Lifestyle

Key Discussion: Curhat Menkes di DPR: Kita Kekurangan Dokter!

Curhat Menkes di DPR: Kita Kekurangan Dokter! Key Discussion - Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa

Desk Lifestyle
Published Juni 25, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Curhat Menkes di DPR: Kita Kekurangan Dokter!

Key Discussion – Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengatasi defisit dokter, khususnya di wilayah-wilayah yang terpencil. Masalah ini dianggap menjadi salah satu faktor yang menyebabkan beban kerja para tenaga kesehatan di berbagai daerah menjadi sangat berat. Pernyataan tersebut disampaikan Budi selama rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Dalam kesempatan itu, Menkes menekankan bahwa kondisi kekurangan dokter berdampak signifikan pada sistem pelayanan kesehatan nasional.

Distribusi Tenaga Medis Tidak Merata

Menteri Budi menjelaskan bahwa ketimpangan dalam distribusi tenaga medis menjadi isu utama. Di satu sisi, beberapa kota besar di Indonesia justru mengalami surplus dokter, sementara di daerah-daerah kabupaten dan pedesaan masih banyak yang mengalami kekurangan. Kondisi ini menciptakan ketegangan di berbagai fasilitas kesehatan, terutama di pusat layanan kesehatan masyarakat seperti puskesmas. Menurutnya, ketidakseimbangan ini memperparah masalah yang sudah ada sejak lama.

“Jadi masalah utamanya adalah karena memang kita kekurangan dokter. Sehingga akibatnya bebannya tinggi sekali,” kata Budi dalam rapat kerja.

Dia mencontohkan daerah seperti Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, yang masih mengalami defisit tenaga kesehatan spesialis. Meski wilayah tersebut memiliki sekitar 17 puskesmas, tidak satu pun dari fasilitas kesehatan tersebut memiliki dokter spesialis yang bertugas secara permanen. Kekurangan ini memaksa peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS) untuk terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan, meski tugas utama mereka adalah menyelesaikan pendidikan.

SIP sebagai Indikator Kekurangan Dokter

Dalam menjelaskan defisit dokter, Budi mengungkapkan bahwa Surat Izin Praktik (SIP) menjadi alat pengecekan yang mudah. Menurutnya, jumlah SIP yang dimiliki oleh seorang dokter bisa menjadi gambaran apakah mereka tersedia dalam jumlah cukup. “Cara yang palinggampang ngecek kekurangan dokter ya karena surat izin praktik (SIP)-nyaajamasih tiga. Kalau SIP tiga itu artinya yang ada hanya sepertiga dari yang dibutuhkan,” katanya.

Kemudian, Budi menjelaskan bahwa dalam kondisi ideal, seorang dokter umumnya hanya membutuhkan satu SIP karena bekerja di satu fasilitas kesehatan. Namun, saat kekurangan terjadi, dokter harus mengambil izin praktik di beberapa tempat sekaligus. Hal ini menyebabkan mereka harus bekerja di luar jam kerja yang seharusnya, bahkan di luar jadwal pendidikan. Akibatnya, kualitas pelayanan kesehatan bisa terganggu karena kelelahan dan kurangnya waktu untuk fokus pada tugas utama.

Kebutuhan Dokter di Daerah Terpencil

Menkes menyoroti bahwa kekurangan dokter bukan hanya menjadi masalah lokal, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Daerah terpencil, yang memiliki populasi besar namun akses terbatas ke fasilitas kesehatan, sangat membutuhkan tenaga medis yang cukup. Namun, karena keterbatasan jumlah lulusan dokter spesialis dan keterlibatan mereka dalam pelayanan di wilayah yang lebih strategis, kekurangan ini terus berlanjut.

Budi juga mengkritik ketidakseimbangan distribusi tenaga medis di Indonesia. Meski jumlah dokter di kota-kota besar mencukupi, banyak daerah kabupaten justru kesulitan mendapatkan tenaga kesehatan yang terampil. “Sudah ada beberapa kota besar yang kelebihan, tetapi sangat banyak kabupaten-kabupaten yang kekurangan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa hal ini menyebabkan pelayanan kesehatan di daerah terpencil menjadi tidak optimal, sehingga masyarakat memperoleh akses yang kurang memadai.

“Kekurangan dokter membuat peserta PPDS terpaksa mengambil alih tugas pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan,” kata Budi.

Menurut Menkes, solusi jangka panjang harus melibatkan perubahan pola distribusi tenaga medis. Ia menyarankan bahwa pemerintah perlu meningkatkan jumlah pelatihan dokter spesialis yang fokus pada daerah terpencil, serta memberikan insentif yang menarik untuk menarik tenaga medis ke sana. Dengan demikian, beban kerja di wilayah lain bisa berkurang, dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan akan lebih terjamin.

Perspektif Nasional dan Solusi Kebijakan

Budi juga menyoroti bahwa kekurangan dokter adalah masalah nasional yang perlu diatasi dengan kebijakan yang lebih terpadu. Ia menekankan bahwa jumlah dokter yang ada saat ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia. “Jumlah dokter mencukupi akan membuat SIP-nya satu, karena mereka bekerja di satu tempat,” jelasnya. Namun, di daerah yang kekurangan, dokter terpaksa mengambil SIP di beberapa fasilitas kesehatan, yang berdampak pada kualitas kerja mereka.

Dalam kesempatan itu, Budi menyampaikan bahwa kekurangan dokter tidak hanya berdampak pada jumlah tenaga, tetapi juga pada kualitas layanan. Di daerah terpencil, terkadang dokter harus menggantikan peran perawat atau bidan, sehingga memperbesar risiko kesalahan diagnosis atau kesengajaan dalam perawatan. Ia berharap DPR dapat memberikan dukungan politik untuk mempercepat peningkatan jumlah dan distribusi dokter di seluruh Indonesia.

Kebutuhan Peningkatan Kebijakan

Budi menambahkan bahwa tantangan ini memerlukan perubahan dalam kebijakan pendidikan dan perekrutan tenaga medis. Ia menyoroti bahwa selama ini, sistem perekrutan dokter lebih cenderung menarik tenaga ke kota besar, yang berisiko mengabaikan kebutuhan daerah-daerah yang kurang dilayani. Untuk mengatasi hal ini, Menkes mengusulkan adanya program kerja sama antara pemerintah dan lembaga pendidikan kesehatan, agar lulusan dokter spesialis bisa didistribusikan secara lebih merata.

Di sisi lain, Budi juga menekankan pentingnya investasi dalam fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Tanpa jumlah dokter yang cukup, perluasan akses ke layanan kesehatan akan sulit tercapai. Ia mencontohkan bahwa di Kabupaten Mamberamo Raya, masyarakat harus bergantung pada dokter yang datang sementara, yang sering kali membuat layanan kesehatan menjadi tidak stabil. “Ini menunjukkan bahwa kekurangan dokter memang menjadi tantangan serius yang perlu diatasi secepat mungkin,” imbuhnya.

Dalam kesimpulannya, Budi menyatakan bahwa kekurangan dokter adalah akar masalah yang menyebabkan beban kerja tenaga kesehatan meningkat. Ia berharap adanya koordinasi yang lebih baik antara p

Leave a Comment