Hasil Pertemuan: Dirut Jasa Raharja: Kecelakaan ubah tatanan sosial-ekonomi keluarga

Dirut Jasa Raharja: Kecelakaan ubah tatanan sosial-ekonomi keluarga

Dari Jakarta, Selasa – Muhammad Awaluddin, Direktur Utama Jasa Raharja, mengungkapkan bahwa kecelakaan tidak hanya mengakibatkan hilangnya nyawa, tetapi juga mengganggu kesejahteraan keluarga yang tinggal ditinggal korban. Ia menekankan bahwa sebagian besar korban kecelakaan berasal dari usia produktif dan berperan sebagai tulang punggung ekonomi, sehingga kejadian tersebut berdampak signifikan pada struktur sosial-ekonomi keluarga.

Kebutuhan Pendekatan Preventif

Dalam Diskusi Keselamatan Transportasi yang diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan, Awaluddin menyampaikan bahwa Jasa Raharja berupaya menggeser pendekatan dari responsif menjadi preventif. Tujuannya adalah mencegah kecelakaan secara terus-menerus dengan membangun sistem yang terpadu.

“Pendekatan saat ini masih dominan pada penanganan setelah kejadian, padahal kecelakaan terus berulang. Kami ingin mengarahkan fokus dari responsif ke preventif dengan kerja sama antar lembaga,” ujarnya.

Data Lokal dan Nasional

Menurut Awaluddin, Jasa Raharja memperkuat strategi pencegahan berdasarkan data. Ini dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak untuk mengurangi jumlah kecelakaan, korban meninggal, serta dampak ekonomi pada masyarakat. Dalam Triwulan I 2026, jumlah santunan di Sulawesi Selatan naik 11,14 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Jumlah kasus kecelakaan lalu lintas di wilayah tersebut juga meningkat 8 persen, mencapai lebih dari 2.000 kejadian.

Sementara secara nasional, data dari Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Korlantas Polri mencatat lebih dari 151.000 kejadian kecelakaan setiap tahun, dengan korban meninggal mencapai lebih dari 217.000 orang. Tren ini terus mengalami kenaikan setiap periode.

Peran Jasa Raharja dalam Pencegahan

Awaluddin menegaskan bahwa Jasa Raharja tidak hanya berperan dalam menyalurkan santunan, tetapi juga aktif dalam sistem pencegahan kecelakaan. Upaya ini mencakup pemetaan area berisiko, edukasi yang tersegmentasi, serta peningkatan kesiapan tanggap darurat di lapangan. Forum kolaboratif dianggap penting untuk merancang strategi keselamatan transportasi yang mengacu pada data lokal dan kondisi wilayah.

Perbaikan pada Wilayah Sulawesi Selatan

Dirlantas Polda Sulsel, Kombes Pol Pria Budi, menyampaikan bahwa meskipun jumlah kecelakaan meningkat 8 persen, angka korban meninggal berhasil diturunkan 24 persen. Pada Triwulan I 2025, terdapat 234 korban jiwa, tetapi angka ini berkurang menjadi 179 pada periode sama tahun 2026.

Dari data tersebut, 74 persen kecelakaan terjadi secara tunggal, sementara 78 persen kendaraan yang terlibat adalah sepeda motor. Kecelakaan paling sering terjadi antara pukul 15.00 hingga 18.00 Wita, terutama di cuaca cerah dan jalan yang baik. Polda Sulsel juga telah memetakan titik rawan kecelakaan, dengan fokus utama di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep.

Komitmen Kolaboratif

Awaluddin menyebut bahwa penegakan hukum diperkuat oleh 89 unit ETLE, terdiri dari 14 unit statis dan 75 unit portabel. “Keselamatan transportasi tidak hanya berupa pencegahan, tetapi juga kualitas penanganan saat kecelakaan terjadi,” tambahnya.

Dalam forum tersebut, sejumlah kesepakatan diambil, termasuk penguatan edukasi keselamatan di titik rawan dan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) untuk komunitas pengemudi sebagai petugas respons awal. Upaya ini bertujuan meminimalkan risiko fatal pada tahap pertama kecelakaan.