5 Syarat Damai Rusia-Ukraina Disepakati, Perang Bakal Berakhir?
Topics Covered – Dalam upaya mencari solusi akhir dari konflik antara Rusia dan Ukraina, para pemimpin negara-negara Eropa serta pihak Kyiv menunjukkan kemajuan diplomatik setelah pertemuan tingkat tinggi di London pada Minggu (7/6/2026). Pertemuan ini diadakan saat serangan rudal dan drone Rusia terhadap Ukraina sedang meningkat, serta kondisi kebuntuan politik yang berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Di forum tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Hasil diskusi menghasilkan kerangka kesepakatan yang menyebutkan lima syarat utama untuk mencapai perdamaian yang dianggap adil dan berkelanjutan.
Syarat Pertama: Penghentian Kekerasan Secara Segera
Kesepakatan pertama yang ditetapkan di London adalah penghentian pertempuran secara penuh. Para pemimpin Eropa mengingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyetujui gencatan senjata tanpa penundaan. Mereka berargumen bahwa negosiasi yang bermakna tidak mungkin tercapai selama operasi militer dan serangan rudal terus berlangsung. Syarat ini semakin penting karena dalam beberapa pekan terakhir, serangan Rusia terhadap wilayah Ukraina meningkat drastis, termasuk serangan ke fasilitas penyimpanan bahan bakar nuklir bekas di dekat Chernobyl.
“Serangan tersebut adalah tindakan keji yang merugikan rakyat Ukraina,” kata Zelenskyy sebelum menghadiri pertemuan, menanggapi laporan bahwa sebuah drone menyerang area tersebut.
Syarat Kedua: Garis Depan Sebagai Dasar Awal Perundingan
Syarat kedua menetapkan bahwa garis kontak yang terbentuk saat ini di medan perang dapat menjadi dasar awal untuk pembicaraan damai. Pendekatan ini dianggap sebagai langkah pragmatis, memungkinkan proses negosiasi dimulai tanpa harus menyelesaikan seluruh perselisihan wilayah terlebih dahulu. Meski demikian, pemimpin Eropa menegaskan bahwa penggunaan garis depan ini tidak berarti pengakuan atas klaim Rusia terhadap wilayah yang diperdebatkan. Mereka memandang ini sebagai titik awal, bukan solusi akhir, karena situasi militer di lapangan tetap dinamis.
Syarat Ketiga: Jaminan Keamanan Pasca-Perang
Kesepakatan ketiga menekankan perlunya jaminan keamanan yang kuat untuk Ukraina setelah konflik berakhir. Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus melibatkan instrumen hukum dan mekanisme penegakan yang jelas, sehingga Rusia tidak bisa kembali melakukan agresi militer. Bagi Kyiv, syarat ini menjadi aspek kritis karena pengalaman sejak aneksasi Krimea pada 2014 hingga invasi 2022 membuat pihaknya semakin waspada terhadap janji politik yang tidak diimbangi perlindungan konkret.
Syarat Keempat: Kompensasi untuk Kerugian Perang
Dalam kesepakatan keempat, Rusia diminta untuk memberikan kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan selama beberapa tahun terakhir. Pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah pertemuan menyebutkan bahwa negara-negara Eropa mendukung kebijakan mempertahankan aset Rusia yang dibekukan hingga ada penyelesaian terkait pembayaran ganti rugi. Kerugian Ukraina diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS, yang setara dengan ribuan triliun rupiah jika dikonversi dengan kurs sekitar Rp 16.250 per dolar AS. Dampak serangan militer menyebabkan kerusakan besar di berbagai sektor, seperti pertanian, energi, dan infrastruktur.
Syarat Kelima: Penyelesaian Perundingan dalam Waktu Tertentu
Syarat kelima menetapkan bahwa pembahasan damai harus dilakukan dalam waktu terbatas, dengan target untuk menyelesaikan seluruh isu secara terstruktur. Meski Putin sebelumnya menolak usulan pertemuan langsung dengan Zelenskyy, para pemimpin Eropa masih optimis bahwa jalur negosiasi tetap terbuka. Namun, mereka mengingatkan bahwa keberhasilan proses ini bergantung pada komitmen kedua belah pihak untuk bersedia mengorbankan kepentingan sektoral demi perdamaian jangka panjang.
Pertemuan di London dianggap sebagai langkah penting, meski kebuntuan diplomatik masih terjadi. Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa penghentian kekerasan dan pengakuan teritorial adalah syarat mutlak untuk memulai pembicaraan. Namun, mereka juga mengakui bahwa proses ini tidak bisa berjalan lancar tanpa koordinasi yang konsisten antar-negara. Keberhasilan perundingan akan menjadi ujian bagi Rusia, terutama dalam menghadapi tekanan internasional untuk memenuhi tuntutan Ukraina.
Dalam beberapa minggu terakhir, Zelenskyy mengingatkan bahwa konflik tidak bisa dibiarkan berlangsung tanpa adanya kepastian. Meski terjadi beberapa kemajuan, kesepakatan ini tetap menuntut langkah nyata dari pihak Rusia. Pemimpin Eropa berharap syarat-syarat yang ditetapkan dapat menjadi fondasi untuk dialog yang lebih dalam, meski ada tantangan besar dalam mencapai kesepakatan akhir. Perang antara Rusia dan Ukraina sekarang menjadi ujian bagi kesanggupan kedua negara untuk melepaskan ketegangan dan membangun kepercayaan.
