Respons Inggris-Prancis, Iran Tolak Militer Asing di Selat Hormuz
New Policy – Dalam reaksi terhadap kebijakan militer yang diusulkan oleh Inggris dan Prancis terhadap Selat Hormuz, Iran mengeluarkan pernyataan keras guna menegaskan bahwa daerah strategis itu harus dijaga keamanannya oleh negara-negara yang berbatasan langsung. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui platform X, seperti yang dilaporkan Anadolu, Sabtu (4/7/2026).
Pernyataan Iran sebagai Pemangku Kekuasaan
Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah jalur pelayaran vital yang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak lokal, bukan untuk kekuatan luar menunjukkan dominasi militer. “Kami memperingatkan negara-negara asing agar tidak melakukan aktivitas militer di wilayah ini, karena itu akan mengganggu kestabilan strategis,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa Iran, sebagai penjaga keamanan, mempertahankan peran penting dalam menjaga kebebasan navigasi, terutama dalam konteks ancaman dari luar kawasan.
“Panggung militer di Selat Hormuz tidak boleh dikuasai oleh kekuatan asing. Siapa pun yang memulai konflik akan bertanggung jawab atas akibatnya,” tegas Gharibabadi.
Peringatan Iran ini datang setelah menanggapi deklarasi bersama Inggris dan Prancis yang menyatakan kesiapan mengirimkan misi militer multinasional guna mendukung kebebasan perjalanan kapal di selat tersebut. Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap ketegangan geopolitik yang kian meningkat di wilayah strategis tersebut, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak global. Gharibabadi menekankan bahwa keberadaan militer asing di Selat Hormuz dapat meningkatkan risiko konflik, terutama jika tidak didasari kesepakatan bersama.
Nota Kesepahaman Iran-Amerika Serikat
Di sisi lain, perjanjian antara Iran dan Amerika Serikat, yang dimediasi oleh Pakistan, mulai berlaku pada 18 Juni 2026 setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump. Dokumen ini berisi sejumlah poin penting, termasuk penghentian permusuhan, pelonggaran sanksi ekonomi, serta penyelesaian isu nuklir melalui negosiasi. Selain itu, kembalinya kontrol atas Selat Hormuz menjadi fokus utama dalam kerangka kerja kedua negara.
Nota kesepahaman ini diharapkan menjadi alat untuk memperkuat hubungan bilateral dan menciptakan stabilitas di wilayah Timur Tengah. Dalam konteks ini, Iran dan Amerika Serikat sepakat untuk bekerja sama dalam mengelola keamanan kawasan lebih luas, termasuk mengurangi pengaruh kekuatan luar seperti Inggris dan Prancis. Meski demikian, keberadaan militer asing tetap menjadi isu sensitif yang harus diatasi secara kolektif.
“Gharibabadi memperingatkan bahwa kekuatan asing tidak boleh mengambil alih tanggung jawab keamanan Selat Hormuz. Ini adalah peringatan serius bagi negara-negara yang ingin memperluas pengaruh mereka di wilayah tersebut,” jelas pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh kementerian luar negeri Iran.
Dalam upaya menjaga keseimbangan kekuasaan, Iran menginginkan partisipasi aktif negara-negara pesisir dalam menjaga keamanan Selat Hormuz. Gharibabadi menekankan bahwa tindakan militer dari kekuatan luar bisa memicu eskalasi ketegangan, terutama jika tidak diiringi dialog yang konstruktif. Ia juga menyebut bahwa pihak yang menyebabkan krisis akan menjadi penanggung jawab utama atas dampak yang muncul.
Implikasi Strategis bagi Global Trade
Selat Hormuz, yang menghubungkan Laut Arab dan Laut Oman, adalah jalur pengiriman minyak terpenting di dunia. Setiap gangguan di wilayah ini dapat memengaruhi pasokan energi global dan meningkatkan harga minyak. Dengan adanya kekhawatiran Iran terhadap aktivitas militer asing, negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Inggris terpaksa mengevaluasi strategi mereka dalam menjaga dominasi di kawasan tersebut.
Kebijakan bersama Inggris-Prancis dianggap sebagai bagian dari upaya memperkuat kehadiran militer di wilayah strategis. Namun, pernyataan Iran menunjukkan bahwa negara-negara Timur Tengah ingin memperoleh kembali kendali atas keamanan mereka. Gharibabadi menegaskan bahwa keberadaan militer asing harus diawasi secara ketat, karena bisa berdampak pada keselamatan kapal-kapal komersial yang melintasi selat tersebut.
Koordinasi dengan Negara-Negara Pesisir
Iran mengusulkan kerja sama dengan negara-negara pesisir seperti Arab Saudi, Emirat Arab, dan Uni Emirat Arab guna menciptakan mekanisme pengamanan yang lebih efektif. Gharibabadi menekankan bahwa penghentian tindakan militer dari luar kawasan adalah langkah kunci dalam menjaga stabilitas Selat Hormuz. “Kami berharap negara-negara pesisir berperan aktif dalam menjaga keamanan, bukan hanya membiarkan kekuatan luar mengambil alih,” lanjutnya.
Dengan adanya nota kesepahaman dengan Amerika Serikat, Iran mengharapkan dukungan untuk memperkuat posisinya dalam menghadapi tekanan dari kekuatan besar. Kedua negara sepakat mengembangkan kerangka kerja bersama untuk menyelesaikan konflik dan meningkatkan kepercayaan antar negara. Meski begitu, keberhasilan kerja sama ini tergantung pada konsistensi komitmen dan kesediaan untuk memperkuat koordinasi dalam jangka panjang.
Di tengah ketegangan geopolitik, Selat Hormuz tetap menjadi titik fokus utama dalam diplomasi internasional. Pernyataan Iran menunjukkan bahwa negara ini tidak akan pasif dalam menjaga kepentingan nasionalnya. Dengan mengingatkan Inggris dan Prancis tentang peran lokal, Iran memperkuat posisinya sebagai pihak yang memiliki kepentingan langsung atas keamanan wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kebijakan luar negeri, Iran terus menegaskan bahwa kehadiran militer asing harus diawasi. Pernyataan Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah wilayah yang harus dijaga oleh kekuatan lokal, sehingga mengurangi risiko intervensi dari pihak luar. Langkah ini diharapkan mendorong keseimbangan kekuasaan dan menghindari dominasi satu negara dalam menentukan kebijakan keamanan wilayah strategis.
Dengan adanya perjanjian antara Iran dan Amerika Serikat, kedua pihak berharap bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman di kawasan tersebut. Namun, keberhasilan perjanjian ini tergantung pada komitmen yang sama dari semua pihak terlibat, termasuk Inggris dan Prancis. Dalam konteks ini, Iran menunjukkan bahwa ia tidak akan mudah menyerah dalam menegakkan kepentingannya di Selat Hormuz.
