Iran Murka Dituduh Menambang Selat Hormuz, Jerman Kena Semprot!
Meeting Results – Teheran, Beritasatu.com – Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mendapat reaksi tajam dari pemerintah Iran setelah menyatakan bahwa negara itu melakukan penambangan ilegal di Selat Hormuz. Tuduhan tersebut memicu kemarahan pihak Iran, yang menegaskan pernyataan Berlin merupakan distorsi fakta. Dalam konteks ini, sengketa memanas kembali seiring diskusi mengenai rencana misi internasional untuk membersihkan ranjau di wilayah strategis tersebut.
Kontroversi di Balik Tuduhan
Pernyataan Wadephul diungkapkan dalam wawancara dengan surat kabar Handelsblatt pada hari yang sama, Senin (6/7/2026). Ia menegaskan bahwa Iran seharusnya tidak menerima insentif keuangan jika negara-negara Eropa dan mitra internasional menyelesaikan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. “Kami tidak perlu menawarkan apa pun kepada Teheran. Justru sebaliknya. Iran telah menambang jalur pelayaran internasional secara tidak sah,” tegas Wadephul.
Kami tidak perlu menawarkan apa pun kepada Teheran. Justru sebaliknya. Iran telah menambang jalur pelayaran internasional secara tidak sah.
Pemimpin Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, langsung merespons dengan menyebut tuduhan tersebut sebagai sesuatu yang memalukan. Dalam unggahannya di akun media sosial X pada malam Senin, Baqai menyoroti bahwa pernyataan Wadephul merupakan distorsi realitas yang mengerikan. “Jerman harus menanggung biaya besar atas partisipasi aktifnya dalam kejahatan agresi,” tambah Baqai, dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (7/7/2026).
Baqai juga menuduh Berlin bertanggung jawab atas kejahatan perang terhadap rakyat Iran. Menurutnya, sikap ofensif dari rezim Berlin memungkinkan negara tersebut menghindari tanggung jawab atas perannya dalam operasi militer ilegal. “Tidak ada sikap ofensif yang memungkinkan rezim Berlin menghindari tanggung jawab atas perannya dalam perang ilegal ini,” katanya.
Strategi dan Tantangan Misi Internasional
Kontroversi ini terjadi di tengah perdebatan mengenai misi internasional untuk membersihkan ranjau dan memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Jerman menyatakan tetap terbuka untuk berkontribusi dalam operasi tersebut, namun menekankan perlunya dasar hukum dan politik yang jelas. Menurut Wadephul, musim panas tahun ini akan menjadi penentu apakah Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr memiliki peran yang layak dalam pembersihan ranjau.
Prasyaratnya adalah lingkungan yang cukup aman,” ungkapnya.
Wadephul juga menyatakan bahwa keberhasilan misi sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ia menekankan perlunya persetujuan dari negara-negara pesisir, terutama Oman dan Iran, sebelum operasi dimulai. “Pelaksanaan operasi tersebut juga membutuhkan persetujuan dari negara-negara pesisir, terutama Oman dan Iran,” tambahnya.
Kontingen Jerman di Selat Hormuz
Sebagai langkah persiapan, Jerman telah mengirimkan dua kapal, Fulda dan Mosel, dari kawasan Mediterania timur menuju Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut melintasi Terusan Suez sejak pertengahan Juni dan saat ini berada di Djibouti untuk mengisi logistik. Namun, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius pekan lalu menyatakan bahwa pihaknya masih mempertimbangkan kemungkinan menarik kembali kedua kapal tersebut.
Iran berulang kali menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz merupakan tanggung jawab negara-negara pesisir, bukan kekuatan asing. Pemerintah Teheran juga menolak keterlibatan militer asing dalam menjaga jalur pelayaran strategis itu. Sikap ini kembali ditegaskan di tengah meningkatnya pembahasan mengenai pembentukan misi internasional.
Dalam konteks geopolitik, Selat Hormuz menjadi pusat perhatian global karena menjalani lalu lintas minyak sekitar 20 persen dari total produksi dunia. Perselisihan antara Iran dan Jerman mengisyaratkan ketegangan yang semakin memanas, terutama dengan latar belakang serangan-serangan terhadap kapal-kapal perdagangan di wilayah tersebut. Pemerintah Iran menilai kehadiran militer asing, seperti Jerman, mengganggu keutuhan wilayahnya.
Selain itu, pemerintah Iran menekankan bahwa ranjau di Selat Hormuz berasal dari operasi militer yang dilakukan rezim mereka. “Kami akan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh rezim tersebut,” kata Wadephul dalam pernyataan sebelumnya.
Kontroversi ini memperlihatkan dinamika hubungan antara Iran dan Jerman yang terus berubah. Meski Jerman menunjukkan dukungan untuk operasi pembersihan ranjau, Iran tetap berpegang pada prinsip bahwa negara-negara luar kawasan tidak boleh memproyeksikan kekuatan militernya tanpa izin. “Tidak ada insentif yang layak untuk Teheran jika operasi dilakukan tanpa dasar yang jelas,” ujar Wadephul dalam wawancara tersebut.
Kebijakan Iran menekankan bahwa ranjau di wilayah strategis tersebut adalah hasil dari kebijakan pertahanan mereka. Pernyataan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menjaga kepentingan nasional dan mengurangi ketergantungan pada pihak luar. “Kami tidak perlu menawarkan apa pun kepada Teheran. Justru sebaliknya. Iran telah menambang jalur pelayaran internasional secara tidak sah,” tegas Wadephul, kembali mengulangi argumennya.
