Sinner Meraih Kemenangan Wimbledon Kedua Secara Beruntun Setelah Bangkit dari Kegagalan di Roland Garros
Key Issue – Jannik Sinner kembali membuktikan bahwa dirinya mampu bangkit dari keterpurukan. Setelah mengalami berbagai kesulitan di French Open, petenis asal Italia ini berhasil mempertahankan gelar tunggal putra di Wimbledon. Pada laga final yang berlangsung di All England Club, Minggu (12/7/2026), Sinner mengalahkan Alexander Zverev dengan skor empat set: 6-7 (7), 7-6 (2), 6-3, dan 6-4.
Kemenangan ini menandai gelar Wimbledon kedua bagi Sinner secara berturut-turut. Selain itu, trofi ini juga menjadi gelar Grand Slam kelima dalam perjalanan kariernya. Menurut laporan dari Associated Press, keberhasilan tersebut merupakan jawaban atas berbagai tantangan yang dihadapi Sinner di Paris. Untuk kedua kalinya secara beruntun, tekanan dan kegagalan di Prancis justru membuat petenis nomor satu dunia itu tampil lebih kuat di London.
Perjalanan Panjang Menuju Kemenangan di London
Selain tahun ini, Sinner juga pernah mengalami momen sulit di French Open. Setahun sebelumnya, ia harus bangkit setelah menyia-nyiakan tiga kesempatan untuk memenangkan pertandingan saat menghadapi Carlos Alcaraz dalam final. Kekalahan tersebut terjadi ketika Sinner juga berusaha membuktikan dirinya masih mampu menjuarai Grand Slam setelah menjalani larangan bertanding selama tiga bulan akibat kasus doping.
Tantangan pada tahun 2026 berbeda. Sinner harus membuktikan bahwa ia masih memiliki ketangguhan fisik untuk memenangi turnamen besar setelah mengalami keterpurukan di putaran kedua French Open. Kondisi gelombang panas di Paris menjadi salah satu faktor yang memengaruhi performanya. Rekor 30 kemenangan beruntun Sinner harus berakhir setelah kalah dari Juan Manuel Cerundolo, petenis yang saat itu menempati peringkat ke-56 dunia.
Sinner sebenarnya sempat berada dalam posisi unggul dan hanya berjarak satu gim dari kemenangan tiga set langsung. Namun, kondisinya menurun hingga akhirnya gagal menuntaskan pertandingan tersebut. Setelah kekalahan di Paris, Sinner menjalani pemeriksaan medis di Milan. Ia kemudian tidak memainkan pertandingan resmi hingga tiba di Wimbledon.
Resiliensi dan Kematangan Mental
Tantangan langsung datang pada pertandingan putaran pertama. Sinner dua kali harus bangkit setelah kehilangan set saat menjalani pertandingan lima set yang panjang melawan Miomir Kecmanovic. Setelah melewati pertandingan tersebut, Sinner tidak kehilangan satu set pun hingga mencapai final. Ia juga tampil dominan ketika menyingkirkan Novak Djokovic pada babak semifinal.
Darren Cahill, salah satu pelatih Sinner, menilai keberhasilan anak asuhnya menjadi bukti kematangan mental seorang petenis nomor satu dunia. “Itu menunjukkan kematangan pemain yang bekerja bersama kami. Dia mampu menerima pukulan berat seperti itu,” ujar Cahill.
Menurut Cahill, hal yang paling membanggakan dari Sinner adalah kemampuannya untuk segera bangkit setelah mengalami kegagalan besar. “Hal yang membuat kami paling bangga bekerja dengannya adalah cara dia bangkit dari situasi seperti itu. Kegagalan tidak membuatnya terpuruk terlalu lama,” katanya.
“Gelar ini sangat berarti karena sekali lagi saya melewati masa sulit setelah Paris. Saya bangga terhadap diri sendiri dan tim saya yang terus mendorong saya ke arah yang benar,” kata Sinner.
Gelar Wimbledon 2026 menjadi gelar Grand Slam kelima bagi Sinner. Cahill menilai gelar tersebut tidak harus dianggap lebih penting dibandingkan gelar Grand Slam lain yang telah diraih Sinner. Namun, kemenangan di London tetap memberikan kesan yang sangat istimewa. “Saya tidak berpikir gelar ini lebih penting daripada gelar lain yang pernah dimenanginya. Namun, kemenangan ini benar-benar terasa istimewa,” ujar Cahill.
Keberhasilan di final Wimbledon juga memperpanjang dominasi Sinner atas Zverev. Hasil tersebut menjadi kemenangan ke-10 secara beruntun Sinner atas petenis Jerman itu. Zverev datang ke Wimbledon setelah meraih gelar sebelumnya, namun ia terlihat mengalami masalah pada lututnya setelah terpeleset di lapangan rumput saat memainkan poin penting pada set ketiga.
Ketika pukulan forehand Sinner meluncur lurus di sepanjang garis pada kesempatan pertandingan pertamanya, petenis Italia itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke lapangan dengan posisi telentang. Perayaan tersebut terbilang emosional bagi Sinner yang biasanya dikenal tenang dan tidak banyak menunjukkan ekspresi ketika berada di lapangan.
Apa pun kesulitan yang diterimanya di ibu kota Prancis, Sinner justru makin kuat ketika menyeberangi Selat Inggris untuk berlaga di Wimbledon. Dalam final Wimbledon 2026, Sinner sempat kehilangan set pertama sebelum membalikkan keadaan. Perjalanan panjang dari Paris ke London ini membuktikan bahwa petenis berusia muda ini memiliki mental baja untuk menghadapi tekanan besar.
