Pendaki Hilang di Gunung Seulawah, SAR Kerahkan Drone-Anjing Pelacak
Visit Agenda –
Banda Aceh, Beritasatu.com – Seorang pendaki bernama Faiz Hidayat (23), warga Desa Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, hilang saat melakukan pendakian di Gunung Seulawah, Kabupaten Aceh Besar. Untuk mencari korban, tim pencarian gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) dan instansi terkait telah diterjunkan ke lokasi. Perangkat teknologi seperti drone dan anjing pelacak menjadi bagian penting dalam upaya penyisiran.
Deteksi dan Operasi Darurat
Menurut Kepala Kantor SAR Banda Aceh, Ibnu Harris Al-Hussain, pihaknya menerima laporan hilangnya Faiz Hidayat pada Selasa (2/6/2026) pagi. “Tim kami segera bergerak ke lokasi kejadian setelah mendapat informasi tersebut,” kata Ibnu, dalam wawancara yang dilakukan dari Antara. Menurutnya, operasi pencarian dimulai setelah pihak kepolisian dan masyarakat sekitar melaporkan adanya kehilangan korban.
Korban Faiz Hidayat diduga hilang saat sedang berada di area puncak Gunung Seulawah. Gunung tersebut memiliki ketinggian 1.810 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan terletak di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Faiz turut serta dalam rombongan pendaki yang berangkat pada Minggu (31/5/2026). Setelah beberapa jam mendaki, mereka berhasil mencapai puncak, namun saat akan turun, Faiz tidak lagi ditemukan di antara rombongan.
“Rekannya menyebutkan korban terakhir terlihat di area puncak. Mereka sempat melakukan pencarian, tetapi hingga saat ini belum menemukan jejaknya,” ujar Ibnu.
Untuk mempercepat proses pencarian, tim SAR dilengkapi peralatan canggih seperti drone termal. Alat ini dirancang untuk mendeteksi suhu tubuh manusia dari udara, terutama berguna di area yang sulit dijangkau atau terkena hujan deras. Selain itu, anjing pelacak juga diterjunkan guna memperluas cakupan area penyisiran. Kombinasi antara teknologi dan keterampilan hewan peliharaan diharapkan bisa mempercepat lokasi korban.
Kolaborasi Tim Pencarian
Operasi mencari Faiz Hidayat tidak hanya melibatkan tim SAR Banda Aceh, tetapi juga kerja sama dengan polisi, Koramil Lembah Seulawah, serta petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Selain itu, masyarakat sekitar juga turut andil dalam upaya mencari korban. “Masyarakat lokal memiliki pengetahuan tentang jalur pendakian dan bisa membantu mengidentifikasi titik kemungkinan hilangnya pendaki,” tambah Ibnu.
Pendakian di Gunung Seulawah dikenal berisiko tinggi karena jalur yang curam dan kondisi lingkungan yang bisa berubah mendadak. Cuaca di kawasan tersebut seringkali tidak menentu, terutama di musim penghujan. Faiz, sebagai anggota rombongan yang terdiri dari beberapa pendaki, diduga terjebak di satu titik tertentu saat mempersiapkan langkah turun.
“Kami masih menunggu data lebih lanjut dari lapangan untuk menentukan titik fokus pencarian,” jelas Ibnu.
Dalam operasi ini, drone termal menjadi alat utama yang digunakan. Perangkat ini dapat mendeteksi panas tubuh manusia meskipun dalam kondisi cuaca buruk. “Dronedapat mengorbitkan area yang sulit dijangkau oleh manusia, sehingga mempercepat proses identifikasi,” katanya. Sementara itu, anjing pelacak digunakan untuk mengenali aroma atau jejak korban di sekitar lokasi yang kemungkinan besar menjadi titik terakhir korban terlihat.
Tim SAR juga mengungkapkan bahwa pencarian akan dilakukan secara intensif hingga korban ditemukan. “Kami berharap dapat menemukan Faiz dalam waktu dekat, terutama sebelum kondisi cuaca memburuk,” tambah Ibnu. Dia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam operasi, karena mereka lebih mengenal kondisi alam setempat.
Proses Pencarian yang Komprehensif
Secara keseluruhan, operasi pencarian melibatkan lebih dari satu puluh personel dari berbagai instansi. Mereka dibagi menjadi tim yang bertugas di lokasi dan tim yang berada di base camp untuk mengkoordinasikan strategi. “Peralatan seperti drone dan anjing pelacak memberi keuntungan signifikan dalam efisiensi pencarian,” kata Ibnu.
Selain peralatan teknologi, tim juga menggunakan metode tradisional seperti pemeriksaan manual di jalur pendakian. “Kami membagi area pencarian menjadi bagian-bagian kecil agar tidak ada titik yang terlewat,” jelasnya. Pencarian dianggap berat karena Gunung Seulawah memiliki hutan yang lebat dan medan yang tak terduga.
“Jalur pendakian di Gunung Seulawah bisa berubah karena lereng yang curam dan tumbuhan yang rapat. Ini memperumit proses mencari korban,” ujar Ibnu.
Di sisi lain, polisi dan Koramil setempat diberitakan telah melakukan pemeriksaan terhadap jejak pendaki di sekitar puncak. “Jejak kaki dan sisa bawaan pendaki bisa memberi petunjuk awal,” kata petugas dari Koramil Lembah Seulawah. BKSDA juga ikut membantu dalam mengendalikan hewan liar yang mungkin menghalangi jalur pencarian.
Pencarian di Gunung Seulawah yang berlangsung di tengah cuaca yang masih stabil memungkinkan tim untuk melakukan penelusuran lebih maksimal. Namun, jika hujan deras mengguyur kawasan, kegiatan bisa terganggu. “Kami terus memantau perubahan cuaca dan siap mengambil langkah darurat jika diperlukan,” kata Ibnu.
Kondisi Terkini dan Harapan
Sementara itu, keluarga Faiz Hidayat menyatakan kekhawatiran besar atas kehilangannya. “Kami berharap korban bisa ditemukan sebelum lembur musim hujan tiba,” ujar ayah Faiz, yang turut menemani tim pencarian di lokasi. Dia menambahkan bahwa Faiz dikenal sebagai pendaki yang berpengalaman, tetapi perjalanan di Gunung Seulawah tetap dianggap berbahaya.
Ibnu Harris Al-Hussain mengatakan bahwa tim SAR akan terus berupaya hingga korban ditemukan. “Pencarian ini merupakan tugas prioritas karena korban masih dalam kondisi yang tidak diketahui,” katanya. Pihaknya juga mengingatkan pendaki untuk selalu memperhatikan kondisi lingkungan sebelum memulai perjalanan.
Dalam beberapa hari terakhir, Gunung Seulawah sempat menjadi tempat peristiwa serupa. Pada Mei 2026, dua pendaki juga hilang di lokasi yang sama. “Kami memperbaiki strategi berdasarkan pengalaman sebelumnya,” kata Ibnu.
Saat ini, tim SAR masih terus mengumpulkan data dari area yang dilal
