Nusantara

Key Strategy: Waspada! 4 Wilayah di Sulteng Berpotensi Likuefaksi Pascagempa M 6,7

Waspada! 4 Wilayah di Sulteng Berpotensi Likuefaksi Pascagempa M 6,7 Key Strategy - Jakarta, Beritasatu.com - Setelah gempa bermagnitudo 6,7 yang terjadi pada

Desk Nusantara
Published Juni 19, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Waspada! 4 Wilayah di Sulteng Berpotensi Likuefaksi Pascagempa M 6,7

Key Strategy – Jakarta, Beritasatu.com – Setelah gempa bermagnitudo 6,7 yang terjadi pada Selasa (16/6/2026), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan peringatan untuk empat wilayah di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang berpotensi mengalami likuefaksi. Peringatan ini berdasarkan pemutakhiran peta pemantauan teknis terbaru, yang menyoroti area rawan di daerah tersebut. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa risiko ini terutama berdampak pada lapisan tanah berpasir yang jenuh air, yang rentan terganggu oleh guncangan kuat.

Peta Risiko Likuefaksi Dibuat untuk Waspada

Lana Saria dalam konferensi pers Jumat (19/6/2026) menyatakan bahwa ada lima kabupaten dan kota yang memerlukan perhatian khusus terhadap risiko likuefaksi. Wilayah yang disebutkan meliputi Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, serta sebagian wilayah Kabupaten Poso. Ia menekankan bahwa status ini bukan berarti bencana pasti terjadi, tetapi menjadi indikator ilmiah untuk meningkatkan kewaspadaan dan menguatkan tindakan mitigasi struktural.

“Likuefaksi terjadi ketika tanah berpasir yang terjenuh air mengalami guncangan kuat, sehingga kehilangan daya dukungnya secara mendadak,” kata Lana.

Menurut Lana, fenomena likuefaksi muncul akibat pelepasan energi gempa darat yang meningkatkan tekanan air pori di tanah. Kondisi ini bisa mengurangi kekuatan rigiditas permukaan tanah, membuatnya rentan retak atau runtuh. Oleh karena itu, Badan Geologi menyarankan pengkajian mikrozonasi yang lebih rinci untuk mengevaluasi tingkat risiko pada setiap lokasi.

Faktor-Faktor yang Memicu Likuefaksi

Peringatan tentang likuefaksi dibuat dengan mempertimbangkan sejumlah parameter geologi. Faktor utama meliputi keberadaan sesar aktif, karakteristik batuan dan tanah, sejarah kejadian gempa, serta kemungkinan intensitas guncangan di masa depan. “Lapisan tanah berpasir jenuh air akan menjadi lebih rentan jika berada di daerah dengan sesar aktif,” lanjut Lana.

Peta risiko ini juga memberikan gambaran tentang kekuatan tanah setelah gempa. Pemetaan dilakukan untuk memastikan bahwa pemerintah daerah bisa mengambil keputusan lebih tepat dalam perencanaan ruang dan zonasi wilayah aman. Dengan data tersebut, otoritas setempat diharapkan dapat mengidentifikasi titik rawan dan mengambil langkah pencegahan sebelum bencana terjadi.

Wilayah Lain Masuk Kategori Kerawanan Menengah

Selain area berpotensi likuefaksi, Badan Geologi juga membagikan hasil pemetaan kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa. Wilayah yang termasuk dalam kategori ini antara lain beberapa bagian Kabupaten Sigi dan Kota Palu, seperti Dolo, Gumbasa, Marawola, Tanambulava, Palu Barat, Palu Selatan, serta Palu Utara. Daerah lainnya berada dalam kategori kerawanan menengah hingga tinggi.

Lana menjelaskan bahwa peta kerawanan tersebut disusun untuk membantu masyarakat memahami potensi bahaya jika gempa terjadi. “Peta ini bukan prediksi kapan bencana akan terjadi, melainkan indikator kekuatan tanah dalam kondisi tertentu,” tegasnya.

Peringatan untuk Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Badan Geologi mengimbau warga dan pemerintah setempat tetap tenang namun waspada. Ia menekankan pentingnya memperhatikan aspek ketahanan geologi dalam pembangunan kembali infrastruktur dan permukiman pasca-bencana. “Kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan potensi risiko likuefaksi dan kerawanan gempa,” ujarnya.

Peringatan ini juga menyoroti kebutuhan pengelolaan wilayah yang lebih hati-hati. Misalnya, daerah dengan tanah berpasir yang terjenuh air perlu diberi perhatian khusus, terutama pada area pemukiman atau jalan raya. Penelitian lebih lanjut diharapkan bisa memperkuat sistem mitigasi dan mengurangi dampak serius jika gempa berkekuatan serupa terjadi kembali.

Keterkaitan dengan Sejarah Gempa dan Sesar Aktif

Pemetaan risiko likuefaksi juga didasarkan pada sejarah kejadian gempa di wilayah tersebut. Beberapa daerah di Sulteng telah mengalami gempa sebelumnya, sehingga memperkuat asumsi bahwa mereka rentan terhadap efek serupa. Selain itu, keberadaan sesar aktif menjadi faktor penting, karena bisa meningkatkan intensitas guncangan.

Lana Saria menambahkan bahwa kondisi tanah di daerah rawan likuefaksi bisa berubah drastis jika terpapar gempa. “Ketahanan geologi tanah harus dipertimbangkan dalam rencana pembangunan pascabencana,” katanya. Ia juga meminta masyarakat untuk waspada terhadap potensi kerusakan infrastruktur akibat efek likuefaksi, terutama di area yang berdekatan dengan sumber gempa.

Kontribusi Peta Risiko dalam Kebijakan Lokal

Dokumen peta pemantauan teknis ini diterbitkan sebagai referensi untuk pemerintah daerah dalam merancang kebijakan. Peta tersebut membantu mengidentifikasi titik-titik yang perlu dihindari atau diberi perlindungan tambahan. “Kebijakan perencanaan ruang harus selaras dengan kondisi geologi lokal,” kata Lana.

Badan Geologi juga menyoroti pentingnya edukasi masyarakat tentang risiko likuefaksi. Meski tidak semua wilayah pasti mengalami fenomena ini, tetapi pemahaman akan potensi bahaya bisa meminimalkan kerugian. Ia menegaskan bahwa peta risiko hanya sebagai alat bantu, bukan jaminan pasti terjadinya bencana.

Di sisi lain, peta kerawanan gempa menjadi dasar untuk menentukan zona aman dan kawasan yang perlu diprioritaskan dalam pembangunan. Data ini penting karena banyak daerah di Sulteng memiliki risiko tinggi akibat kondisi tanah dan aktifitas geologis.

Kehidupan Setelah Bencana: Fokus pada Ketahanan

Lana Saria menekankan bahwa keterlibatan masyarakat dalam mitigasi bencana sangat krusial. “Ketahanan struktur bangunan dan pemukiman harus menjadi prioritas utama,” katanya. Selain itu, dia menyarankan peningkatan sistem peringatan dini dan pengawasan terhadap titik-titik risiko.

Pemetaan ini juga memperlihatkan bahwa beberapa wilayah memiliki daya dukung tanah yang lebih rendah dibandingkan daerah lain. Faktor-faktor seperti jenis batuan, ketersediaan air tanah, dan kepadatan bangunan berpengaruh besar pada tingkat risiko. Oleh

Leave a Comment