Internasional

New Policy: Kenapa Warga Eropa Mayoritas Tak Punya AC?

Kenaikan Suhu Ekstrem Menggeser Persepsi Masyarakat Eropa terhadap Penggunaan AC New Policy - BeritaSatu.com melaporkan bahwa gelombang panas ekstrem yang

Desk Internasional
Published Juni 28, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Kenaikan Suhu Ekstrem Menggeser Persepsi Masyarakat Eropa terhadap Penggunaan AC

New Policy – BeritaSatu.com melaporkan bahwa gelombang panas ekstrem yang semakin sering terjadi di Eropa telah memicu perubahan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya perangkat pendingin udara, seperti AC. Di banyak negara seperti Jerman, kepemilikan AC masih relatif rendah, meski di beberapa wilayah seperti Spanyol angka tersebut mencapai sekitar 50%. Fenomena ini memicu pertanyaan: mengapa sebagian besar penduduk Eropa belum mengadopsi AC secara luas?

Perbandingan Kepemilikan AC antar Negara

Dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, penggunaan AC di Eropa tidak seterkenal. Data Departemen Energi AS menunjukkan hampir 90% rumah tangga memiliki AC, sementara di Eropa, angka ini hanya sekitar 20%. Di Jerman, perbandingannya lebih rendah lagi—hanya sekitar 6% rumah tangga dilengkapi perangkat tersebut. Namun, angka ini bervariasi di antara negara-negara Eropa. Misalnya, di Spanyol, separuh populasi telah mengadopsi sistem pendingin, menunjukkan perbedaan strategi adaptasi cuaca.

Perbedaan ini disebabkan oleh faktor historis dan budaya. Sejumlah besar bangunan di Eropa utara dirancang untuk menghadapi musim dingin, dengan fokus pada isolasi dan pertahanan panas. Hal ini membuat penyesuaian untuk mengatasi panas musim panas terasa kurang mendesak. Namun, kenaikan suhu ekstrem yang terus-menerus terjadi akhir-akhir ini mengubah prioritas ini.

Dampak Ekstrem Panas pada Ekosistem dan Infrastruktur

Panaskan yang meningkat pesat di Eropa Barat, menurut laporan IPCC (Panels Antarpemerintah Perubahan Iklim), telah melampaui prediksi model iklim. Sebagai contoh, pada bulan Juni 2026, suhu di beberapa wilayah mencapai 2–4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi serupa di akhir abad ke-20. Penelitian dari ClimaMeter, organisasi riset Eropa yang mempelajari cuaca ekstrem, menegaskan bahwa tren ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga membebani infrastruktur listrik.

Dalam konteks ini, permintaan listrik untuk pendinginan melonjak tajam. Di Jerman, tingkat penggunaan AC meningkat hingga 75% selama periode 2019–2024, yang diakui sebagai tahun-tahun paling panas dalam sejarah pencatatan. Eurovent, asosiasi industri yang mencakup pemanas, ventilasi, pendingin, dan refrigerasi, juga mencatat pertumbuhan permintaan AC yang stabil dalam beberapa tahun terakhir.

Tantangan dalam Menyebarkan Penggunaan AC

Walau ada peningkatan kesadaran, resistensi terhadap AC masih kuat di Eropa. Menurut Stijn Renneboog, Wakil Sekretaris Jenderal Eurovent, konsep pendinginan ruangan seringkali dipandang sebagai kemewahan. “Banyak warga di media sosial tetap menyarankan untuk menghindari penggunaan AC, meski kondisi panas ekstrem justru membahayakan kesehatan,” kata Renneboog, mengutip laporan dari DW. Diperkirakan, hampir 20 ribu kematian terkait panas terjadi setiap tahun di Eropa.

Selain faktor budaya, hambatan teknis juga menjadi penyebab utama. Bangunan lama di Eropa, terutama di kota-kota bersejarah, sering kali memiliki aturan regulasi dan pertimbangan estetika yang menghambat pemasangan sistem pendingin. Contohnya, struktur bangunan yang berat dan material konstruksi lama membuat penambahan AC menjadi lebih kompleks dan mahal.

Pendorong untuk Meningkatkan Penetrasi AC

Laporan terbaru dari Boston Consulting Group (BCG) yang diterbitkan September 2025 memperkirakan era rendahnya penggunaan AC di Eropa akan segera berakhir. Hal ini didukung oleh perubahan iklim yang semakin ekstrem, yang memaksa masyarakat untuk lebih proaktif dalam menghadapi panas. Namun, kebutuhan untuk meningkatkan penetrasi AC masih memerlukan perubahan pola kebijakan dan kesadaran publik.

Studi terkini menunjukkan bahwa sekitar 45% warga Eropa lebih memilih meningkatkan peneduhan dan insulasi bangunan daripada mengadopsi AC. Meski demikian, banyak orang mulai menyadari bahwa pendinginan menjadi kebutuhan mutlak, terutama saat cuaca panas mencapai titik yang tidak terduga. Peningkatan kebutuhan listrik selama periode musim panas, misalnya, menggarisbawahi pentingnya AC dalam menjaga kenyamanan dan kesehatan.

Meski demikian, proses adaptasi ini tidak bisa terjadi secara instan. Diperlukan investasi besar dalam renovasi bangunan, pendidikan masyarakat, serta kebijakan yang mendukung penggunaan energi terbarukan. “Di masa depan, kita akan melihat pergeseran signifikan dalam penggunaan AC, tetapi perlu waktu untuk mengubah struktur bangunan yang sudah ada,” ujar Tommaso Alberti, peneliti dari ClimaMeter, dalam wawancara dengan DW.

Kesimpulan dan Tantangan Mendatang

Penggunaan AC di Eropa mulai mendapat perhatian lebih, terutama setelah gelombang panas memicu kebutuhan akan pendinginan. Namun, perlu keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Di satu sisi, AC menjadi solusi efektif untuk mengatasi panas ekstrem, tetapi di sisi lain, pemanfaatan energi listrik yang meningkat bisa berdampak pada lingkungan. Dengan demikian, Eropa harus mempercepat transformasi infrastruktur dan kesadaran masyarakat untuk menghadapi perubahan iklim secara komprehensif.

“Penyesuaian suhu di dalam ruangan adalah bagian penting dari adaptasi terhadap cuaca ekstrem. AC bukan sekadar alat, tapi kebutuhan yang harus diterima,”

—Tommaso Alberti, peneliti ClimaMeter.

Di samping itu, angka kepemilikan AC di Eropa menunjukkan bahwa penyesuaian akan terjadi secara perlahan. Dengan kombinasi kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan kesadaran masyarakat, kemungkinan besar Eropa akan mencapai tingkat penggunaan AC yang lebih signifikan dalam dekade mendatang. Namun, tantangan utama tetap ada, seperti biaya pemasangan dan perubahan kebiasaan hidup yang memerlukan waktu untuk terbentuk.

Leave a Comment