Pawai Obor 1 Muharam Meriahkan Malam Tahun Baru Islam di Sangihe
Hadirnya Pawai Obor
Important Visit – Malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Kampung Bahu, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut), berlangsung dengan penuh semangat. Ratusan warga turut serta dalam pawai obor yang menjadi bagian dari rangkaian acara merayakan awal tahun baru berdasarkan kalender Islam. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Keimaman Masjid Imaduddin Bahu dan melibatkan sekitar 100 peserta, terutama anak-anak dan perempuan dewasa. Kehadiran mereka menciptakan suasana yang hangat dan penuh keharmonisan di sepanjang jalur acara.
Sambutan dari Imam
“Pawai obor bukan hanya tradisi tahunan untuk menyambut perayaan Tahun Baru Islam, tetapi juga sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda,” kata Imam Masjid Imaduddin Bahu, Abdurahman Padarat, Minggu (14/6/2026). Ia menambahkan, momen seperti ini diharapkan mampu memperkuat kecintaan masyarakat terhadap agama dan menciptakan kebersamaan antarumat beragama.
Persiapan untuk acara ini sudah dimulai sebelum hari H. Para peserta tampak antusias mengikuti instruksi panitia, sementara orang tua berperan aktif dalam menjaga ketertiban dan mendukung kegiatan berjalan lancar. Cahaya dari obor yang dipegang peserta menyapu jalanan Kampung Bahu, menciptakan aura religius yang menyatu dengan kegembiraan masyarakat.
Perjalanan dan Keterlibatan Masyarakat
Pawai dimulai dari halaman Masjid Imaduddin Bahu, kemudian dilepas secara bersama oleh panitia dan tokoh masyarakat setempat. Para peserta berjalan menyusuri beberapa wilayah, seperti dari kawasan Lendongan Satu Mameha hingga Lendongan Tiga Tanjungbio, sambil membawa obor dan mengumandangkan syiar keagamaan. Acara ini menggabungkan kegiatan fisik dengan pesan spiritual, yang diharapkan memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat.
Seiring perjalanan, warga setempat secara aktif menyaksikan dan turut serta dalam kegiatan. Suara anak-anak yang berteriak semangat, serta doa-doa yang diucapkan oleh peserta, menciptakan suasana penuh makna. Kehadiran seluruh lapisan usia dalam pawai menunjukkan komitmen masyarakat Kampung Bahu untuk menjaga tradisi dan mempererat ikatan keagamaan. Acara berakhir di Mushala As-Salam Tanjungbio, yang menjadi titik akhir perjalanan para peserta.
Pesan dan Harapan
Menurut Abdurahman Padarat, pawai obor menjadi momen penting untuk memperkuat persaudaraan antarumat beragama dan menciptakan rasa memiliki terhadap komunitas lokal. Ia juga menekankan bahwa acara ini bertujuan mendorong generasi muda untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan, sekaligus menjadi sarana edukasi tentang nilai-nilai Islam. “Merekalah generasi yang akan melanjutkan estafet perkembangan di masa depan,” ujarnya.
Terlepas dari keindahan pawai, acara ini juga memberikan pelajaran tentang pentingnya kerja sama dan keterlibatan masyarakat dalam merayakan tradisi. Para peserta, yang terdiri dari berbagai usia, menunjukkan semangat yang luar biasa. Keterlibatan mereka tidak hanya memperkaya pengalaman pribadi, tetapi juga membantu memperkuat kebersamaan di tengah komunitas. Pawai obor tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun kebersatuan dalam keragaman.
Konteks dan Makna Tradisi
Dalam konteks kehidupan modern, pawai obor tetap relevan sebagai simbol kepercayaan pada Tuhan dan semangat memperkuat persatuan. Abdurahman Padarat menjelaskan, acara ini dipilih karena mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua, dalam satu kegiatan yang memiliki makna spiritual dan sosial. “Melalui pawai ini, kita bisa membangun kesadaran akan pentingnya menjaga nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Kehadiran tokoh masyarakat dan panitia dalam mengawali dan menutup pawai menunjukkan dukungan luas terhadap kegiatan tersebut. Mereka berperan sebagai penghubung antara tradisi dan kehidupan sehari-hari, memastikan bahwa nilai-nilai yang disampaikan bisa sampai ke generasi muda. Acara ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa keagamaan bisa dimeriahkan tanpa mengorbankan harmoni sosial.
Kesenian dan Simbolisme
Dalam perjalanan pawai, peserta tidak hanya membawa obor, tetapi juga menampilkan kesenian dan pertunjukan keagamaan yang memperkaya pengalaman. Cahaya obor yang menyala-nyala menjadi simbol semangat, sementara suara dan tarian yang diiringi doa-doa keagamaan menambah keindahan acara. Kombinasi ini membuat pawai bukan sekadar ritual, tetapi juga ekspresi kegembiraan dalam menghadapi tahun baru.
Abdurahman Padarat menambahkan, acara ini juga bertujuan menciptakan kesadaran akan pentingnya memupuk rasa nasionalisme dan persatuan. Dengan menggabungkan tradisi dan kebersamaan, pawai obor di Kampung Bahu menjadi contoh bagaimana keagamaan bisa menjadi fondasi untuk memperkuat tali persaudaraan di tengah masyarakat. Ia berharap, kegiatan ini bisa menjadi contoh yang dapat ditiru oleh daerah lain.
Kontinuitas dan Dampak
Kegiatan pawai obor yang berlangsung di Kampung Bahu memberikan dampak yang nyata terhadap kehidupan komunitas setempat. Peserta menggambarkan semangat baru, sementara warga yang menyaksikan merasa terlibat dalam menyemangati perayaan tersebut. Dengan berlangsungnya acara ini, masyarakat Kampung Bahu merayakan 1 Muharam 1448 Hijriah dengan sukacita, harapan, dan semangat untuk terus memperkuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan acara ini menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan tidak selalu monoton, tetapi bisa menjadi momen yang dinamis dan penuh makna. Peserta yang antusias dan masyarakat yang aktif dalam menyambut, mencerminkan adanya rasa kebersamaan dan perhatian terhadap budaya serta tradisi lokal. Pawai obor ini juga memberikan ruang untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk inovasi dalam merayakan Tahun Baru Islam, sambil tetap mempertahankan esensi spiritualnya.
Masa Depan dan Harapan
Sebagai momen tahunan, pawai obor di Sangihe diharapkan menjadi pemicu untuk terus mengembangkan kegiatan keagamaan yang kreatif dan inklusif. Abdurahman Padarat berharap, kegiatan ini bisa menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial dan budaya. “Dengan partisipasi aktif dari semua lapisan, kita bisa membangun fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.
Kehadiran pawai obor dalam rangka merayakan Tahun Baru Islam juga menjadi pengingat akan pentingnya memperhatikan generasi muda dalam konteks pendidikan agama. Dengan menyisipkan elemen kegembiraan dan kebersamaan, acara ini menunjukkan bahwa tradisi bisa tetap relevan dan hidup dalam dunia yang semakin modern. Masyarakat Kampung Bahu, khususnya, menunjukkan komitmen untuk menjaga tradisi lokal sambil tetap mengikuti perkembangan zaman.
