VISA AS Jadi Momok Piala Dunia 2026, Fans dan Jurnalis Terancam Absen
Key Discussion – Washington, 12 Mei 2023 – Beritasatu.com – Piala Dunia 2026 diharapkan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah olahraga sepak bola global. Turnamen yang untuk pertama kalinya diadakan di tiga negara, yaitu Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, menghadirkan format baru dengan total 48 tim dan 104 pertandingan. Meski menjanjikan kesuksesan besar, perhatian publik kini lebih tertuju pada hambatan administratif yang terkait dengan pengurusan visa AS, yang dinilai menjadi tantangan signifikan bagi peserta turnamen dari berbagai belahan dunia.
Amerika Serikat Sebagai Tuan Rumah Utama
Amerika Serikat memegang peran sentral dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026, karena akan menjadi penyelenggara 78 pertandingan, termasuk laga final. Namun, kebijakan imigrasi yang diterapkan pemerintahan Donald Trump, yang dikenal ketat dan berorientasi keamanan nasional, memperumit upaya penyambutan atlet, ofisial, jurnalis, hingga suporter internasional. Pemohon visa harus memenuhi persyaratan dokumen yang sangat detail, seperti masa berlaku paspor minimal enam bulan setelah periode kunjungan selesai, kecuali bagi sejumlah negara yang mendapat pengecualian khusus.
“Tiket pertandingan bukanlah visa, dan tidak menjamin seseorang bisa memasuki wilayah AS,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menegaskan bahwa prosedur pemeriksaan tetap berlaku sama untuk semua pihak, tanpa memandang status atau peran mereka dalam turnamen.
Keputusan pemerintahan Trump untuk menerapkan pembatasan perjalanan terhadap sejumlah negara, terutama yang dianggap memiliki risiko keamanan tinggi, memicu kekhawatiran mengenai kesiapan AS dalam menyambut event sepak bola terbesar dunia. Kebijakan ini memaksa banyak peserta dari luar negeri menghadapi proses administrasi yang panjang dan kompleks, yang bisa menyebabkan ketidakinginan ke AS. Tantangan ini tidak hanya berdampak pada pemain, tetapi juga mengancam kehadiran jurnalis dan suporter yang ingin menyaksikan pertandingan langsung.
Syarat Visa yang Rumit
Untuk masuk ke AS, warga dari negara-negara yang tidak tergabung dalam program visa waiver harus mengajukan visa turis B1/B2. Proses pengajuan ini dikenal memakan waktu, memerlukan verifikasi dokumen ketat, serta wawancara langsung yang bisa memperpanjang jadwal. Sementara itu, warga Kanada dan Bermuda tidak perlu izin tambahan, sementara negara-negara lain dapat menggunakan sistem ESTA (Electronic System for Travel Authorization) sebagai alternatif.
FIFA memperkenalkan FIFApass atau FIFAPriority Appointment Scheduling System untuk mempercepat jadwal wawancara bagi pemilik tiket resmi. Meski sistem ini membantu, pemerintah AS tetap menjalankan prosedur pemeriksaan yang sama terhadap semua calon pengunjung. Kebijakan ini menimbulkan kontroversi karena dianggap bertentangan dengan semangat inklusivitas sepak bola internasional, yang seharusnya menyatukan pemain dan penonton dari berbagai latar belakang.
“Seluruh pengunjung harus meninggalkan AS setelah turnamen selesai,” kata Wakil Presiden AS JD Vance, menunjukkan bahwa pemerintah tetap menerapkan pengawasan ketat terhadap wisatawan asing selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Pengaruh Kebijakan Trump
Proses pembatasan perjalanan yang diterapkan era Trump menjadi salah satu penyebab utama peningkatan hambatan bagi negara-negara peserta. Empat negara yang terdampak langsung adalah Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading. Warga dari negara-negara ini menghadapi pengujian tambahan dalam penerbitan visa, yang memicu kritik dari berbagai pihak. Mereka menganggap kebijakan tersebut tidak sejalan dengan tujuan Piala Dunia untuk memperkaya pengalaman pertandingan dengan keberagaman peserta.
Analisis BBC menunjukkan tingkat penolakan visa AS bagi warga dari 11 negara peserta Piala Dunia 2026 mencapai lebih dari 40 persen. Negara-negara yang terlibat dalam penolakan tinggi antara lain Senegal (lebih dari 70 persen), Ghana, Republik Demokratik Kongo, Yordania, Tanjung Verde, Uzbekistan, Aljazair, Haiti, Mesir, dan Ekuador. Angka ini jauh di atas rata-rata penolakan visa turis dan bisnis B1/B2 secara global, yang berada di sekitar 34 persen.
Dalam beberapa kasus, warga negara tertentu bahkan terpaksa bepergian ke negara lain hanya untuk menjalani prosedur wawancara. Sebagai contoh, Abdulla Adnan, seorang suporter Irak, harus pergi ke negara lain setelah layanan konsuler AS di Irak dihentikan akibat konflik regional. Keadaan ini memperlihatkan betapa kompleksnya pengurusan visa, yang bisa menyebabkan keterlambatan atau ketidakinginan untuk menghadiri event tersebut.
Biaya dan Risiko Pengajuan Visa
Kebutuhan mengajukan visa juga diiringi biaya yang relatif tinggi. Pemohon harus membayar $185 sebagai tarif visa, yang dianggap sebagai beban tambahan bagi suporter atau jurnalis yang ingin datang. Selain itu, pengurusan visa memerlukan waktu dan perhatian ekstra, terutama bagi mereka yang tidak memiliki koneksi langsung dengan AS.
Kebijakan visa AS ini menciptakan ketidaknyamanan bagi banyak peserta Piala Dunia 2026. Banyak orang terpaksa mempersiapkan dokumen lebih awal, mengakses layanan konsuler di negara lain, atau menghadapi penolakan yang bisa menggagalkan re
