Sport

Main Agenda: Lolos Final Wimbledon, Zverev Akhiri Perjalanan Arthur Fery

Zverev Raih Tiket Final Wimbledon, Mengakhiri Mimpi Arthur Fery Main Agenda - Alexander Zverev kembali membuktikan kualitasnya di kancah tenis dunia.

Desk Sport
Published Juli 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Zverev Raih Tiket Final Wimbledon, Mengakhiri Mimpi Arthur Fery

Main Agenda – Alexander Zverev kembali membuktikan kualitasnya di kancah tenis dunia. Setelah satu bulan menjuarai French Open, sang petenis asal Jerman ini kini telah mengamankan posisi di babak final turnamen Grand Slam berikutnya. Di laga semifinal yang berlangsung di All England Club pada hari Jumat, 10 Juli 2026, Zverev berhasil mengalahkan Arthur Fery dengan skor telak 7-6 (7-0), 6-2, dan 6-4. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri perjalanan spektakuler sang petenis tuan rumah yang mendapatkan kesempatan melalui wild card.

Petenis berusia 29 tahun tersebut mengungkapkan perasaannya setelah berhasil melaju ke final. Ia mengakui bahwa turnamen Grand Slam selalu menjadi tantangan terberat baginya. Namun kali ini, situasinya terasa berbeda. Zverev kini harus fokus pada satu pertandingan terakhir yang akan digelar pada hari Minggu mendatang.

“Grand Slam ini selalu menjadi turnamen yang paling sulit bagi saya. Tiba-tiba sekarang saya berada di final Wimbledon,” ujar Zverev. “Masih ada satu pertandingan lagi pada Minggu, dan itulah yang menjadi fokus saya,” tambahnya.

Pencapaian ini memiliki makna historis bagi Zverev. Setelah akhirnya meraih gelar Grand Slam pertamanya di Roland Garros melalui final keempatnya sepanjang karier, ia kini memiliki peluang besar untuk mencatatkan nama dalam sejarah tenis putra. Jika berhasil menang di final, Zverev akan menjadi pemain putra pertama di era profesional sejak tahun 1968 yang langsung merebut trofi Grand Slam kedua pada turnamen berikutnya setelah meraih gelar mayor pertamanya.

Di babak puncak yang dijadwalkan pada Minggu, 12 Juli 2026, Zverev akan menghadapi pemenang dari duel antara juara bertahan Jannik Sinner dan legenda tenis Novak Djokovic. Kedua petenis tersebut dijadwalkan bertanding di centre court setelah laga semifinal mereka. Dalam pertemuan terakhir mereka, Djokovic berhasil mengalahkan Sinner melalui pertandingan lima set yang berlangsung sengit di semifinal Australia Terbuka.

“Siapa pun lawannya nanti tidak akan mudah,” kata Zverev. “Namun, saya harus percaya kepada diri sendiri dan yakin bahwa saya bisa menang. Itulah yang akan saya lakukan,” tambahnya.

Sementara itu, Arthur Fery yang saat ini menempati peringkat ke-114 dunia memiliki kisah yang menarik. Ia tumbuh hanya sekitar lima menit perjalanan dari kompleks All England Club dan pernah mewakili Universitas Stanford. Fery berusaha menjadi penerima wild card pertama yang mencapai final Wimbledon sejak Goran Ivanisevic menjadi juara pada edisi 2001. Zverev memberikan pujian tinggi kepada petenis muda tersebut.

“Saya rasa ini baru permulaan kariernya dan saya benar-benar yakin dia akan melakukan banyak hal luar biasa dalam olahraga ini,” ujar Zverev memuji Fery.

Kondisi cuaca di wilayah barat daya London pada hari pertandingan cukup hangat dengan suhu mencapai sekitar 29 derajat celsius. Angin bertiup cukup kencang dan langit sedikit lebih berawan dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Zverev tampil sangat solid sejak awal pertandingan sehingga tidak memberi kesempatan kepada publik tuan rumah untuk membangkitkan semangat Fery. Sebuah double fault yang dilakukan Fery pada awal tiebreak set pertama membuat Zverev mengambil alih kendali pertandingan.

Petenis bertinggi badan 1,98 meter itu juga sangat dominan melalui servisnya yang mencapai kecepatan 224 kilometer per jam. Sebaliknya, Fery yang memiliki tinggi 1,75 meter mencatat kecepatan servis sekitar 193 kilometer per jam. Sepanjang pertandingan, para penonton Inggris terus memberikan dukungan kepada Fery dengan meneriakkan namanya di sela-sela poin sambil menikmati minuman Pimm’s di bawah topi bertepi lebar yang mereka kenakan.

Pada satu momen di awal pertandingan, wasit kursi Marijana Veljovic harus meminta penonton untuk tidak berteriak ketika reli sedang berlangsung. “Hadirin sekalian, mohon jangan bereaksi sampai poin selesai jika memungkinkan,” ujar Veljovic. Beberapa saat kemudian ia kembali mengingatkan, “Sekali lagi, mohon jangan bereaksi selama reli berlangsung. Hal itu sangat mengganggu kedua pemain,” yang kemudian disambut tepuk tangan para penonton.

Seusai pertandingan berakhir, Fery meninggalkan lapangan dengan mendapat standing ovation dan membalas apresiasi tersebut dengan tepuk tangan kepada para penonton. “Saya tahu 99,99 persen isi stadion menginginkan Arthur menang. Namun suasananya tetap luar biasa. Penontonnya juga sangat sportif,” kata Zverev. “Banyak penonton di berbagai belahan dunia bisa belajar dari penonton di sini. Ini adalah salah satu penonton terbaik untuk bermain tenis di hadapan mereka,” tambahnya.

Sebelum tahun ini, Zverev belum pernah melangkah lebih jauh dari babak keempat Wimbledon. Kini ia menjadi petenis putra Jerman pertama yang mencapai final Grand Slam lapangan rumput tersebut sejak Boris Becker kalah dari Pete Sampras pada final Wimbledon 1995. Petenis putra Jerman terakhir yang menjuarai Wimbledon adalah Michael Stich, yang mengalahkan Becker pada final edisi 1991. Becker yang tiga kali menjadi juara Wimbledon turut memberikan ucapan selamat kepada Zverev melalui akun X dengan menulis dalam bahasa Jerman, “Glückwunsch Sascha!!!”, menggunakan nama panggilan Zverev. Sementara itu, final tunggal putri yang berlangsung Sabtu akan mempertemukan dua petenis unggulan terbaik dunia.

Leave a Comment