Ekonomi

Special Plan: Impor Indonesia Mei 2026 Melonjak 22,16 Persen

Special Plan: an - Jakarta, Beritasatu.com – Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia pada bulan Mei 2026 mengalami

Desk Ekonomi
Published Juli 1, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Impor Indonesia Mei 2026 Melonjak 22,16 Persen

Special Plan – Jakarta, Beritasatu.com – Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia pada bulan Mei 2026 mengalami kenaikan signifikan sebesar 22,16% dibandingkan bulan Mei 2025. Meskipun ada peningkatan ini, China tetap menjadi negara utama penyuplai barang impor ke Indonesia hingga Januari-Mei 2026. Angka impor yang mencapai US$ 24,81 miliar menggambarkan tren pertumbuhan yang terus berlangsung, meski pihak BPS juga menyoroti variasi dalam komposisi impor.

Pertumbuhan Impor Tahunan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa impor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$ 24,81 miliar. Jumlah ini naik 22,16% dibandingkan Mei 2025. Pertumbuhan ini tidak terlepas dari dinamika global dan kebutuhan domestik yang semakin meningkat. Sejalan dengan itu, impor nonmigas pada bulan tersebut mencatat kenaikan sebesar 14,89% menjadi US$ 20,30 miliar.

“Nilai impor Indonesia Mei 2026 mencapai US$ 24,81 miliar atau naik 22,16% dibandingkan Mei 2025,” ujar Ateng Hartono. Peningkatan ini mencerminkan intensitas kegiatan perekonomian yang melibatkan aliran barang masuk dari luar negeri.

Kelompok impor nonmigas juga mengalami peningkatan 13,16% hingga Januari-Mei 2026, dengan total mencapai US$ 93,88 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa sektor, terutama bahan baku dan barang penolong yang menunjukkan kenaikan tertinggi sebesar US$ 10 miliar atau 14,41%. Sementara impor barang modal tumbuh 17,53% dengan nilai mencapai US$ 3,30 miliar, dan impor barang konsumsi naik 17,05% sebesar US$ 1,43 miliar.

Komoditas yang Mengalami Peningkatan

Dalam kategori komoditas tertentu, kelompok mesin, peralatan mekanis, dan komponennya menjadi item impor dengan pertumbuhan tertinggi. Jumlah impornya meningkat US$ 2,34 miliar atau 16,92% dibandingkan Januari-Mei 2025. Di sisi lain, kelompok logam mulia serta perhiasan atau permata mencatatkan penurunan terbesar, dengan nilai impor turun US$ 0,35 miliar atau 10,99%. Fenomena ini menunjukkan pergeseran preferensi konsumen dan produsen di sektor kecil.

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia Januari-Mei 2026 mencapai US$ 111,33 miliar atau naik 15,24% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Impor nonmigas hingga Mei 2026 mencapai US$ 93,88 miliar, meningkat 13,16% dibandingkan Januari-Mei 2025. Angka ini menunjukkan kebutuhan industri dan sektor jasa yang terus bertambah sepanjang semester pertama tahun ini.

Penyuplai Utama Impor Nonmigas

Dari sisi negara asal, China tetap memegang posisi pertama sebagai penyuplai impor nonmigas terbesar ke Indonesia. Nilai impornya mencapai US$ 39,27 miliar, yang berkontribusi 41,83% terhadap total impor nonmigas hingga Mei 2026. Jepang menempati peringkat kedua dengan nilai impor sebesar US$ 5,17 miliar atau 5,51% dari total, sementara Australia berada di posisi ketiga dengan US$ 5,02 miliar atau 5,35%.

Kawasan ASEAN juga berkontribusi signifikan, dengan nilai impor mencapai US$ 13,97 miliar atau 14,88%. Uni Eropa menyumbang US$ 6,19 miliar atau 6,59% dari total impor nonmigas. Dengan keberagaman sumber impor ini, Indonesia menciptakan ketergantungan ekonomi yang seimbang antara negara-negara Asia, Eropa, dan Oseania.

Analisis Kenaikan Impor

Pertumbuhan impor yang terjadi pada Mei 2026 mencerminkan kebutuhan eksporir domestik untuk mengisi kekurangan persediaan. Bahan baku dan barang penolong tercatat sebagai kelompok impor dengan pertumbuhan terbesar, menunjukkan bahwa sektor manufaktur dan industri masih membutuhkan bantuan logistik dari luar. Meskipun ada kenaikan signifikan, neraca perdagangan Indonesia selama Januari-Mei 2026 masih menunjukkan surplus sebesar US$ 4,03 miliar.

Surplus ini didorong oleh sektor nonmigas yang mencatatkan surplus US$ 16,31 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit sebesar US$ 12,28 miliar. Fenomena ini mencerminkan keseimbangan antara ekspor migas yang kuat dan pertumbuhan impor nonmigas yang diiringi oleh permintaan lokal yang meningkat. Meskipun impor nonmigas tumbuh 13,16% hingga Mei 2026, kinerja ekspor dalam sektor nonmigas tetap mampu menjaga posisi surplus.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa impor Indonesia dalam Januari-Mei 2026 mencapai US$ 111,33 miliar, menandai peningkatan stabil dari tahun sebelumnya. Meskipun tidak semua kelompok impor menunjukkan peningkatan serupa, beberapa sektor seperti peralatan mesin dan bahan baku menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Data ini menjadi indikator penting dalam mengevaluasi kinerja ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.

Kenaikan impor terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis, termasuk perubahan harga komoditas dan permintaan pasar. Meski impor meningkat, tingkat surplus perdagangan Indonesia menunjukkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara masuk dan keluar barang. Hal ini memberikan harapan bahwa pertumbuhan ekonomi akan

Leave a Comment