Internasional

Main Agenda: Menjelang Dimulainya KTT G7, Demonstran dan Polisi Bentrok di Jenewa

Menjelang Dimulainya KTT G7, Demonstran dan Polisi Bentrok di Jenewa Protes di Jenewa Sebelum KTT G7 di Prancis Main Agenda - Jenewa, Beritasatu.com– Sehari

Desk Internasional
Published Juni 15, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Menjelang Dimulainya KTT G7, Demonstran dan Polisi Bentrok di Jenewa

Protes di Jenewa Sebelum KTT G7 di Prancis

Main Agenda – Jenewa, Beritasatu.com– Sehari sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang akan dimulai di Evian-les-Bains, Prancis, kota ini menjadi lokasi bentrok antara massa aksi dan aparat keamanan. Kejadian tersebut terjadi pada Minggu (14/6/2026) dan melibatkan ribuan peserta yang mengekspresikan kecaman terhadap kebijakan kelompok negara-negara ekonomi maju. Aksi protes diwarnai kerusakan properti, pembakaran kendaraan, serta pertarungan dengan petugas kepolisian.

Berikutnya, sebuah perahu dengan slogan “No G7” berlayar di Danau Jenewa, menjadi simbol penolakan terhadap KTT yang dihadiri oleh pemimpin negara-negara anggota G7. Peserta aksi membagi diri ke berbagai kelompok, termasuk aktivis lingkungan, penggiat media independen, kelompok feminis, pendukung kemerdekaan Palestina, hingga organisasi anti-imperialisme. Mereka berkumpul di taman tepi danau sebelum melanjutkan pawai ke pusat kota.

Dalam proses aksi, sebagian peserta melemparkan benda-benda ke arah polisi. Respons aparat keamanan datang dengan mengeluarkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang dianggap berperilaku anarkistis. Kegiatan tersebut mengakibatkan sejumlah mobil di sekitar jalur pawai dilaporkan terbakar. Petugas pemadam kebakaran diterjunkan ke lokasi dengan pengawalan ketat oleh polisi antihuru-hara.

Kelompok Militan dan Penolakan Terhadap KTT

Dalam aksi tersebut, sekitar 600 orang dikabarkan merupakan anggota kelompok militan “Black Block” yang terlibat dalam kerusakan fasilitas perbankan. Mereka mencabut pembatas kayu dan memecahkan kaca bangunan sebagai bagian dari tuntutan mereka. Menurut juru bicara Kepolisian Jenewa, Alexandre Brahier, total peserta aksi mencapai 20.000 orang, dengan sebagian besar menyuarakan keberatan terhadap agenda KTT yang dianggap mengabaikan isu krisis lingkungan dan ketidakadilan ekonomi.

“Kami menargetkan sekitar 20.000 peserta dalam aksi ini, termasuk anggota kelompok militan yang memperkuat tuntutan kami,” kata Brahier.

Bentrok antara demonstran dan polisi tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga menyebar ke berbagai titik strategis. Salah satu titik utama adalah area perbankan yang dihancurkan, sementara beberapa peserta mengarahkan perhatian ke masalah krisis lingkungan. Mereka menilai KTT G7 tidak cukup menangani isu seperti perubahan iklim atau ketidakseimbangan distribusi kekayaan global.

KTT G7 dan Persiapan Keamanan

KTT G7 yang berlangsung selama tiga hari dimulai Senin (15/6/2026) akan menjadi panggung diskusi bagi para pemimpin negara, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan ini diperkirakan menyoroti isu-isu seperti konflik Timur Tengah, perang di Ukraina, dan ketimpangan ekonomi internasional. Untuk menjaga keamanan, pemerintah Swiss dan Prancis mengerahkan ribuan personel kepolisian serta militer.

Dari total 35 jalur perlintasan darat antara kedua negara, hanya tujuh yang tetap dibuka selama penyelenggaraan KTT. Sejumlah jalan utama ditutup, sementara pertemuan publik tanpa izin dilarang. Pemerintah juga memperketat pengawasan di sekitar perbatasan untuk mencegah potensi gangguan selama acara berlangsung.

Pengaruh Protes terhadap Kota dan Ekonomi

Kegiatan protes berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari warga Jenewa. Perusahaan-perusahaan lokal yang terdampak pembatasan akses diwajibkan menerima dukungan keuangan dari pemerintah. Dukungan ini diharapkan meringankan beban mereka akibat penutupan jalan dan peningkatan biaya operasional.

Salah satu contoh konkretnya adalah pembatasan akses ke bandara dan stasiun kereta, yang menyebabkan keterlambatan transportasi. Selain itu, beberapa toko dan fasilitas umum ditutup sementara sebagai langkah pencegahan. Meski demikian, pihak berwenang menegaskan bahwa langkah tersebut tidak mengganggu kegiatan masyarakat secara keseluruhan.

Protes Global dan Konsensus Internasional

Aksi di Jenewa tidak terlepas dari momentum global menentang kebijakan pemerintah. KTT G7, sebagai forum utama negara-negara maju, sering kali menjadi target kritik terhadap keputusan politik dan ekonomi. Peserta aksi mempertanyakan apakah negara-negara anggota G7 benar-benar mewakili kepentingan rakyat mereka, atau lebih mengutamakan kepentingan ekonomi internasional.

Dalam konteks ini, keberadaan “Black Block” dianggap sebagai representasi dari gerakan sosial yang lebih radikal. Mereka menuntut langkah konkret untuk mengurangi emisi karbon, menegakkan hak asasi manusia, serta memerangi dominasi ekonomi negara-negara besar. Selain itu, aksi juga menggambarkan kekhawatiran terhadap peran G7 dalam menyelesaikan konflik regional, seperti situasi di Timur Tengah.

Isu Lingkungan dan Dukungan Masyarakat

Sejumlah massa aksi memfokuskan perhatian mereka pada isu lingkungan, dengan menyebarkan informasi tentang dampak perubahan iklim di kawasan alpine. Mereka menilai kebijakan G7 tidak memadai dalam mengatasi krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Meski beberapa warga Jenewa mengkritik pemerintah atas tindakan keras terhadap peserta aksi, mereka juga mendukung upaya keamanan untuk memastikan keberlangsungan KTT.

Persiapan keamanan selama KTT G7 menunjukkan koordinasi ketat antara Swiss dan Pr

Leave a Comment