Nusantara

Latest Program: Sopir Angkot di Manado Tewas Ditikam, 2 Pelaku Menyerahkan Diri

Sopir Angkot di Manado Tewas Ditikam, 2 Pelaku Menyerahkan Diri Latest Program - Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi saksi atas sebuah kejadian memilukan

Desk Nusantara
Published Juni 7, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Sopir Angkot di Manado Tewas Ditikam, 2 Pelaku Menyerahkan Diri

Latest Program – Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi saksi atas sebuah kejadian memilukan yang terjadi pada Sabtu (6/6/2026) sore. Seorang sopir angkutan kota (angkot) bernama Pheyy mengalami kecelakaan fatal di kawasan Pasar 45, tepatnya depan Jumbo Pasar Swalayan. Insiden tersebut berujung pada kematian korban, dengan dua pelaku yang terlibat, BD alias Bombi (25) dan ND alias Nelson (23), langsung menyerahkan diri ke Polresta Manado setelah aksi mereka.

Konflik dan Keputusan Menyerahkan Diri

Menurut keterangan dari salah satu pelaku, mereka memilih menyerahkan diri karena merasa takut jika ditembak oleh polisi di kaki. “Kami memutuskan menyerahkan diri karena khawatir ditembak oleh polisi di kaki, sehingga lebih baik mengakui perbuatan mereka,” ujar pelaku saat diperiksa penyidik. Kedua tersangka juga membawa pisau yang digunakan untuk menikam korban sebagai barang bukti. Mereka mengakui kesalahan dan bersedia menanggung konsekuensi secara hukum.

Awal Peristiwa dan Perkembangan

Kasatreskrim Polresta Manado, AKP Elwin Kristanto, menjelaskan bahwa peristiwa berdarah tersebut dipicu oleh perselisihan di jalan raya. Dalam pemeriksaan awal, ditemukan bahwa kedua pelaku yang sedang mengemudi angkot sempat dicegat oleh korban. Dugaan sementara menyebutkan korban melakukan tindakan penganiayaan dengan memukul wajah salah satu pelaku. Setelah itu, pelaku pulang ke rumah, tetapi tak lama kemudian korban menghubungi mereka lagi.

Korban menawarkan penyelesaian persoalan secara damai, sehingga pelaku kembali ke lokasi. Namun, ketegangan terus memuncak. Saat tiba di depan Jumbo Pasar Swalayan, korban diduga menyerang kedua pelaku menggunakan pisau. “Serangan korban ke arah salah satu pelaku berhasil ditangkis. Setelah itu, kedua pelaku langsung membalas dengan menikam korban secara berulang-ulang kali,” terang Elwin Kristanto.

Proses Hukum dan Penyelidikan

Setelah aksi penikaman, kedua pelaku segera menuju Polresta Manado untuk menyerahkan diri. Mereka membawa pisau yang digunakan dalam kejadian tersebut sebagai bukti. Polisi masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap detail lebih lanjut dan memastikan proses hukum yang berlaku. Dalam pemeriksaan, pelaku menunjukkan kerjasama dan siap berurusan dengan pihak berwenang.

Kasus ini menjadi sorotan publik, terutama karena menimbulkan pertanyaan tentang peran pengemudi angkot dalam konflik antarwarga. Sejumlah warga setempat menyampaikan kekecewaan atas kejadian tersebut, sementara ada pihak yang mendukung penyelesaian melalui pemeriksaan hukum. Polresta Manado berkomitmen untuk menelusuri semua sisi peristiwa, termasuk motif penikaman dan kondisi korban saat kejadian.

Konteks dan Dampak Sosial

Kematian Pheyy tidak hanya menggemparkan masyarakat Manado, tetapi juga memicu diskusi mengenai ketegangan antara sopir angkot dan penumpang. Peristiwa ini mengingatkan betapa rentannya interaksi harian di lingkungan transportasi umum. Sementara itu, para pelaku yang menyerahkan diri menunjukkan bahwa mereka sadar akan tindakan kekerasan yang dilakukan.

Kasus ini juga menjadi contoh bagaimana konflik kecil dapat berubah menjadi kejadian serius. Elwin Kristanto menekankan pentingnya pencegahan konflik sejak dini, terutama dalam situasi yang penuh emosi. “Kami akan terus mengejar semua aspek untuk memastikan keadilan dan perlindungan bagi korban serta pelaku,” tambahnya.

Penutup dan Pemantauan Selanjutnya

Sebagai tindak lanjut, Polresta Manado berencana memperluas pemeriksaan dan memastikan tidak ada saksi atau bukti lain yang bisa memperjelas kronologi peristiwa. Sementara itu, masyarakat mengharapkan keadilan cepat diberikan kepada korban, baik melalui hukuman maupun rehabilitasi. Pertanyaan tentang bagaimana konflik bisa terjadi di tengah jalan raya masih menjadi bahan diskusi yang relevan.

Kejadian ini juga mengingatkan bahwa kecelakaan seperti ini bisa terjadi kapan saja, terutama jika perselisihan tidak segera diselesaikan dengan cara yang tenang. Dalam pernyataannya, AKP Elwin Kristanto meminta masyarakat untuk tetap waspada dan saling menghormati dalam interaksi sehari-hari. “Dengan kesadaran kolektif, kita bisa mengurangi risiko konflik yang berpotensi mematikan,” pungkasnya.

Menyusul kejadian tersebut, berbagai pihak mulai menyoroti perlunya pendidikan kesadaran akan keselamatan dan etika di transportasi umum. Apakah kejadian ini bisa menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menyelesaikan pertengkaran? Dengan proses hukum yang sedang berjalan, harapan masyarakat pun terus berharap adanya penjelasan yang jelas dan tindakan tegas terhadap pelaku.

“Kami memilih menyerahkan diri karena takut ditembak polisi di kaki, jadi lebih baik menyerahkan diri,” kata seorang pelaku di hadapan penyidik.

Kasatreskrim Polresta Manado AKP Elwin Kristanto menjelaskan bahwa kejadian ini tidak terlepas dari perselisihan yang muncul di jalan raya. Menurut informasi yang dihimpun, korban dan pelaku memiliki hubungan yang tidak sejalan, sehingga konflik memicu aksi mematikan. Peristiwa ini sekaligus mengingatkan betapa pentingnya pengawasan dan kepekaan terhadap potensi konflik di lingkungan transportasi.

Setelah menyerahkan diri, pelaku menunggu pemeriksaan lebih lanjut. Polisi mengatakan akan melengkapi berbagai dokumen dan memastikan proses hukum berjalan lancar. Sementara itu, korban yang sudah meninggal menjadi saksi bisu betapa rentan masyarakat dalam konflik yang terjadi di ruang publik. Kecelakaan seperti ini memperlihatkan bahwa ketegangan kecil bisa meluas menjadi tragedi besar, jika tidak segera dikelola dengan baik.

Terlepas dari itu, proses hukum yang sedang berlangsung akan menjadi penentu bagi pelaku dan korban. Kejadian ini juga membuka peluang untuk evaluasi lebih lanjut mengenai cara penyelesaian pertengkaran di lingkungan transportasi. Sementara itu, masyarakat kota Manado terus memantau perkembangan kasus ini, dengan harapan adanya keadilan yang diberikan kepada semua pihak yang terlibat.

Penutup

Dengan penyidikan yang masih berlangsung, kasus kematian sopir angkot ini menjadi perhatian publik. Masyarakat berharap kejadian serupa tidak terulang dan pelaku diberi hukuman yang adil. Polresta Manado berkomitmen untuk menyelidiki seluruh aspek peristiwa, agar penjelasan yang jelas bisa diberikan kepada korban dan masyarakat luas.

Leave a Comment