Nusantara

Harga Pertamax Naik – Pertamina Sangihe Pastikan Stok BBM Aman

ina Sangihe Pastikan Stok BBM Aman Harga Pertamax Naik - Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, menjadi salah satu daerah yang merasakan dampak kenaikan

Desk Nusantara
Published Juni 15, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Harga Pertamax Naik, Pertamina Sangihe Pastikan Stok BBM Aman

Harga Pertamax Naik – Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, menjadi salah satu daerah yang merasakan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Kenaikan ini berlaku sejak 10 Juni 2026, yang menyebabkan perubahan signifikan dalam biaya operasional pengguna kendaraan. Pertamina, melalui Fuel Terminal Manager Tahuna, Jan Ichrem Pasambo, menjelaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 dilakukan untuk mengikuti mekanisme pasar yang dinamis.

Pertamax, yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 12.300 per liter, kini mengalami kenaikan hingga Rp 16.250 per liter. Perubahan ini menimbulkan kenaikan sekitar 32,1% dibandingkan harga sebelumnya. Sementara itu, Pertamax Green 95 juga mengalami peningkatan dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Di sisi lain, BBM subsidi Pertalite tetap dipertahankan pada harga Rp 10.000 per liter, menjadi penyangga bagi masyarakat yang masih mengandalkan bahan bakar tersebut.

Kenaikan harga Pertamax menjadi sorotan khusus di Tahuna, kota paling padat di Kepulauan Sangihe. Banyak pengemudi angkutan umum, sopir taksi gelap, dan pelaku usaha transportasi menyebutkan bahwa mereka harus menyesuaikan anggaran bulanan. “Selama ini Pertamax menjadi pilihan utama karena harganya relatif terjangkau,” kata salah satu pengusaha rental mobil. Kini, biaya operasional kendaraan bermotor meningkat, memaksa mereka mengoptimalkan penggunaan bahan bakar atau mencari alternatif lain.

Jan Ichrem Pasambo, mewakili Pertamina Patra Niaga, memberikan pernyataan resmi untuk menenangkan masyarakat. “Kami mengimbau agar masyarakat tidak terburu-buru dan tetap tenang. Stok BBM di wilayah Kepulauan Sangihe telah disiapkan secara memadai, serta distribusi berjalan sesuai rencana,” katanya dalam wawancara yang dilakukan Minggu (14/6/2026). Menurutnya, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan berdasarkan mekanisme penyesuaian yang diatur oleh pemerintah. Faktor utamanya meliputi fluktuasi harga energi internasional, biaya pengiriman, dan permintaan pasar yang meningkat.

“Ketersediaan BBM di Kabupaten Kepulauan Sangihe dalam kondisi aman dan distribusi berjalan normal,” ujar Jan Ichrem Pasambo.

Jan Ichrem menjelaskan bahwa perubahan harga ini tidak diambil secara sembarangan. Pertamina, sebagai pelaku utama distribusi BBM, memantau secara berkala pasokan dan permintaan di setiap daerah. Dengan sistem distribusi yang terstruktur, mereka yakin stok bahan bakar tidak akan mengalami kekurangan, terutama di area kepulauan yang memiliki ketergantungan tinggi pada jalur distribusi. “Kami juga menyesuaikan pengiriman sesuai kebutuhan masyarakat, agar tidak terjadi gangguan,” tambahnya.

Kenaikan harga Pertamax turut memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena banyak kendaraan pribadi dan komersial menggunakan bahan bakar ini, biaya hidup harian meningkat. Untuk mengatasi hal ini, sejumlah warga mengatakan mereka mulai mengatur pengeluaran lebih ketat. “Saya mengurangi penggunaan kendaraan untuk perjalanan jarak pendek,” tutur ibu rumah tangga bernama Sari, yang tinggal di Desa Tawara. “Bahan bakar yang lebih mahal membuat anggaran rumah tangga terasa lebih berat.”

Di sisi lain, pengusaha rental mobil dan angkutan umum mengeluhkan adanya kenaikan harga. Mereka menyebutkan bahwa biaya bahan bakar sekarang menjadi komponen utama dalam perhitungan pendapatan. “Sebelumnya, saya bisa mengisi bahan bakar setiap minggu dengan Rp 3 juta. Kini, pengisian harian saja sudah menyentuh Rp 1 juta,” kata Ridwan, salah satu pemilik truk pengangkut barang. Meski demikian, ia memastikan bahwa keberlanjutan layanan tetap terjaga karena pasokan BBM masih mencukupi.

Jan Ichrem Pasambo juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan perubahan harga. “Kenaikan ini adalah bagian dari kebijakan yang diterapkan untuk menjaga stabilitas harga energi di tingkat nasional,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Pertamina terus melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan harga tetap sesuai dengan kondisi pasar. “Dengan kenaikan harga, kami juga memberi ruang bagi industri untuk beradaptasi dan mencari solusi yang lebih efisien,” katanya.

Dalam rangka menangani kenaikan harga, Pertamina telah menambah jumlah titik pengisian BBM di beberapa SPBU di Tahuna. Hingga saat ini, aktivitas pengisian bahan bakar terpantau normal tanpa gangguan. Jan Ichrem Pasambo juga menyebutkan bahwa persediaan Pertamax dan Pertamax Green di daerah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa bulan ke depan. “Kami siapkan stok sesuai proyeksi permintaan, sehingga tidak ada risiko kekurangan di tengah kenaikan harga,” tegasnya.

Pengaruh pada Sektor Transportasi

Kenaikan harga Pertamax berdampak langsung pada industri transportasi. Angkutan umum, baik angkot maupun taksi, mengalami kenaikan biaya operasional sekitar 25-30%. Hal ini menyebabkan kenaikan tarif tiket, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Sementara itu, pengemudi truk besar mengeluhkan adanya beban tambahan dalam pengelolaan anggaran perjalanan. “Kami harus memperhitungkan kenaikan bahan bakar lebih matang agar tidak mengganggu jadwal pengiriman,” ujar Rizki, sopir truk yang telah beroperasi selama sepuluh tahun.

Jan Ichrem Pasambo menegaskan bahwa Pertamina akan terus memantau kondisi pasar dan mengupayakan stabilitas harga. Ia juga berharap masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. “Kami yakin kenaikan ini tidak akan mengganggu kebutuhan masyarakat, selama distribusi tetap lancar,” imbuhnya. Di samping itu, Pertamina berkomitmen untuk menjaga ketersediaan BBM subsidi, sehingga masyarakat yang kurang mampu tetap bisa mengakses bahan bakar murah.

Perbandingan Harga BBM

Pertalite, BBM subsidi yang tetap dipertahankan, memiliki harga Rp 10.000 per liter, yang jauh lebih rendah dari Pertamax. Perbedaan harga ini memaksa pengguna kendaraan bermotor untuk memilih jenis bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. “Pertalite menjadi pilihan utama bagi pengendara sepeda motor dan mobil kecil, sementara Pertamax digunakan untuk kendaraan berat,” jelas salah satu pengguna BBM di Tahuna. Kenaikan harga Pertamax juga menimbulkan perhatian terhadap kebijakan subsidi, dengan munculnya diskusi tentang perlunya penyesuaian harga bahan bakar untuk menjangkau lebih banyak kalangan.

Jan Ichrem Pasambo mengakui bahwa kenaikan harga Pertamax memang lebih tinggi dibandingkan Pertalite. Namun, ia menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak sepenuhnya merugikan masyarakat. “Pertamina tetap menyediakan BBM subsidi untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah,” katanya. Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi juga merupakan bagian dari upaya menyesuaikan dengan kenaikan harga energi global, yang secara bertahap memengaruhi harga bahan bakar di dalam negeri.

Dengan kenaikan harga tersebut, masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe diharapkan dapat beradaptasi. Pertamina menyatakan bahwa mereka akan terus mengawasi kondisi distribusi dan bersiap untuk

Leave a Comment