Kota Padang Pematangkan Strategi Jadi Kota Gastronomi UNESCO
Latest Program – Kota Padang, Sumatera Barat, tengah menyiapkan diri untuk meraih pengakuan sebagai Kota Gastronomi UNESCO pada 2027. Universitas Negeri Padang (UNP) berperan aktif dalam memetakan kekuatan yang dimiliki kota ini, yang menjadi dasar strategi pengembangan gastronomi. Dalam upaya tersebut, tim peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP, Haris Satria, menegaskan bahwa Padang memiliki potensi kuat untuk memenuhi syarat menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN).
Kekuatan Utama yang Menjadi Dasar Ambisi
Haris Satria mengungkapkan, beberapa faktor utama menjadi fondasi kekuatan gastronomi Padang. Pertama, kekayaan kuliner yang telah dikenal secara internasional, seperti hidangan khas seperti rendang, soto, dan ikan bakar. Kedua, kawasan warisan budaya Kota Tua Padang, yang dianggap sebagai pusat sejarah dan kehidupan masyarakat setempat. Ketiga, keberagaman etnis yang menciptakan akulturasi budaya yang unik. Keempat, adanya tradisi makan bajamba, yang menunjukkan nilai kebersamaan dan diplomasi budaya Minangkabau.
“Yang ingin kita tunjukkan bukan hanya makanannya, tetapi ekosistem gastronominya,” kata Haris, dikutip dari Antara. Ekosistem ini mencakup tradisi, budaya, pelaku usaha, komunitas, akademisi, serta dukungan pemerintah yang secara bersama-sama menjaga dan memperkaya warisan kuliner daerah.
Haris menekankan bahwa pengajuan ke UCCN tidak hanya berfokus pada kelezatan masakan, tetapi juga pada pengembangan ekosistem yang holistik. Faktor ini mencakup peran penting dari berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah setempat, institusi pendidikan, dan komunitas lokal. Peta jalan gastronomi Kota Padang tahun 2026–2030 diharapkan menjadi panduan untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan program ini.
Aspek Budaya dan Ekonomi yang Dikembangkan
Tradisi makan bajamba, misalnya, menjadi simbol keunikan Minangkabau dalam mempertahankan nilai sosial dan budaya. Upaya ini juga sejalan dengan SDGs (Sustainable Development Goals) yang relevan, seperti poin empat terkait pendidikan berkualitas, poin delapan untuk pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta poin 11 mengenai kota dan permukiman yang berkelanjutan. Haris menjelaskan, keterlibatan UNP dalam penyusunan peta jalan bertujuan memperkuat basis ilmiah dan data akademik untuk memastikan keberlanjutan program.
Salah satu titik fokus dalam peta jalan adalah pelestarian warisan gastronomi Minangkabau. Haris menegaskan bahwa upaya ini tidak hanya menjaga keaslian makanan, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis kuliner. “Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan memperkuat landasan ilmiah dan memastikan keberlanjutan program,” tambahnya.
Kolaborasi Pentahelix untuk Keberhasilan
Menurut Haris, kolaborasi pentahelix—yaitu antara pemerintah, akademisi, komunitas, media, dan pelaku usaha—adalah faktor kunci dalam proses penilaian UNESCO. Pemangku kepentingan ini berperan dalam memastikan bahwa gastronomi tidak hanya menjadi bagian dari identitas kota, tetapi juga dipromosikan secara global. “Penilaian UNESCO tidak hanya melihat kekayaan kuliner, tetapi juga komitmen bersama dalam menjaganya,” imbuhnya.
Dalam konteks ini, keterlibatan UNP membantu mengintegrasikan riset dan kajian akademik ke dalam strategi pengembangan. Haris menyatakan bahwa pendekatan ini mampu menawarkan data yang valid serta rekomendasi berdasarkan studi yang mendalam. Dengan demikian, Padang dapat menunjukkan bagaimana gastronomi diwujudkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari, sekaligus alat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
Langkah-Langkah Strategis untuk Masa Depan
Peta jalan gastronomi 2026–2030 juga bertujuan menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya. Haris menjelaskan bahwa program ini melibatkan pelaku usaha lokal untuk mengembangkan inovasi dalam penyajian kuliner, sekaligus menjaga kualitas bahan baku dan proses pembuatan. Selain itu, keterlibatan media dan komunitas diasumsikan sebagai penggerak utama dalam memperluas jangkauan dan kesadaran masyarakat terhadap nilai gastronomi sebagai identitas kota.
Dokumen tersebut juga akan menjadi dasar untuk menyusun proposal yang lebih lengkap ke UCCN. Dengan memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan budaya, Kota Padang berharap mampu menunjukkan kemampuan dalam mengelola warisan gastronominya secara berkelanjutan. Haris menambahkan bahwa keberhasilan ini bergantung pada kekonsistenan dari semua pihak dalam menjaga kualitas dan keautentikan kuliner Minangkabau.
Komitmen Global dan Lokal
Dalam perjalanan menuju UNESCO Gastronomy City, Padang menunjukkan komitmen untuk mengintegrasikan kearifan lokal dengan perspektif global. Haris menyebutkan bahwa keberagaman etnis yang ada memperkaya kaya raya kuliner kota ini, sehingga mampu menciptakan menu yang unik dan menarik bagi pengunjung dari berbagai belahan dunia. “Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha akan memastikan program ini mencapai tujuannya,” ujarnya.
Keberhasilan pengajuan ke UCCN juga tergantung pada kemampuan Padang dalam menunjukkan bahwa gastronomi bukan hanya bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga alat diplomasi budaya. Haris menambahkan bahwa tradisi makan bajamba, misalnya, menjadi contoh bagus bagaimana kebersamaan dalam makan mencerminkan nilai-nilai sosial Minangkabau yang kental.
Dengan memperhatikan semua aspek tersebut, Kota Padang berharap mampu memenuhi standar yang ditetapkan UNESCO. Selain itu, peta jalan juga menjadi alat untuk mengukur progres dan memastikan keberlanjutan program jangka panjang. Haris menyatakan bahwa keterlibatan UNP dalam menyusun peta jalan akan memperkuat peran akademisi dalam mendukung pembangunan kota yang berbasis gastronomi.
Kemitraan yang solid antara berbagai sektor diperlukan untuk mewujudkan tujuan ini. Haris menekankan bahwa SDGs ke-17, yakni kemitraan untuk mencapai tujuan global, akan tercapai melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku usaha. Dengan demikian, Padang tidak hanya berupaya menjadi kota yang memiliki kuliner terkenal, tetapi juga mendorong kesejahteraan bersama melalui ekonomi kreatif dan pelestarian budaya.
Sebagai bagian dari keberhasilan ini, pemerintah kota dan akademisi diharapkan terus berperan dalam mengawasi dan meningkatkan kualitas gastronomi. Haris menyatakan bahwa program ini tidak hanya memperkuat citra Padang secara nasional, tetapi juga meningkatkan daya tarik internasional. “Kuliner Minangkabau adalah representasi dari identitas budaya kota, dan kita ingin memastikan hal itu terjaga,” ujarnya.
Dengan peta jalan yang telah disusun, Kota Padang bertujuan membangun ekosistem gastronomi yang holistik, sekaligus menjaga keseimbangan antara inovasi dan tradisi. Haris menilai bahwa keterlibatan UNP dalam proyek ini memperkuat keberlanjutan program, karena data ilmiah dan riset akademik dapat menjadi acuan untuk pengembangan yang terukur dan berkelanjutan.
Langkah-langkah yang dilakukan Kota Padang menunjukkan komitmen untuk menjadikan gastronomi sebagai bagian integral dari pembangunan kota. Haris berharap bahwa keberhasilan ini menjadi contoh bagus bagi kota-kota lain dalam mengintegrasikan warisan budaya dengan kebutuhan ekonomi dan sosial. Dengan begitu, Padang tidak hanya berupaya mencapai pengakuan internasional, tetapi juga menjaga keutuhan nilai-nilai yang melekat pada kuliner setempat.
