Suhu Yogyakarta Berubah Ekstrem, BMKG Beberkan Penyebabnya
Special Plan – Dalam beberapa hari terakhir, cuaca di Yogyakarta mengalami perubahan suhu yang sangat mencolok. Pada malam hari dan dini hari, suhu terasa dingin, namun saat siang hari, udara justru terasa panas. Fenomena ini tidak terjadi secara acak, melainkan merupakan bagian dari pola musim kemarau yang sedang berlangsung. Untuk menjelaskan hal ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai alasan di balik perbedaan suhu yang signifikan di wilayah tersebut.
Faktor Penyebab Perubahan Suhu Ekstrem
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menjelaskan bahwa suhu yang berubah drastis dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang sedang dominan. Faktor utama adalah cuaca yang cerah di siang hari serta rendahnya tingkat kelembapan udara. “Saat ini kelembapan terendah berkisar 50 hingga 55 persen,” kata Reni saat diwawancara, Senin (6/7/2026). Dalam kondisi ini, radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi secara intens, sehingga suhu udara meningkat lebih cepat dibanding masa normal.
“Minimnya tutupan awan menyebabkan sinar matahari masuk dengan bebas, membuat suhu siang hari menjadi terik,” ujar Reni.
Di sisi lain, saat malam hari, suhu udara turun tajam karena panas yang terakumulasi di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer. Reni menambahkan, kondisi ini terjadi karena tidak adanya lapisan awan yang menghambat radiasi panas. “Begitu juga di malam hari, suhu yang menurun lebih ekstrem karena radiasi matahari tidak lagi menghangatkan permukaan bumi,” jelasnya.
Pengaruh Angin Muson Timur
Perubahan suhu ekstrem di Yogyakarta juga dipengaruhi oleh angin muson timur yang bertiup dari Australia. Angin ini membawa udara kering dan relatif sejuk ke wilayah Jawa Tengah. “Dampaknya, udara terasa lebih panas di siang hari karena radiasi matahari yang intens, tetapi menjadi dingin saat malam hari,” terang Reni.
Menurutnya, kondisi cuaca cerah dan angin muson timur memperparah perbedaan suhu antara siang dan malam. Hal ini terjadi karena aliran udara yang sejuk membawa massa udara dingin, sementara radiasi matahari menghangatkan permukaan bumi secara langsung. “Kombinasi dua faktor ini menciptakan perbedaan suhu yang cukup besar dalam sehari,” lanjut Reni.
Wilayah Paling Terkena Perbedaan Suhu
Reni menjelaskan bahwa perbedaan suhu antara siang dan malam lebih terasa di daerah yang jauh dari pantai serta kawasan dataran tinggi. “Terutama di wilayah yang agak jauh dari pantai atau berada di dataran lebih tinggi, seperti Sleman bagian utara, suhu cenderung bervariasi signifikan,” tambahnya.
Wilayah Sleman, misalnya, memiliki ketinggian yang lebih tinggi dibanding area lain di Yogyakarta. Karena itu, udara di sana lebih mudah terpengaruh oleh perubahan cuaca dan angin muson. “Kondisi ini membuat perbedaan antara siang dan malam lebih terasa dibanding daerah pesisir atau dataran rendah,” jelas Reni.
Rekomendasi BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan perubahan cuaca yang cukup drastis. Dalam kondisi suhu panas di siang hari, Reni menyarankan penggunaan pelindung diri seperti topi atau payung untuk mengurangi paparan sinar matahari secara langsung. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi.
Sementara itu, pada malam hari dan dini hari, suhu yang dingin memerlukan penyesuaian pakaian. Reni menekankan pentingnya mengenakan pakaian hangat, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. “Kondisi cuaca ekstrem bisa memengaruhi kesehatan, jadi masyarakat perlu waspada,” imbuhnya.
Kondisi Cuaca dan Dampaknya
BMKG menyebut bahwa cuaca ekstrem seperti ini umum terjadi selama musim kemarau. Kondisi ini berdampak pada kebutuhan penyesuaian aktivitas, baik untuk pekerjaan maupun kegiatan sehari-hari. “Suhu yang mendadak berubah bisa memicu efek kesehatan, seperti kelelahan atau sakit kepala, jika tidak diperhatikan,” kata Reni.
Kondisi ini juga memengaruhi pola hidup masyarakat. Saat siang hari yang terik, aktivitas luar ruangan perlu diatur agar tidak terlalu berlebihan. Di sisi lain, pada malam hari, masyarakat disarankan untuk mengurangi kegiatan yang menguras energi, terutama jika kelelahan akibat cuaca panas hari sebelumnya.
Reni menambahkan, perubahan suhu ekstrem bisa terjadi karena adanya keseimbangan antara radiasi matahari dan hembusan angin. “Cuaca yang cerah mempercepat peningkatan suhu siang hari, sementara angin muson timur membantu menurunkan suhu di malam hari,” ujarnya.
BMKG mengingatkan bahwa perubahan cuaca ini tidak hanya terasa di Yogyakarta, tetapi juga memengaruhi wilayah sekitarnya. “Karena itu, warga perlu memperhatikan prakiraan cuaca dan siapkan perlengkapan yang sesuai,” kata Reni. Ia berharap masyarakat bisa lebih adaptif terhadap kondisi cuaca yang sering berubah selama musim kemarau.
Di samping itu, BMKG juga menyoroti pentingnya pemantauan cuaca terus-menerus. “Kita perlu memastikan bahwa semua faktor yang memengaruhi suhu udara tercatat secara akurat,” jelas Reni. Ia menyebut bahwa data cuaca yang diperoleh dari sensor dan pengamatan langsung sangat berperan dalam memberikan informasi yang tepat kepada publik.
Kondisi cuaca ekstrem di Yogyakarta saat ini menjadi sorotan karena banyak warga yang mengeluhkan perbedaan suhu yang terasa tajam. BMKG memberikan penjelasan yang jelas dan terbuka untuk membantu masyarakat memahami fenomena tersebut. Dengan memahami penyebab dan dampak perubahan su
