Ekonomi

Latest Program: Bursa Jepang dan Korea Selatan Cetak Rekor Tertinggi Baru

Bursa Jepang dan Korea Selatan Cetak Rekor Tertinggi Baru Latest Program - Jakarta, Beritasatu.com – Pasar saham Jepang dan Korea Selatan mengalami kenaikan

Desk Ekonomi
Published Mei 29, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Bursa Jepang dan Korea Selatan Cetak Rekor Tertinggi Baru

Latest Program – Jakarta, Beritasatu.com – Pasar saham Jepang dan Korea Selatan mengalami kenaikan signifikan pada hari ini, Jumat (29/5/2026), dalam perdagangan yang dipengaruhi oleh harapan optimis investor mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran selama 60 hari. Ini membawa perubahan positif yang terlihat di berbagai bursa global, dengan mayoritas indeks saham menguat. Meski harga minyak dunia mengalami penurunan ringan, levelnya masih tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah. Analyst menegaskan bahwa rencana perpanjangan gencatan senjata harus diawasi secara teliti, karena pemulihan pasokan minyak global diperkirakan tidak akan terjadi dengan cepat.

Pasar Asia: Optimisme Terekam dalam Kinerja Saham

Di kawasan Asia, peningkatan optimisme terhadap kemitraan geopolitik AS-Iran terasa jelas. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,5 persen, mencapai level tertinggi sepanjang masa yaitu 66.329,50. Kenaikan ini didukung oleh data inflasi inti Tokyo yang menunjukkan pertumbuhan lebih lambat dari proyeksi ekonom. Sementara di Korea Selatan, indeks Kospi mengalami penguatan mencolok sebesar 3,6 persen, ditutup pada level 8.476,15. Penguatan ini terutama dipimpin oleh sektor teknologi, yang mendapat momentum dari pertumbuhan kecerdasan buatan atau AI.

“Para negosiator AS dan Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus menggelar putaran baru pembicaraan terkait program nuklir Iran,” kata seorang pejabat AS.

Kesepakatan tersebut masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak Iran dan persetujuan akhir yang akan diambil setelah keputusan Presiden Donald Trump. Dengan harapan perjanjian ini bisa memperkuat stabilitas global, investor mulai menaruh perhatian pada risiko perang yang mungkin terulang. Namun, meski ada keuntungan, kenaikan di bursa Jepang dan Korea Selatan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi domestik, seperti penurunan inflasi inti dan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Alih-alih Minyak, Investor Mencari Peluang di Sektor Teknologi

Meski harga minyak dunia turun tipis, levelnya tetap tinggi dibandingkan sebelum konflik memicu ketegangan. Para analis menilai bahwa penguatan pasokan minyak global tidak akan terjadi secepat yang diharapkan, sehingga pasar saham cenderung tetap terpanggil pada sektor-sektor yang menawarkan pertumbuhan lebih stabil. Di Korea Selatan, penguatan Saham Samsung Electronics, perusahaan teknologi terbesar, mencapai 5,8 persen, menunjukkan kembali kepercayaan pasar terhadap inovasi dan ekspansi global.

Sektor teknologi di Korea Selatan menjadi pendorong utama kenaikan Kospi. SK Hynix, produsen chip yang tercatat di bursa, menguat 1,9 persen, didukung oleh meningkatnya permintaan akan perangkat keras AI. Bursa saham di Tiongkok juga mencatat kenaikan di beberapa sektor, tetapi indeks Shanghai Composite justru turun 0,7 persen menjadi 4.068,57. Kinerja negatif ini menunjukkan ketidakpastian yang masih menghiasi negosiasi antara Beijing dan Washington terkait trade war serta kebijakan keuangan.

Kenaikan Pasar di Luar Asia: Kekuatan Regional dan Tekanan Global

Berbeda dengan Tiongkok, pasar saham Australia bergerak positif dengan indeks S&P/ASX 200 naik 1,6 persen ke level 8.731,70. Penguatan ini terjadi setelah kenaikan permintaan dari industri konstruksi dan energi terbarukan. Di Taiwan, indeks Taiex juga mengalami kenaikan 2,5 persen, menunjukkan kepercayaan yang sedikit meningkat meski ada tekanan dari sanksi internasional terhadap produsen semikonduktor. Sementara itu, di India, indeks Sensex turun 0,5 persen, mencerminkan ketidakpuasan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi yang lambat dan kenaikan harga bahan bakar minyak.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng naik 0,7 persen menjadi 25.182,39, mengikuti tren kenaikan di Asia Tenggara. Namun, kenaikan ini tidak bisa menyembunyikan ketegangan politik yang menggantung di atas kepulauan tersebut. Pasar saham Singapura juga mengalami penguatan, dengan indeks Straits Times naik 1,2 persen, menunjukkan dorongan dari sektor keuangan dan perdagangan. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa investor semakin berpindah fokus dari kerentanan geopolitik ke peluang investasi dalam sektor teknologi dan keuangan.

Kebijakan AS dan Iran: Faktor Kunci dalam Stabilitas Pasar

Perhatian pasar saat ini sebagian besar tertuju pada negosiasi antara AS dan Iran. Seorang pejabat AS menegaskan bahwa para negosiator kedua negara telah meraih kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, sambil menyiapkan putaran berikutnya mengenai program nuklir Iran. Namun, pihak Iran belum memberikan konfirmasi resmi, sehingga keputusan akhir masih bergantung pada Presiden Donald Trump.

Kebijakan ini memiliki dampak besar terhadap ketidakpastian global. Pemimpin pasar saham Asia, Jepang dan Korea Selatan, menunjukkan reaksi positif terhadap harapan perang akan segera berakhir. Dengan konsistensi penguatan, bursa saham di dua negara tersebut menjadi contoh bagaimana keterlibatan geopolitik bisa memperkuat kepercayaan investor. Meski demikian, analis menekankan bahwa pasca-gencatan senjata, kestabilan harga minyak dan tekanan ekonomi global tetap menjadi faktor penentu.

Kebutuhan Monitoring dan Persiapan Pasar Global

Ketegangan antara AS dan Iran tidak hanya memengaruhi pasar Asia, tetapi juga menyentuh sektor-sektor yang terkait dengan energi dan teknologi. Dengan kenaikan signifikan di bursa Jepang dan Korea Selatan, investor mengambil kesempatan untuk memperluas portofolio ke sektor-sektor yang menawarkan pertumbuhan lebih cepat. Namun, para analis menyarankan bahwa penguatan ini masih perlu diawasi, karena kenaikan harga minyak dunia belum sepenuhnya stabil.

Penguatan pasar saham di sejumlah negara seperti Australia dan Hong Kong menunjukkan bahwa ekonomi regional sedang menemukan titik stabil. Meski demikian, penurunan di Tiongkok dan India mengingatkan bahwa perekonomian dunia masih rentan terhadap perubahan politik dan gejolak ekonomi global. Peningkatan optimisme mengenai perpanjangan gencatan senjata AS-Iran juga berpotensi meningkatkan kembali arus investasi ke Asia, yang sebelumnya terhambat oleh ketidakpastian perdagangan dan politik.

Dengan data inflasi Jepang yang lebih rendah dari ekspektasi, pasar Tokyo mengalami aliran dana yang lebih luas ke sektor teknologi dan konsumen. Di Korea Selatan, keberhasilan Samsung dan SK Hynix menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar masih mampu menarik investasi meski ada tekanan dari krisis geopolitik. Dengan memperhatikan kondisi pasar dan kebijakan luar negeri, investor di Asia

Leave a Comment