Mangut Lele Berlatar Gunung Menoreh Ramai Diburu Turis di Yogyakarta
Special Plan – Kulonprogo, Beritasatu.com – Selama masa liburan, pengunjung Yogyakarta sering mencari pengalaman kuliner yang berbeda. Salah satu tempat yang menarik perhatian adalah Rumah Makan Dadap Sumilir di Pendoworejo, Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo. Tempat ini menjadi favorit wisatawan yang ingin menikmati makanan khas sambil menghirup udara segar dari alam sekitar. Dengan latar belakang Pegunungan Menoreh, restoran ini menggabungkan keindahan panorama alam dan rasa tradisional yang lezat.
Posisi Rumah Makan Dadap Sumilir yang berada di tepi area pertanian memberikan kesan tenang dan alami. Pengunjung dapat merasakan suasana khas desa sambil menikmati hidangan yang dibuat dari bahan-bahan lokal, khususnya ikan dari Sungai Progo. Kombinasi antara bumbu rempah kuat dan kuah santan yang kental menciptakan rasa unik yang khas. Menu utama seperti mangut lele dan nila Progo selalu menjadi incaran banyak orang, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pemandangan dan Rasa yang Memikat
Menurut Aji Pangarep, pengelola restoran, bahan-bahan yang digunakan sepenuhnya berasal dari hasil tangkapan alami. “Kita tidak menggunakan bahan buatan, semuanya dari alam langsung,” jelasnya saat diwawancarai Beritasatu.com, Sabtu (4/7/2026). Meski metode masaknya sederhana, bumbu khas yang digunakan memperkaya cita rasa makanan. Terutama pada sambal yang menggabungkan rempah lokal, membuat mangut lele dan nila terasa lebih spesial.
“Masakan ini tidak hanya enak, tetapi juga menggambarkan kehidupan sehari-hari leluhur kami,” ujar Aji. “Dengan mempertahankan resep tradisional, kita bisa merasakan budaya yang sudah ada sejak dulu.”
Menurut Aji, olahan ikan seperti mangut nila dan lele menjadi menu utama yang paling dicari. “Kita memperkuat bumbu sambal agar lebih terasa, sementara ikan hanya dimasak dengan cara tradisional,” imbuhnya. Kuah santan yang dihiasi rempah kuat memberikan rasa gurih dan pedas yang memikat, sementara aroma asap dari proses memasak menambah kesan autentik.
Selain mangut, restoran ini juga menyajikan makanan tradisional lain seperti sego wiwit dan sego takir. Hidangan-hidangan ini tidak hanya menghadirkan rasa leluhur, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan kearifan lokal. “Kami ingin agar masyarakat muda tetap mengenal makanan khas Kulonprogo,” kata Aji. Dengan menawarkan menu seperti ini, restoran berusaha memperkenalkan warisan kuliner yang kini sedikit langka.
Pelengkap yang Membawa Kenangan
Untuk menambah pengalaman, restoran ini menyediakan wedang cakruk, minuman tradisional yang dibuat dari bahan-bahan rempah seperti jahe, kayu manis, dan daun ketimun. Minuman ini sangat cocok untuk dinikmati saat suasana sore semakin sejuk. “Wedang cakruk ini dipercaya bisa menghangatkan tubuh dan menjaga energi,” tambah Aji.
Salah seorang pengunjung, Chalisa (19), menyatakan bahwa ia tidak hanya tertarik pada kelezatan makanan, tetapi juga suasana alam yang menenangkan. “Lokasi ini cocok untuk melepas penat setelah mengunjungi tempat wisata lainnya,” kata Chalisa, warga Purworejo, Jawa Tengah. Ia menilai, mangut lele dan nila Progo menawarkan sensasi berbeda karena campuran rasa dan aroma yang khas.
“Makanan ini memberikan kesan berbeda dari yang biasa saya temui. Rasa dan pemandangan membuat pengalaman liburan lebih lengkap,” ujarnya. “Selain lezat, saya juga merasa lebih segar setelah mencicipi hidangan ini.”
Kehadiran restoran ini juga memberikan peluang untuk melihat kehidupan masyarakat setempat. “Pengunjung bisa memahami bagaimana makanan dibuat secara tradisional,” tambah Aji. Proses memasak yang tidak terburu-buru dan bahan-bahan segar memperkuat kualitas menu. Meski banyak wisatawan yang mencari keunikan, harga makanan di restoran ini tetap terjangkau.
Menurut data yang diberikan, harga untuk satu porsi sego wiwit atau sego takir berkisar antara Rp16.000 hingga Rp23.000. Sedangkan untuk aneka olahan ikan, seperti mangut lele dan nila, dibanderol mulai dari Rp12.000 hingga Rp23.000 per porsi. “Harga ini terjangkau, tetapi kualitasnya tetap terjaga,” kata Aji. Dengan biaya yang murah, pengunjung dapat merasakan rasa autentik tanpa menguras dompet.
Perpaduan antara pemandangan hijau persawahan dan keunikan masakan membuat Rumah Makan Dadap Sumilir menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Selama libur akhir pekan dan masa sekolah, tempat ini selalu ramai. “Banyak orang yang memilih restoran ini karena kombinasi rasa dan alam,” tutur Aji. Selain itu, restoran juga menjadi tempat favorit untuk berburu makanan khas Kulonprogo, sekaligus mengakses suasana alam yang tenang.
Pengunjung kerap menyebutkan bahwa sensasi menghirup udara segar sambil menikmati hidangan ini adalah pengalaman tak terlupakan. “Saya selalu mengingat aroma santan dan bumbu yang memadu harmonis,” kata Chalisa. “Kombinasi ini memberikan rasa nostalgia yang membuat saya ingin kembali.” Kehadiran restoran ini tidak hanya memperkaya pilihan kuliner di Yogyakarta, tetapi juga menjadi bukti bahwa warisan leluhur bisa tetap relevan dalam era modern.
Sebagai tambahan, pemandangan dari pegunungan yang mengelilingi restoran juga menjadi daya tarik. Wisatawan yang ingin mencoba masakan khas sering memanfaatkan waktu di sini untuk menikmati suasana alam yang indah. “Liburan ke Yogyakarta tidak lengkap jika tidak mencoba mangut lele di sini,” ungkap Chalisa. “Saya rasa ini tempat yang wajib dikunjungi.”
Dengan menjaga konsistensi dalam penggunaan bahan lokal dan metode masak tradisional, Rumah Makan Dadap Sumilir terus menarik minat wisatawan. “Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan kuliner masyarakat,” tambah Aji. Pemandangan alam yang menenangkan, ditambah rasa masakan yang memikat, menjadikan tempat ini sebagai destin
