Ekonomi

New Policy: Harga Ayam Anjlok Akibat Krisis Likuiditas Peternak

Harga Ayam Hidup Turun Akibat Krisis Likuiditas dalam Rantai Pasok New Policy - Jakarta, Beritasatu.com – Organisasi peternak lokal, Perhimpunan Peternak

Desk Ekonomi
Published Juni 24, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Harga Ayam Hidup Turun Akibat Krisis Likuiditas dalam Rantai Pasok

New Policy – Jakarta, Beritasatu.com – Organisasi peternak lokal, Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), menyatakan penurunan harga ayam hidup dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya dipicu oleh peningkatan pasokan. Perkembangan ini, menurut mereka, mencerminkan tantangan struktural dalam sistem distribusi yang semakin menekan para peternak kecil. Ketua Umum Permindo, Kusnan, menjelaskan bahwa harga jual ayam hidup saat ini berada di bawah biaya produksi, menyebabkan kerugian signifikan bagi pengusaha ternak.

Kondisi Pasar Ayam yang Merosot

Menurut Kusnan, harga ayam hidup di berbagai daerah sentra produksi tercatat berkisar antara Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram. Angka ini jauh lebih rendah dari harga pokok produksi (HPP) yang telah menyentuh tingkat Rp22.000 per kilogram. Pengamat mengungkapkan bahwa kenaikan biaya pakan menjadi salah satu faktor utama yang memperparah situasi. Saat ini, biaya pakan mencapai Rp8.600 hingga Rp9.500 per kilogram, naik sekitar Rp1.000 dibandingkan masa sebelumnya.

“Peternak rakyat tidak hanya menghadapi penurunan harga ayam, tetapi juga tekanan yang membuat margin usaha terus berkurang,” kata Kusnan dalam pernyataan resmi, Selasa (23/6/2026).

Permasalahan ini berdampak langsung pada keuntungan usaha ternak. Peternak wajib mengeluarkan dana lebih besar untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, sementara harga jual mengalami penurunan signifikan. Diperkirakan, setiap kilogram ayam yang dijual menyisakan kerugian sekitar Rp5.000 hingga Rp7.000. Fenomena ini, menurut Kusnan, memperlihatkan pola cost-price squeeze, yaitu situasi di mana biaya produksi terus meningkat, sementara harga jual turun secara bersamaan.

Krisis Likuiditas dan Sistem Impor Pakan

Kusnan menyoroti bahwa krisis likuiditas yang dialami peternak bukan hanya akibat fluktuasi pasar, tetapi juga dipengaruhi tata kelola impor bahan baku pakan. Ia menyoroti skema pembayaran cash before delivery (CBD) yang membuat industri pakan bergantung pada modal kerja yang tinggi. Sistem ini memicu tekanan terhadap arus kas produsen, khususnya pengusaha skala menengah dan kecil, karena mereka harus membayar pakan terlebih dahulu sebelum menerima barang.

“Tekanan likuiditas ini berdampak pada kemampuan peternak untuk menangani kebutuhan operasional, seperti pembelian DOC, obat-obatan, dan biaya perawatan kandang,” ujarnya.

Dengan sistem CBD, para peternak terjebak dalam siklus pengeluaran yang memaksa mereka menghabiskan dana sebelum mendapatkan keuntungan. Hal ini mendorong banyak pemilik ternak menjual ayam lebih cepat, meskipun harga pasar sedang rendah. Tindakan tersebut, yang disebut sebagai panic selling, memicu lonjakan pasokan ayam di pasaran, memperkuat dominasi pedagang perantara, dan mengurangi daya tawar peternak.

Langkah Solusi dari Permindo

Permindo menyarankan sejumlah tindakan untuk memulihkan kondisi. Mereka meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem impor bahan baku pakan, agar bisa lebih adil dalam distribusi. Selain itu, organisasi ini menekankan perlunya penguatan pembiayaan rantai pasok, baik melalui bantuan keuangan maupun kemitraan yang lebih inklusif. Kusnan juga meminta pemerintah memperbesar program serapan ayam hidup dan karkas guna mengurangi kelebihan pasokan di pasar.

“Dengan membangun sistem data nasional yang transparan, kita dapat mengidentifikasi titik lemah dalam rantai pasok dan memberikan solusi tepat sasaran,” tegas Kusnan.

Kusnan menambahkan bahwa solusi ini penting untuk menjaga kelangsungan usaha peternak rakyat, yang selama ini menjadi pilar utama dalam penjaminan ketahanan pangan nasional. “Krisis likuiditas tidak hanya mengancam keuntungan sehari-hari peternak, tetapi juga berpotensi merusak struktur pasar secara keseluruhan,” jelasnya.

Dampak Jangka Panjang pada Industri Peternakan

Menurut analisis Permindo, penurunan harga ayam yang terjadi tidak hanya bersifat sementara. Hal ini merupakan hasil akumulasi efek domino dari berbagai faktor, termasuk konsentrasi impor bahan baku, peningkatan biaya produksi, dan kebijakan pasar yang tidak seimbang. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan produksi secara bertahap, karena peternak sulit mempertahankan operasional tanpa pendapatan yang memadai.

Kusnan juga menyoroti bahwa krisis likuiditas memicu siklus negatif dalam industri peternakan. Ketika peternak terpaksa menjual ayam dengan harga rendah, hal ini mengurangi permintaan dari pedagang, yang kemudian berdampak pada harga bahan baku. Dalam jangka panjang, situasi ini bisa mengakibatkan penutupan usaha ternak, terutama yang tidak memiliki akses ke modal usaha yang cukup.

Kebutuhan Perubahan Struktural

Permindo berpendapat bahwa perlu ada perubahan struktural dalam sistem pangan nasional. Mereka menekankan pentingnya transparansi data produksi, distribusi, dan harga untuk menghindari praktik yang tidak sehat. “Jika tidak ada intervensi segera, krisis likuiditas akan terus berlanjut dan merugikan ratusan ribu peternak,” ujarnya.

Kebijakan impor bahan baku pakan yang tidak seimbang, menurut Kusnan, menjadi salah satu penyebab utama. Ia menilai bahwa pengadaan pakan melalui CBD memaksa produsen kecil menghabiskan dana sebelum keuntungan tercapai. Selain itu, dominasi impor dalam sistem pasokan membuat peternak lokal sulit bersaing secara harga.

Langkah Pemerintah untuk Menjaga Stabilitas

Menurut Kusnan, pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah strategis. Penguatan pembiayaan rantai pasok dapat dilakukan melalui subsidi atau kredit yang lebih mudah diakses. Selain itu, pemerintah diharapkan memastikan kebijakan impor yang terstruktur, agar tidak hanya memperparah tekanan pada peternak, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kebijakan serapan ayam yang lebih besar, baik oleh pemerintah maupun perusahaan besar, bisa mencegah kelebihan pasokan. Dengan demikian, harga ayam hidup tidak akan anjlok terus-menerus. Kusnan juga menyarankan penguatan regulasi pasar untuk menjaga keseimbangan antara produsen dan pedagang, serta mendorong inovasi dalam pakan alternatif agar biaya produksi bisa diatasi.

Krisis harga ayam saat ini menjadi contoh nyata bagaimana ketimpangan struktur pasar bisa memengaruhi kehidupan rakyat. Dengan penurunan harga yang terus terjadi, para peternak kecil semakin terpojok, sementara keuntungan perantara dan produsen besar tetap terjaga. Permindo mengingatkan bahwa keber

Leave a Comment