Iran Nyatakan Amerika Serikat Pihak Pertama yang Melanggar Kesepakatan Islamabad
Key Discussion – Teheran secara tegas menuding Washington sebagai negara yang pertama kali mengingkari janji dalam Nota Kesepahaman yang disepakati bersama di Islamabad. according to Iranian officials, pelanggaran tersebut menyebabkan implementasi seluruh ketentuan dalam perjanjian kini berada dalam situasi yang sangat kritis. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers mingguan yang berlangsung pada hari Senin, tanggal 13 Juli 2026. Dalam konteks Key Discussion ini, Iran menekankan bahwa sikap Washington telah mengubah dinamika hubungan bilateral secara fundamental.
Baqaei menjelaskan bahwa perkembangan hubungan antara kedua negara ini menunjukkan peningkatan ketegangan yang signifikan. Hal ini terjadi setelah Washington melakukan aksi militer yang menurut pandangan Teheran bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional. Ketika ditanya mengenai prospek MoU Islamabad ke depannya, Baqaei menyatakan tanpa keraguan bahwa kesepakatan tersebut sedang memasuki fase krisis yang serius. Key Discussion menjadi semakin penting karena kedua negara perlu segera menemukan solusi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Komitmen Iran yang Konsisten
Dalam penjelasannya, Baqaei menekankan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah menjadi pihak pertama yang mengingkari kewajibannya dalam perjanjian tersebut. Ia menegaskan bahwa Teheran selalu mengikuti proses perundingan dengan penuh keseriusan dan selalu mengedepankan kepentingan rakyatnya. Terkait hal ini, Teheran mengaku menandatangani memorandum di Islamabad dengan iktikad baik dan penuh kepercayaan. Key Discussion tentang komitmen Iran menunjukkan bahwa Teheran siap melanjutkan dialog selama Washington menghormati kesepakatan.
Menurut Baqaei, Washington bahkan tidak menunggu masa satu bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 MoU yang mengatur kewajiban Iran terkait Selat Hormuz.
Ia menuding Amerika Serikat tidak memenuhi komitmennya dan justru melanggar kesepakatan sejak awal pelaksanaannya. Baqaei menjelaskan bahwa memorandum tersebut terdiri atas 14 poin, dan Iran tetap berkomitmen menjalankan seluruh isi perjanjian selama pihak lain juga memenuhi kewajibannya. Ia menegaskan tidak ada dasar untuk menuduh Iran melanggar isi MoU tersebut. Dalam Key Discussion ini, Iran meminta Washington untuk memberikan penjelasan formal mengenai pelanggaran yang dilakukan.
Bantahan terhadap Klaim Trump
Dalam kesempatan yang sama, Baqaei juga membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut delegasi Iran telah menyetujui berbagai isu, termasuk persoalan nuklir dan Selat Hormuz, dalam perundingan di Muscat, Oman. Menurut Baqaei, pembahasan dalam pertemuan tersebut hanya berfokus pada Selat Hormuz sesuai ketentuan Paragraf 5 MoU dan tidak mencakup isu lain. Key Discussion tentang klaim Trump menjadi sorotan karena menyangkut kredibilitas pernyataan resmi dari kedua negara.
Ia juga menuding pemerintah Amerika Serikat kerap menyampaikan informasi yang tidak sesuai fakta. Ia mengatakan Iran berupaya membangun mekanisme bersama Oman untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak dapat diwujudkan karena adanya tekanan terbuka maupun terselubung dari Amerika Serikat terhadap Oman. Key Discussion ini menunjukkan bahwa Iran tidak ragu untuk mengungkap ketidaksesuaian informasi yang disampaikan Washington.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan diplomatik antara kedua negara sedang menghadapi tantangan besar. Iran tetap bersikap terbuka untuk melanjutkan dialog, namun menuntut Washington untuk menghormati seluruh ketentuan yang telah disepakati bersama. Krisis ini diperkirakan akan berlangsung hingga kedua pihak mencapai titik temu yang memuaskan bagi semua pihak yang terlibat. Key Discussion tentang masa depan MoU Islamabad akan menjadi penentu stabilitas regional di kawasan Teluk Persia.
