Nusantara

New Policy: Banjir 1 Meter Terjang Samarinda, Ratusan Rumah Terdampak

Banjir 1 Meter Terjang Samarinda, Ratusan Rumah Terdampak New Policy - Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kembali dilanda banjir akibat hujan deras yang

Desk Nusantara
Published Juni 17, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Banjir 1 Meter Terjang Samarinda, Ratusan Rumah Terdampak

New Policy – Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kembali dilanda banjir akibat hujan deras yang diiringi angin kencang, Selasa (16/6/2026). Ketinggian air mencapai satu meter, menyelimuti ratusan rumah warga dan mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai kawasan. Wilayah yang paling parah terkena adalah Jalan Damanhuri II, Kecamatan Sungai Pinang, di mana genangan air meluas dan menyulitkan pergerakan masyarakat. Selain merendam permukiman, banjir juga menghambat akses jalan utama, membuat kendaraan sulit melewati titik-titik tertentu.

Hujan yang mengguyur kota sejak pagi hingga siang hari menyebabkan aliran air meningkat tajam, menggenangi area kritis. Arus yang deras memaksa sejumlah pengendara menghentikan perjalanan karena takut terbawa oleh aliran air. Seorang warga setempat, Agus Aprianto, menjelaskan bahwa banjir sering terjadi saat hujan deras mengguyur Samarinda. “Kondisi seperti ini pasti muncul setiap kali turun hujan, dan debit air terus mengalir dengan cepat,” kata Agus di lokasi banjir, Selasa (16/6/2026).

Kalau kondisi seperti ini terjadi pasti setiap turun hujan, pasti jadi banjir seperti ini, pasti banjir. Terus debitnya air larinya kencang sekali,” ujar Agus di lokasi banjir, Selasa (16/6/2026).

Menurut Agus, genangan air di sejumlah gang di Jalan Damanhuri II mencapai kedalaman sekitar satu meter. Kondisi ini memaksa warga mengurangi kegiatan sehari-hari, sebagian besar memilih tinggal di rumah untuk menghindari risiko. “Di gang-gang ini, ketinggian air satu meter, semua tiap gang seperti itu. Ini sudah enggak bisa lagi dilewati kendaraan, roda dua maupun roda empat, sudah enggakbisa lewat lagi,” lanjutnya.

Banjir yang berlangsung dengan derasnya arus mengancam keselamatan warga. Beberapa orang memilih mengungsi sementara, tetapi mayoritas masih bertahan di rumah. Faktor utama yang memicu keputusan ini adalah kekhawatiran barang berharga terbawa arus atau menjadi sasaran pencurian saat rumah kosong. Kondisi banjir terus berlangsung hingga berita ini diturunkan, dengan genangan air merendam beberapa titik di wilayah terdampak.

Sejumlah wilayah kota juga mengalami gangguan infrastruktur akibat banjir. Jalan utama tergenang, memaksa petugas setempat menutup akses agar kecelakaan dapat dihindari. Selain itu, banjir memengaruhi kegiatan ekonomi, seperti pasar tradisional dan toko-toko kecil, yang berada di daerah rawan banjir. Warga mengeluhkan ketidaknyamanan akibat pembersihan air dan risiko kesehatan karena genangan bisa menjadi tempat berkumpulnya nyamuk.

Agus menambahkan bahwa warga Samarinda telah terbiasa dengan kondisi ini. “Kami sudah terbiasa, setiap musim hujan pasti ada banjir, tapi kadang lebih parah dari biasanya,” ujarnya. Ia berharap pemerintah lebih proaktif dalam mengantisipasi bencana alam yang sering terjadi. “Kalau bisa ada drainase yang lebih baik, tentu banjir ini bisa diminimalkan,” imbuh warga yang tinggal di Jalan Damanhuri II itu.

Kondisi cuaca ekstrem ini juga memengaruhi pelayanan publik. Pemadam kebakaran dan tim penanggulangan bencana kesulitan mencapai titik-titik tertentu karena jalan tergenang. Namun, beberapa warga tetap berusaha mengeringkan rumah mereka dengan alat sederhana. “Kalau air sudah surut, kami langsung bersihkan. Tapi kalau terlalu dalam, butuh waktu lebih lama,” jelas seorang warga.

Pemerintah kota telah berupaya memperbaiki sistem drainase, tetapi masih kurang optimal. Selama ini, pengelolaan air hujan terutama di daerah dataran rendah seperti Samarinda dinilai tidak cukup memadai. Kebocoran saluran air dan penumpukan sampah menjadi penyumbang utama ketinggian air. “Meski sudah ada proyek pengerasan jalan, tapi saluran air masih sering bocor,” kata seorang pejabat lingkungan setempat.

Banjir tahun ini diperkirakan lebih parah dibandingkan tahun lalu, terutama karena intensitas hujan yang meningkat. Para ahli meteorologi memprediksi bahwa kondisi ini bisa berlanjut hingga akhir pekan, dengan hujan lebat yang berkelanjutan. Warga kota meminta pemerintah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki sistem pengairan dan membangun embung-embung tambahan di sekitar kawasan rawan banjir.

Kondisi ini juga memaksa sekolah dan kantor di beberapa area ditutup sementara. Anak-anak terpaksa mengikuti pembelajaran jarak jauh, sementara karyawan mengambil cuti. “Saya juga harus absen hari ini, karena jalan tidak bisa dilewati,” kata seorang pekerja di kawasan terdampak. Selain itu, jadwal kegiatan keagamaan dan sosial terganggu, termasuk perayaan hari raya yang biasanya dilaksanakan di luar rumah.

Warga mengapresiasi upaya pemerintah, tetapi menginginkan tindakan lebih cepat. “Kalau ada bantuan dari pihak berwenang, kondisi bisa lebih baik,” ujar Agus. Ia menyoroti perlunya pemantauan intensif dan koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat untuk menangani bencana alam yang sering terjadi. Banjir bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan masalah psikologis bagi masyarakat yang mengalami kerugian.

Sebagai respons, pihak berwenang sedang menyiapkan tim pemadam dan logistik untuk mendukung warga terdampak. Namun, tingkat keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan tetap menjadi faktor penting. “Kita semua harus peduli, karena banjir ini tidak akan pernah berhenti kalau tidak ada perubahan,” kata seorang pemuka masyarakat. Dengan demikian, upaya pengurangan banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat setempat.

Sebagai penutup, banjir Samarinda menjadi pengingat bahwa kota pesisir dan dataran rendah perlu lebih siap menghadapi cuaca ekstrem. Program penanggulangan bencana alam harus ditingkatkan, termasuk edukasi masyarakat tentang cara mengurangi risiko banjir di rumah. Semoga kondisi kembali normal segera, dan warga bisa melanjutkan kegiatan sehari-hari tanpa hambatan.

Leave a Comment