman api,” ujar Sifawarman.

Tim gabungan yang diterjunkan ke lokasi terdiri dari Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II NTB, Tim RTH Sambelia, TNI, Polri, serta Tim Manggala Agni Wilayah III Mataram. Upaya bersama ini berhasil mencegah api menjalar ke sejumlah area di sekitar jalur wisata yang dikelola masyarakat lokal. Meski situasi terkendali, pengelola menegaskan bahwa pemantauan tetap dilakukan karena potensi kekeringan dan cuaca yang memicu risiko.

Menurut Sifawarman, kebakaran memengaruhi tidak hanya kawasan savana utama tetapi juga bagian-bagian sekitar yang menjadi jalur kunjungan. “Kita belum tahu perkembangan secara menyeluruh karena sampai saat ini saya belum bertemu langsung dengan tim pemadam yang sudah turun dari lokasi,” imbuhnya. Dengan menutup sementara pendakian, pihak pengelola berharap pemulihan kawasan dapat berjalan optimal.

Durasi penutupan jalur pendakian bertujuan untuk evaluasi dampak kebakaran, pemulihan lingkungan, serta pemeriksaan keamanan jalur yang sempat terganggu. “Masa penutupan ini juga dimanfaatkan untuk memastikan tidak ada potensi kebakaran susulan yang terlewat,” jelas Sifawarman. Hal ini merupakan langkah strategis untuk melindungi destinasi alam yang populer tersebut.

Karhutla di kawasan savana Sembalun kembali menjadi peringatan terkait risiko kebakaran yang meningkat saat musim kemarau. Vegetasi yang kering, angin kencang, dan medan bukit yang curam menjadi faktor utama yang memperumit proses pemadaman. Selain itu, kondisi ini mengingatkan kembali pentingnya pengawasan ketat terhadap aktivitas yang bisa memicu kebakaran, seperti penggunaan api di area hutan atau savana.

Pihak terkait mengimbau masyarakat serta pengunjung untuk tidak melakukan tindakan yang berpotensi menyebabkan api baru. Dari mulai membuang puntung rokok secara sembarangan hingga menyalakan api di sekitar kawasan hutan menjadi perhatian utama. “Dengan penutupan sementara, kita bisa lebih fokus mengamankan jalur dan memastikan pemulihan berjalan lancar,” tambah Sifawarman.

Kebakaran yang terjadi menggambarkan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan lingkungan alam. Meski kejadian ini berhasil diatasi, dampaknya terhadap ekosistem dan kegiatan wisata masih terasa. Pemadaman yang memakan waktu dua hari satu malam menunjukkan intensitas api yang tinggi, serta kebutuhan sumber daya yang besar untuk mengendalikannya.

Dalam proses penanganan, koordinasi antarinstansi menjadi kunci. Tim gabungan dari berbagai lembaga seperti KPH, RTH, TNI, dan Polri menunjukkan komitmen untuk menjaga kawasan. Peran Tim Manggala Agni Wilayah III Mataram terlihat jelas dalam upaya memadamkan api di area yang terpencil. Keberhasilan memadamkan kebakaran dianggap sebagai langkah awal untuk memulihkan keadaan, namun langkah-langkah preventif tetap diperlukan.

Sebagai refleksi dari peristiwa ini, Lombok Timur kembali menjadi contoh wilayah yang rentan terhadap kebakaran. Fenomena karhutla menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan alam, terutama saat cuaca kering dan angin berhembus kencang. “Kita perlu beradaptasi dengan kondisi musim kemarau, termasuk siapkan rencana darurat jika api muncul kembali,” lanjut Sifawarman.

Kondisi yang aman akan ditentukan setelah tim pemadam menyelesaikan semua pemeriksaan dan memastikan tidak ada titik api tersembunyi. Penutupan sementara pendakian diharapkan tidak hanya mengurangi risiko kebakaran tetapi juga memberi waktu untuk evaluasi yang menyeluruh. Dengan demikian, kawasan Bukit Sempana dapat kembali dibuka sebagai destinasi yang layak dikunjungi.

Kebakaran ini juga menjadi pembelajaran bagi pengelola wisata dan pemerintah setempat. Dengan perubahan iklim yang tidak menentu, pengelolaan kawasan harus lebih proaktif. Selain itu, kejadian ini menegaskan bahwa peningkatan kewaspadaan dari masyarakat dan pelaku wisata sangat dibutuhkan untuk menghindari risiko serupa di masa depan.

Sebagai langkah pencegahan, pengelola dan tim pemadam terus memperkuat langkah-langkah preventif. Pemerintah daerah juga memperhatikan peran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Kebakaran Bukit Sempana menjadi momentum untuk meningkatkan kolaborasi dan kesadaran bersama terkait perlindungan ekosistem alam.

Leave a Comment