Ototekno

New Policy: Harga Jual Mobil Bekas China Anjlok Lebih Cepat dari Brand Jepang

New Policy: Harga Jual Mobil Bekas Tiongkok Anjlok Lebih Cepat dari Brand Jepang New Policy - Seiring penerapan New Policy terbaru di sektor otomotif

Desk Ototekno
Published Juni 28, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy: Harga Jual Mobil Bekas Tiongkok Anjlok Lebih Cepat dari Brand Jepang

New Policy – Seiring penerapan New Policy terbaru di sektor otomotif Indonesia, nilai jual kembali mobil bekas Tiongkok, terutama model bensin (ICE), mengalami penurunan yang lebih tajam dibandingkan mobil dari merek Jepang. Fenomena ini menjadi sorotan dalam industri otomotif, terutama di pasar mobil bekas yang semakin kompetitif. Menurut Agung Iskandar, Direktur OLXmobbi, perbedaan depresiasi ini lebih terasa pada mobil Tiongkok yang telah beredar selama tiga hingga lima tahun terakhir.

Depresiasi Mobil Bekas Tiongkok vs. Brand Jepang

Dalam wawancara di Jakarta pada Jumat (26/6/2026), Agung mengatakan bahwa New Policy menyebabkan mobil bekas Tiongkok kehilangan nilai lebih cepat dari pesaing Jepang. “Kendaraan Tiongkok mengalami depresiasi sekitar 20%-30% lebih besar daripada mobil Jepang dalam waktu yang sama,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa meskipun keduanya berada dalam kelas serupa, mobil Jepang tetap lebih stabil karena reputasi merek yang lebih kuat.

“Contohnya, mobil Tiongkok seperti Wuling Cortez bisa mengalami penurunan hingga 8%-15% dalam setahun, sedangkan Toyota Kijang Innova hanya mengalami depresiasi sekitar 6%-10%,” tambah Agung. Hal ini menunjukkan bahwa New Policy telah memengaruhi preferensi konsumen dan dinamika pasar.

Kehadiran Brand Baru di Pasar Bekas Tiongkok

Pasca-New Policy, sejumlah merek Tiongkok lain seperti DFSK mulai merambah segmen pasar mobil bekas Indonesia. Namun, kontribusi DFSK masih terbatas karena jumlah unit yang beredar belum signifikan. “Mobil bekas DFSK mulai tercatat, tetapi masih belum mampu menyamai dominasi Wuling,” ujar Agung. Meski demikian, pertumbuhan brand baru ini memperlihatkan potensi untuk mempercepat pergeseran nilai jual kembali.

Agung menekankan bahwa New Policy tidak hanya mengubah pola harga, tetapi juga mendorong perbaikan kualitas produk Tiongkok. “Dengan adopsi New Policy, produsen Tiongkok mulai fokus pada inovasi dan keandalan, yang secara perlahan memengaruhi persepsi konsumen,” katanya. Namun, ia menyoroti bahwa proses ini membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan yang lebih kuat.

Faktor Pendorong Depresiasi Mobil Tiongkok

Menurut Agung, beberapa faktor menyebabkan mobil bekas Tiongkok lebih cepat anjlok di pasar. Pertama, kurangnya riwayat jual beli yang panjang di Indonesia. “Model baru Tiongkok masih dalam masa adaptasi, sehingga konsumen belum sepenuhnya mempercayai daya tahan dan kualitasnya,” katanya. Kedua, kebijakan New Policy mempercepat kompetisi dengan mobil Jepang yang sudah lebih dikenal.

Banyak konsumen masih lebih memilih mobil Jepang karena reputasi merek yang terbukti. “New Policy membuat mobilitas harga mobil Tiongkok lebih rentan dibandingkan pesaing Jepang,” ujarnya. Namun, Agung optimis bahwa kebijakan ini akan mendorong peningkatan kualitas produk Tiongkok secara bertahap.

Potensi Penyesuaian Nilai Jual di Masa Depan

Agung menilai bahwa New Policy memberi harapan untuk perbaikan nilai jual mobil bekas Tiongkok di masa depan. “Dengan usia kendaraan yang semakin panjang dan keandalan produk yang meningkat, mobil Tiongkok akan menjadi lebih kompetitif,” katanya. Ia menambahkan bahwa pergeseran ini bisa terjadi dalam beberapa tahun ke depan, terutama jika produsen terus meningkatkan kualitas.

Di sisi lain, dinamika pasar Indonesia yang semakin terbuka akan mempercepat adaptasi mobil Tiongkok. “New Policy mendorong persaingan yang sehat, dan mobil bekas Tiongkok sekarang bisa menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar,” ujarnya. Meski saat ini brand Jepang masih unggul, peran New Policy akan menentukan perjalanan mobil Tiongkok di pasar domestik.

Konteks Pasar dan Tantangan Merek Asing

Pasar mobil bekas Indonesia terus berkembang, dengan banyak konsumen mencari pilihan yang lebih terjangkau. Namun, New Policy menciptakan tantangan bagi mobil Tiongkok, terutama dalam membangun kepercayaan jangka panjang. “Harga jual mobil bekas Tiongkok yang anjlok bisa menjadi keuntungan untuk konsumen, tetapi juga mengurangi daya tarik bagi produsen,” kata Agung.

Dalam konteks ini, New Policy menjadi katalis perubahan. “Ini adalah titik balik untuk mobil Tiongkok di Indonesia, dan hasilnya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya. Dengan berbagai faktor seperti inovasi produk dan penyesuaian harga, mobil bekas Tiongkok berpotensi menjadi bagian dari pasar yang lebih seimbang.

Leave a Comment